• Home
  • Services
  • Pages
    • About 1
    • About 2
    • About 3
    • About 4
    • Our Team
    • Contact 1
    • Contact 2
    • Service 1
    • Service 2
    • Service 3
  • Portfolio
    • Column One
      • Portfolio Classic
      • Portfolio Grid
      • Portfolio Grid Overlay
      • Portfolio 3D Overlay
      • Portfolio Contain
    • Column Two
      • Portfolio Masonry
      • Portfolio Masonry Grid
      • Portfolio Coverflow
      • Portfolio Timeline Horizon
      • Portfolio Timeline Vertical
    • Column Four
      • Single Portfolio 1
      • Single Portfolio 2
      • Single Portfolio 3
      • Single Portfolio 4
      • Single Portfolio 5
    • Column Three
      • Video Grid
      • Gallery Grid
      • Gallery Masonry
      • Gallery Justified
      • Gallery Fullscreen
  • Blog
    • Blog Grid No Space
    • Blog Grid
    • Blog Masonry
    • Blog Metro No Space
    • Blog Metro
    • Blog Classic
    • Blog List
    • Blog List Circle
  • Slider
    • Column One
      • Vertical Parallax Slider
      • Animated Frame Slider
      • 3D Room Slider
      • Velo Slider
      • Popout Slider
      • Mouse Driven Carousel
    • Column Two
      • Clip Path Slider
      • Split Slick Slider
      • Fullscreen Transition Slider
      • Flip Slider
      • Horizon Slider
      • Synchronized Carousel
    • Column Three
      • Multi Layouts Slider
      • Split Carousel Slider
      • Property Clip Slider
      • Slice Slider
      • Parallax Slider
      • Zoom Slider
    • Column Four
      • Animated Slider
      • Motion Reveal Slider
      • Fade up Slider
      • Image Carousel Slider
      • Glitch Slideshow
      • Slider with other contents
  • Shop

September 9, 2023

Journalist Network 2023
Relasi Indonesia-Korsel Hadapi Tantangan Multilateralisme

Indonesia dan Korsel masih berpeluang menjalin kerja sama yang lebih strategis. Setelah penandatanganan IK-CEPA, kerja sama Korsel dan Indonesia sangat dekat.

Oleh DIAN DEWI PURNAMASARI

Duta Besar RI di Seoul Gandi Sulistiyanto (kanan), Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri Abdul Kadir Jailani (tengah), dan Duta Besar Korea Selatan di Jakarta Lee Sang Deok meluncurkan logo perayaan 50 tahun hubungan RI-Korsel, Kamis (26/1/2023). Indonesia satu-satunya mitra strategis Korsel di Asia Tenggara.

Duta Besar RI di Seoul Gandi Sulistiyanto (kanan), Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri Abdul Kadir Jailani (tengah), dan Duta Besar Korea Selatan di Jakarta Lee Sang Deok meluncurkan logo perayaan 50 tahun hubungan RI-Korsel, Kamis (26/1/2023). Indonesia satu-satunya mitra strategis Korsel di Asia Tenggara.

Hubungan kerja sama antara Indonesia dan Korea Selatan yang dimulai sejak 1973 kini telah berumur 50 tahun. Kedua negara yang terpisah dan dihubungkan oleh Samudra Hindia dan Samudra Pasifik itu menghadapi tantangan erosi multilateralisme untuk memperkuat kemitraan strategisnya. Namun, para pakar meyakini hubungan erat di masa lalu justru bisa menguatkan relasi di 50 tahun mendatang.

Hal itu diungkapkan Deputi Direktur Asia Timur Kementerian Luar Negeri Vahd Nabyl A Mulachela saat seminar bertema ”Membangun Jembatan: Menilai Masa Lalu dan Membentuk Masa Depan Relasi Indonesia-Korea” yang diselenggarakan program Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea, Rabu (2/8/2023) lalu. Indonesia Next Generation Journalist Network on Korea 2023 adalah program fellowship kerja sama Korea Foundation dan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI).

Nabyl menuturkan, diplomasi Indonesia dengan Korsel memang lebih belakangan jika dibandingkan diplomasi Indonesia dengan Korea Utara. Namun, sejak 2006, kerja sama strategis, terutama dalam bidang perdagangan minyak dan tenaga kerja, terjalin erat antara Indonesia dan Korsel. Kemudian, pada 2017, Indonesia menjalin kemitraan spesial dan strategis dengan Korsel.

