Indonesia dan Korea Selatan memperkuat kerjasama regional melalui APEC 2025 untuk menghadapi ketidakpastian global, fokus pada manufaktur dan teknologi.

Bisnis.com, JAKARTA – Di tengah-tengah gejolak perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang kembali memanas baru-baru ini, Korea Selatan selaku tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) 2025 menggaungkan pentingnya kerjasama regional, khususnya dengan Indonesia. Chanwoo Kim, Konsuler Bidang Ekonomi Kedutaan Besar Korea Selatan di Indonesia memaparkan tahun ini dipenuhi dengan ketidakpastian ekonomi global. Korea Selatan pun mengambil kesempatan untuk memperkuat kerjasama di berbagai sektor di kawasan Asia Pasifik, misalnya dengan menyelenggarakan konferensi para CEO lewat dialog antara APEC Business Advisory Council (ABAC) dan APEC. “Kepemimpinan Korea Selatan di APEC mengusung diplomasi pragmatis, menegaskan kembali nilai-nilai inti, menangani isu-isu tradisional dan menetapkan isu-isu baru, serta kepemimpinan yang berorientasi pada substansi dan inovasi,” kata Kim dalam seminar bertajuk APEC at the Crossroads: Building Bridges for Regional Growth Senin (15/10/2025).
Adapun, seminar ini merupakan bagian dari “Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea” yang merupakan kerja sama Korea Foundation dan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI).
Dengan keketuaan Korea Selatan KTT APEC 2025 yang mengusung tema “Menjembatani Diplomasi” yang menempatkan Korea Selatan sebagai penghubung antara kekuatan utama dan kekuatan menengah di dunia. Pertemuan itu akan dimanfaatkan untuk memperkuat kerjasama bilateral dengan sejumlah negara, termasuk dengan Indonesia. Jihyouk Lee, Peneliti Overseas Economic Research Institute Exim Bank of Korea, menjelaskan kerjasama antara Korea Selatan dan Indonesia sudah berjalan selama bertahun-tahun dan selalu dapat melihat celah kerjasama yang saling menguntungkan. “Korea Selatan harus memperluas industri masa depan kita dan Indonesia bisa mengembangkan sisi manufakturnya. Kita bisa bergerak dari kerjasama tunggal menjadi rencana jangka panjang,” ujar Lee. Dia melihat Indonesia dan Korea Selatan merupakan mitra dengan kecocokan yang sangat baik. Kedua negara ini sama-sama tidak mendukung blok manapun secara global, sehingga bisa dapat bebas bekerjasama di berbagai sektor. Saat ini, Korea Selatan membutuhkan beragam pasokan seperti sumber daya mineral yang bisa didapatkan dari Indonesia. Sementara Indonesia bisa mendapatkan teknologi dan pendanaan yang lebih baik dari Korsel. “Kita sudah bekerjasama di bidang kendaraan listrik, baterai, tekstil, baja, dan bahan kimia. Selanjutnya kita bisa mengubah kesepatakan tunggal menjadi roadmap bersama,” kata Lee. Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Kerja Sama Penanaman Modal BKPM Tirta Nugraha Mursitama menunjukkan sejauh ini mayoritas investasi Korea Selatan sudah masuk di sektor manufaktur namun masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Saat ini, investasi dari Korea Selatan paling banyak masuk ke kawasan Jawa Barat (US$4,59 miliar), diikuti Banten (US$3,18 miliar) dan Jawa Tengah (US$1,31 miliar). “Berdasarkan data BKPM pada periode 2020-2024, rata-rata pertumbuhan investasi Korea Selatan mencapai 21% dengan total investasi senilai US$11,3 miliar. Investasi itu mencakup 30.581 proyek dengan total tenaga kerja yang terserap sebanyak 299.149 orang,” kata Tirta.
Apabila dilihat dari sektornya, investasi dari Korea Selatan masuk ke sektor listrik, gas, dan perairan senilai US$2,23 miliar. Selanjutnya sektor otomotif dan transportasi lainnya sebesar US$1,87 miliar diikuti oleh sektor mesin, elektronik, dan perlengkapan elektrikal sebesar US$1,40 miliar. Selanjutnya industri logam dasar senilai US$1,07 miliar dan industri produk kulit dan sepatu senilai US0,97 miliar. Sisanya di sektor lain-lain senilai US$3,77 miliar. Tirta juga menyebutkan beberapa area prospektif yang dapat diperdalam lewat kerjasama dengan Korea Selatan seperti memperkuat ketahanan rantai pasok, memperdalam integrasi dan efisiensi dari jaringan produksi regional. Selanjutnya dari sisi transisi ekonomi hijau, kedua negara dapat memperkuat transformasi hijau dan digital, memperkuat kolaborasi di sisi energi terbarukan, kendaraan listrik, dan inovasi digital