Ia menambahkan, tahun 2019, Indonesia dan ”Negeri Ginseng” menandatangani Deklarasi Bersama Penyelesaian Perundingan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Korea Selatan atau IK-CEPA. Indonesia meyakini IK-CEPA dapat menopang transformasi ekonomi Indonesia karena peluang kerja sama tidak sebatas perdagangan barang, tetapi juga jasa, investasi, dan kerja sama ekonomi lain.

Deputi Direktur Asia Timur Kementerian Luar Negeri Indonesia Vahd Nabyl A Mulachela saat lokakarya bertema ”Membangun Jembatan: Menilai Masa Lalu dan Membentuk Masa Depan Relasi Indonesia-Korea” yang diselenggarakan dalam rangkaian program Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea, Rabu (2/8/2023).

Tantangan

Meskipun demikian, relasi kedua negara juga mengalami tantangan yang tak mudah. Persoalan utamanya adalah erosi multilateralisme. Fenomena itu terjadi karena dampak perang berkepanjangan Rusia-Ukraina, pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19, dan perubahan iklim. Contohnya, untuk bisa masuk dalam wadah bergensi forum iklim dunia, kata Nabyl, Indonesia pun masih perlu menyesuaikan sejumlah regulasi.

”Erosi multilateralisme adalah permasalahan tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu negara. Semua negara saling tergantung sehingga apa yang terjadi di suatu negara akan berdampak di negara lain, terutama dampak konflik yang disebabkan keserakahan dan balas dendam di masa lalu,” ujarnya.

Di kawasan Asia Tenggara, relasi kedua negara juga terancam oleh menguatnya permusuhan antara Amerika Serikat dan China serta eskalasi konflik di Selat Taiwan dan Semenanjung Korea, Laut China Selatan, dan Myanmar. Sebagai negara dengan kekuatan menengah, Indonesia memilih strategi untuk menjadi negara yang bebas, damai, dan sejahtera.

Akhir Juli lalu, tiga negara anti-Barat semakin menguatkan poros kekuatan mereka. Korut sedang mengupayakan poros Pyongyang-Beijing-Moskwa untuk menyaingi Barat. Hal itu ditandai dengan Pemimpin Korut Kim Jong Un menyambut kedatangan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu dalam peringatan 70 Tahun Gencatan Senjata Perang Korea.

Kunjungan itu menunjukkan hubungan kedua negara yang semakin mendekat di tengah memanasnya persaingan geopolitik dengan Amerika Serikat. Pada hari yang sama, Kamis (27/7/2023), Kim juga menyambut kedatangan delegasi China yang dipimpin oleh anggota Politbiro Partai Komunis China Li Hongzhong (Kompas.id, 27 Juli 2023).

”Indonesia tidak bisa mengabaikan tantangan geopolitik itu. Harapan Indonesia sebenarnya ingin berkontribusi dalam menciptakan perdamaian dunia. Kita berharap kerja sama 50 tahun ke depan bisa lebih baik, walaupun untuk meneropong ke masa depan, kami juga belum tahu,” papar Nabyl.

Deputi Direktur Asia Timur Kementerian Luar Negeri Vahd Nabyl A Mulachela memberikan materi tentang tantangan geopolitik dalam relasi Indonesia-Korsel saat lokakarya bertema ”Membangun Jembatan: Menilai Masa Lalu dan Membentuk Masa Depan Relasi Indonesia-Korea” yang diselenggarakan dalam rangkaian program Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea, Rabu (2/8/2023).

Adapun bagi Indonesia dan Korsel, target yang ingin dicapai untuk merajut relasi 50 tahun ke depan adalah memperkuat relasi bilateral, kerja sama dalam bidang ekonomi hijau, pembangunan hijau dan berkelanjutan; meningkatkan kolaborasi untuk mendorong isu regional; serta mempromosikan kedamaian dan stabilitas regional yang lebih besar dari yang ada sekarang.

Peluang

Profesor Ilmu Politik dan Hubungan Internasional dari Universitas Korea Jae Hyeok Shin yang hadir dalam lokakarya itu mengatakan, kerja sama kedua negara terus meningkat. Pada 2021, nilai perdagangan Korsel-Indonesia hanya 19,3 juta dollar AS. Namun, pada 2022, atau berselang setahun, nilai perdagangan itu sudah mencapai 20,57 juta dollar AS. Nilai investasi pun disebutnya terus meningkat sepanjang 2017-2021.

”Di bidang pertahanan dan keamanan kita juga memiliki kerja sama tingkat tinggi, mulai dari pembuatan mesin pesawat jet hingga perawatan kapal selam militer,” ucapnya.

Profesor ilmu politik dan hubungan internasional dari Universitas Korea, Jae Hyeok Shin, hadir sebagai narasumber saat lokakarya bertema ”Membangun Jembatan: Menilai Masa Lalu dan Membentuk Masa Depan Relasi Indonesia-Korea” yang diselenggarakan dalam rangkaian program Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea, Rabu (2/8/2023).

Oleh karena itu, dia menyebut Indonesia dan Korsel masih berpeluang menjalin kerja sama yang lebih strategis. Sebab, Indonesia dan Korsel sama-sama negara yang memperjuangkan demokrasi. Beberapa peluang itu di antaranya kerja sama diversifikasi ekonomi, pengembangan infrastruktur, riset pengembangan bioteknologi, kecerdasan buatan, dan teknologi hijau. Selain itu, ada pula beasiswa, pertukaran kebudayaan, pertahanan dan keamanan, turisme dan promosi, pelayanan kesehatan, kerja sama UMKM, dan inisiatif soal lingkungan hijau ataupun upaya mengatasi dampak perubahan iklim.

Jae mengakui, di kawasan ASEAN, nilai investasi dan kerja sama ekonomi Korsel memang masih jauh lebih besar ke Vietnam. Menurut dia, itu terjadi karena pengaruh kebijakan negara. Vietnam dinilai lebih agresif dalam menarik investor. Namun, sekarang, setelah ada kerja sama IK-CEPA, Korsel pun banyak mencari peluang investasi di Indonesia. Dia berharap Pemerintah Indonesia bisa menyambut itikad baik itu dengan afirmasi kebijakan yang lebih positif.

”Indonesia punya demokrasi, harapannya kebijakan di Indonesia lebih stabil dibandingkan Vietnam. Semua tergantung pada kebijakan negara,” tutur Jae.

Kolaborasi Indonesia-Korsel disebutnya juga bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi, stabilitas regional, perkembangan teknologi, koneksi antarwarga, kesehatan, keamanan publik, serta pengembangan infrastruktur.

Sumber : https://www.kompas.id/baca/internasional/2023/08/16/relasi-indonesia-korsel-hadapi-tantangan-multilateralisme

Journalist Network 2023
Indonesia-Korsel Makin Joss, Transaksi Ekonomi Tinggi, Hubungan Diplomatik Mesra

Reporter : BAMBANG TRISMAWAN
Editor : FIRSTY HESTYARINI

RM.id  Rakyat Merdeka – Jelang 50 tahun hubungan diplomatik, relasi Indonesia-Korea Selatan terlihat semakin kuat dan mesra.

Deputi Direktur Asia Timur dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Vahd Nabyl A Mulachela menjelaskan, kian apiknya hubungan Indonesia-Korsel tak hanya ditunjukkan oleh meningkatnya aktivitas ekonomi, seperti perdagangan dan investasi, tetapi juga aktivitas diplomatik pemerintah yang kian intens.

“Kita bisa mengukur hubungan satu negara dengan negara lainnya, lewat seberapa aktif interaksinya. Tidak hanya dari sektor ekonomi seperti perdagangan atau jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga aktivitas diplomatik pemerintah,” jelas Nabyl dalam workshop Indonesia Journalist Network on Korea Batch 3 yang digelar Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan Korea Foundation di Bengkel FPCI, Mayapada Tower Jakarta, Rabu (2/8).

Dalam workshop bertema Membangun Jembatan: Meninjau Masa Lalu dan Membentuk Masa Depan Hubungan Indonesia-Korea yang diikuti 15 jurnalis terpilih, Nabyl menyoroti intensnya pertemuan pemimpin kedua negara, yaitu Presiden Jokowi dan Presiden Korsel Yoon Suk Yeol. Kedua pemimpin negara bertemu tiap tahun.

November 2022, Presiden Jokowi dan Presiden Yoon bertemu di acara KTT G-20 di Bali. Ini menjadi pertemuan istimewa, karena Jokowi mengadakan jamuan makan malam.

Enam bulan berselang atau Mei lalu, keduanya kembali bertemu di Hiroshima, Jepang, untuk membahas investasi dan kerja sama pembangunan Ibu Kota Negara (IKN).

September mendatang, Presiden Jokowi akan kembali bertemu dengan Presiden Yoon dalam acara KTT ASEAN ke-43, yang akan digelar di Jakarta.

KTT ASEAN nanti, memang tak hanya diikuti pemimpin negara anggota ASEAN, tapi juga para kepala negara/pemerintahan negara mitra ASEAN.

“Eratnya hubungan diplomatik Indonesia-Korea tak hanya di pucuk pimpinan tertinggi. Solid sampai ke tingkat kementerian dan kedutaan besar,” ujar Nabyl.

Di bulan Agustus ini misalnya, Kedutaan Besar Korea di Jakarta akan mengadakan Resepsi Diplomatik. Begitu juga KBRI di Seoul, Korsel, akan mengadakan Resepsi Diplomatik untuk merayakan HUT Kemerdekaan RI ke-78.

“Ini memberikan gambaran betapa intens dan dekatnya hubungan itu,” ungkapnya.

Nabyl pun membeberkan beberapa alasan, yang menjadikan hubungan Indonesia-Korsel semakin kuat dan erat.

Kata dia, jika melihat ke belakang atau tahun 90-an, faktor ekonomi yang cukup dominan dalam hubungan Indonesia-Korsel.

Seiring waktu, faktor tersebut bergeser. Kini, hubungan kedua negara makin erat karena mempunyai pandangan yang sama terhadap nilai demokrasi, hak asasi manusia, ekonomi terbuka, cita-cita menjaga perdamaian, stabilitas dan kemakmuran.

Kedua negara juga punya pandangan yang sama dalam geopolitik. Ingin mempromosikan Indo-Pasifik yang bebas, damai, dan sejahtera di tengah persaingan AS dan China.

“Kesamaan pandangan ini seperti basis politik, yang menjadi landasan kerja sama bilateral Indonesia-Korea. Dengan dasar ini, kerja sama lain seperti ekonomi menjadi mudah untuk dikembangkan,” papar Nabyl.

Terbukti, Indonesia dan Korea kemudian menandatangani Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Korea (IK CEPA) di Seoul pada 2021.

Perjanjian yang berlaku pada 1 Januari 2023 ini menjadi salah satu tonggak semakin eratnya hubungan Indonesia-Korsel.

Profesor Jae Hyeok Shin menyampaikan hal yang senada. Kata dia, sejak resmi menjalin hubungan diplomatik pada tahun 1973, hubungan Indonesia-Korea kini makin kuat dan erat.

Perjanjian ini mencakup penghapusan tarif perdagangan pada sebagian besar barang yang diperdagangkan antara kedua negara, investasi pengembangan sumber daya manusia, dan transfer teknologi.

Investasi Deras

Dalam kesempatan yang sama, Xosen Ilmu Politik dan Hubungan Internasional Prof. Jae Hyeok Shin mengatakan, hubungan Indonesia-Korea yang makin kuat itu terlihat dari volume perdagangan Indonesia ke Korsel, yang tercatat sebesar 20,57 miliar dolar AS pada 2022.

Jumlah itu meningkat dari 19,3 miliar dolar AS pada 2020.

Investasi dari Korea ke Indonesia juga mengalir deras. Dari 2017 hingga 2021, total investasi Korsel ke Indonesia mencapai 8,18 miliar dolar AS.

Ini menjadikan Korea sebagai investor ketiga terbesar di Indonesia. Investasi itu tersebar di sektor pabrik mobil listrik, petrokimia, pabrik kaca, dan ekosistem baterai mobil listrik.

“Kerja sama kedua negara juga makin berkembang ke industri pertahanan, dengan pembuatan dan pengembangan pesawat tempur dan kapal selam,” urai Jae.

Jae mengingatkan, ada banyak tantangan dalam hubungan antara kedua negara. Satu di antaranya adalah di sektor perdaganan.

Selain dengan Indonesia, Korsel juga lebih dulu menjalin kerja sama kemitraan strategis dengan Vietnam. Hal ini membuat volume perdagangan Vietnam-Korsel lebih besar.

Saat ini, Vietnam menjadi mitra dagang terbesar ketiga untuk Korsel.

Meski begitu, Jae yakin hubungan Korsel akan menjadi lebih dekat daripada hubungan Korsel dengan Vietnam.

“Terutama, karena Indonesia dan Korsel berbagi nilai-nilai demokrasi yang sama. Dan membangun kerja sama yang sudah ada,” tandas Jae.

Selain itu, Indonesia dan Korsel memiliki banyak peluang untuk kerja sama dan pertumbuhan lebih lanjut. Seperti investasi di industri energi terbarukan, layanan kesehatan, dan kota digital.

“Fokus Indonesia pada pembangunan infrastruktur, juga mendatangkan peluang yang sangat baik bagi perusahaan Korsel untuk berpartisipasi dalam proyek-proyek besar, terutama IKN sebagai kota masa depan. Ini sepertinya memerlukan keahlian Korsel dalam konstruksi, teknik, dan transportasi,” beber Jae.

Sumber : https://rm.id/baca-berita/internasional/182736/indonesiakorsel-makin-joss-transaksi-ekonomi-tinggi-hubungan-diplomatik-mesra

Journalist Network 2023
Profesor Korea University Puji Kepemimpinan Presiden Jokowi

Reporter : BAMBANG TRISMAWAN
Editor : FIRSTY HESTYARINI

RM.id  Rakyat Merdeka – Dosen Ilmu Politik dan Hubungan Internasional dari Korea University, Prof. Jae Hyeok Shin mengapresiasi kepemimpinan Presiden Jokowi, yang dinilainya mampu mengokohkan hubungan bilateral Indonesia-Korea Selatan (Korsel).

Tak hanya makin solid secara diplomatik, hubungan Indonesia-Korsel juga makin kinclong di bidang ekonomi.

Di bawah kepemimpinan Jokowi, Indonesia dan Korsel berhasil menandatangani kerja sama Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Korea (IK CEPA) pada 2021.

Perjanjian yang menghapuskan tarif perdagangan pada mayoritas komoditas barang ini, diharapkan mampu mendongkrak ekspor non migas Indonesia ke Korsel, hingga tujuh persen.

“Saya pikir, kepemimpinan Jokowi sangat luar biasa. Perjanjian IK-CEPA ditandatangani di bawah kepemimpinannya, juga berjalan dengan sangat baik,” puji Prof Jae, dalam acara workshop Indonesian-Korea Journalist Network on Korea Batch 3 bertema Membangun Jembatan: Mengevaluasi Masa Lalu dan Membentuk Masa Depan Hubungan Indonesia-Korsel di Bengkel Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Mayapada Tower Jakarta, Rabu (2/8).

Workshop yang digelar FPCI dan Korea Foundation ini diikuti 15 jurnalis terpilih. Salah satunya, dari Rakyat Merdeka. 

Semakin Meningkat

Seiring menguatnya hubungan Indonesia-Korea, Prof. Jae meyakini, kerja sama perdagangan kedua negara akan semakin meningkat.

Sebab, Indonesia dan Korsel berbagi nilai demokrasi yang sama, serta memiliki pandangan geopolitik yang sama di kawasan Indo-Pasifik di tengah persaingan China-Amerika Serikat.

Indonesia dan Korsel juga sudah membangun kerja sama dan investasi di beberapa sektor seperti pabrik petrokimia, pabrik kaca, dan pabrik otomotif.

“Hubungan Indonesia-Korsel akan semakin meningkat, karena Indonesia memiliki banyak peluang untuk kerja sama dan pertumbuhan lebih lanjut. Seperti investasi di industri energi terbarukan, layanan kesehatan, dan kota digital. Termasuk investasi di Pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) di Samarinda, Kalimantan Timur,” paparnya.

Dalam pembangunan IKN, Korsel berinvestasi antara lain dalam pembangunan infrastruktur pengelolaan air bersih.

Prof. Jae bilang, pembangunan infrastruktur di IKN dapat mendatangkan peluang yang sangat baik, bagi perusahaan Korsel untuk berpartisipasi dalam proyek-proyek besar.

“Karena sepertinya akan memerlukan keahlian Korsel dalam konstruksi, teknik, dan transportasi,” jelasnya.

Indonesia dan Korsel, saat ini sudah meneken 102 Nota Kesepahaman (MoU) terkait pembangunan IKN.

Kepercayaan Terjaga

Prof. Jae menegaskan, pemilu yang akan digelar Indonesia pada tahun depan, tidak akan menurunkan tingkat kepercayaan investor Korsel. Realisasi investor Korsel, tidak akan terganggu.

“Partai manapun yang memenangkan Pemilu, pandangan terhadap Indonesia tak akan berubah,” ucap Prof. Jae.

Sumber : https://rm.id/baca-berita/internasional/182730/profesor-korea-university-puji-kepemimpinan-presiden-jokowi

Journalist Network 2023
FPCI-KF Luncurkan Indonesian Next Generation Journalist Network On Korea Batch 3

Rakyat Merdeka – Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan Korea Foundation (KF) resmi membuka Program Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea Batch 3 di Bengkel Diplomasi, Mayapada Tower, Jakarta, Rabu (2/8).

Kick off-nya dilakukan oleh Founder dan Ketua FPCI Dino Patti Djalal dan Direktur KF Jakarta Choi Hyun-Soo.

“Selamat kepada 15 peserta terpilih dalam program Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea Batch 3,” kata Dino via Zoom dari Singapura, Rabu (2/8).

Mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat (AS) itu berharap, para jurnalis yang ikut lokakarya dapat menimba pengalaman, dan menambah wawasan mengenai hubungan Indonesia-Korea Selatan (Korsel).

“Korea saat ini menjadi salah satu negara yang sangat penting dan strategis bagi Indonesia,” tegas Dino.

Pada kesempatan yang sama, Direktur KF Jakarta Choi Hyun-Soo berharap, program Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea Batch 3 ini dapat lebih bermakna dan istimewa, karena berbarengan dengan momen 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Korea.

“Semoga, para peserta yang mengikuti program ini, dapat membangun pemahaman yang mendalam dan tulus antara Korea dan Indonesia. Tercipta saling pengertian antara kedua negara,” kata Choi.

Kick off ini bersamaan dengan workshop pertama (totalnya ada 6) yang diikuti 15 jurnalis terpilih. Salah satunya, wartawan Rakyat Merdeka Bambang Trismawan.

Workshop ini memberikan kesempatan kepada para peserta untuk terlibat dalam diskusi dengan para pakar, praktisi, akademisi, pembuat kebijakan, dan cendekiawan.

Temanya beragam. Tak cuma soal gelombang budaya Korea (K-wave), tetapi juga hal-hal lain yang terkait hubungan dua negara.

Workshop ini menjadi semacam pembekalan, sebelum 15 peserta diberangkatkan ke Korsel selama sepekan.

Mitra Strategis

Workshop pertama Indonesian Next Generation Jourmalist Network on Korea menghadirkan Deputi Direktur Asia Timur Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Vahd Nabyl A Mulachela, dan Dosen Ilmu Politik dan Hubungan Internasional dari Korea University, Profesor Jae Hyeok Shin.

Kedua narasumber itu antara lain menceritakan perjalanan hubungan Indonesia dan Korea, yang kini semakin kuat, erat, dan dekat.

Kedua negara yang tahun ini merayakan 50 tahun hubungan diplomatik, memandang satu sama lain sebagai mitra strategis.

Menguatnya hubungan kedua negara, bukan hanya karena alasan ekonomi semata. Namun, dilandasi hal yang lebih mendasar seperti kesamaan pandangan terhadap nilai-nilai demokrasi, HAM, ekonomi terbuka, stabilitas, dan kemakmuran.

Kedua negara juga memiliki pandangan geopolitik yang sama, yaitu mempromosikan Indo-Pasifik yang bebas, aman, dan sejahtera di tengah persaingan China-AS.

Kemesraan kedua negara ini juga tampak dari para pucuk pimpinan negara. Presiden Jokowi dan Presiden Korea Yoon Suk Yeol intens bertemu membahas berbagai kerja sama.

Sumber : https://rm.id/baca-berita/internasional/182835/spesial-hut-ke50-rikorsel-fpcikf-luncurkan-indonesian-next-generation-journalist-network-on-korea-batch-3

12
Page 2 of 2

Youtube
Twitter
Facebook
Instagram
Copyright 2021 - www.indonesia-koreajournalist.net