• Home
  • Services
  • Pages
    • About 1
    • About 2
    • About 3
    • About 4
    • Our Team
    • Contact 1
    • Contact 2
    • Service 1
    • Service 2
    • Service 3
  • Portfolio
    • Column One
      • Portfolio Classic
      • Portfolio Grid
      • Portfolio Grid Overlay
      • Portfolio 3D Overlay
      • Portfolio Contain
    • Column Two
      • Portfolio Masonry
      • Portfolio Masonry Grid
      • Portfolio Coverflow
      • Portfolio Timeline Horizon
      • Portfolio Timeline Vertical
    • Column Four
      • Single Portfolio 1
      • Single Portfolio 2
      • Single Portfolio 3
      • Single Portfolio 4
      • Single Portfolio 5
    • Column Three
      • Video Grid
      • Gallery Grid
      • Gallery Masonry
      • Gallery Justified
      • Gallery Fullscreen
  • Blog
    • Blog Grid No Space
    • Blog Grid
    • Blog Masonry
    • Blog Metro No Space
    • Blog Metro
    • Blog Classic
    • Blog List
    • Blog List Circle
  • Slider
    • Column One
      • Vertical Parallax Slider
      • Animated Frame Slider
      • 3D Room Slider
      • Velo Slider
      • Popout Slider
      • Mouse Driven Carousel
    • Column Two
      • Clip Path Slider
      • Split Slick Slider
      • Fullscreen Transition Slider
      • Flip Slider
      • Horizon Slider
      • Synchronized Carousel
    • Column Three
      • Multi Layouts Slider
      • Split Carousel Slider
      • Property Clip Slider
      • Slice Slider
      • Parallax Slider
      • Zoom Slider
    • Column Four
      • Animated Slider
      • Motion Reveal Slider
      • Fade up Slider
      • Image Carousel Slider
      • Glitch Slideshow
      • Slider with other contents
  • Shop

Blog Archives

2025  ·  Journalist Network 2025
Ekonomi Dunia Berantakan, Negara Kekuatan Tengah Bisa Jadi Poros Baru?
Foto: MIKTA

Jakarta, CNBC Indonesia – Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia yang tergabung dalam kelompok MIKTA telah menegaskan komitmennya untuk membenahi perekonomian global, melalui pendalaman kerja sama internasional hingga upaya kolektif merealisasikan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Kelompok negara-negara yang mendefinisikan diri sebagai kekuatan tengah atau middle power itu melihat penguatan kerja sama multiaspek, mulai dari kerja sama ekonomi, sosial, hingga politik, menjadi sangat penting di tengah kompleksitas krisis dunia saat ini, yang beriringan dengan semakin memburuknya tensi konflik geopolitik lintas negara.

Sejumlah lembaga internasional pun telah memperkirakan, perpecahan dunia yang kian memburuk berpotensi terus memperlambat laju pertumbuhan ekonomi dan pembangunan global. Bank Dunia (World Bank) misalnya, memperkirakan ekonomi dunia hanya akan tumbuh 2,3% pada 2025 dan 2,4% pada 2026. Prediksi terbaru itu turun dari perkiraan sebelumnya dalam GEP edisi Januari 2025 masing-masing tahun sebesar 2,7%.

Proyeksi itu pun semakin jauh dari realisasi pertumbuhan pada 2022 sebesar 3,3%, serta 2023-2024 di level 2,8%. Bank Dunia juga memperkirakan 7 negara di berbagai belahan dunia berpotensi masuk ke jurang krisis karena ekonominya malah terkontraksi atau minus tahun ini.

Oleh sebab itu, MIKTA pun memastikan penguatan komitmen kerja sama menjadi agenda penting. Penguatan ini telah menjadi fokus MIKTA saat di bawah keketuaan Meksiko untuk periode 2024 silam melalui pernyataan bersama hasil Pertemuan Tingkat Tinggi MIKTA Development Cooperation Network ke-4. Komitmen penguatan kerja sama pembangunan ini akan dilanjutkan di bawah keketuaan Korea Selatan pada 2025 ini.

“Kami telah menyampaikan niat kami untuk memperkuat kerja sama internasional dan peran konstruktif MIKTA dalam agenda internasional. Serta akan dipertegas dibawa keketuaan Korea pada 2025,” ucap Wakil Kedutaan Besar Meksiko di Indonesia, Alonso Martin Gomez-Favila dalam acara diskusi yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan Korea Foundation, Jakarta, Kamis (26/6/2025).

Sejumlah kajian menunjukkan, MIKTA memiliki potensi besar untuk menjadi poros baru penguatan ekonomi dunia. Dalam catatan di paper Review of International Law & Politics Vol. 11 No. 42 terbitan 2015 berjudul “MIKTA: A Functioning Product of “New” Middle Power-ism?”, kelima negara anggota MIKTA mencakup seperempat ekonomi terbesar dunia di G20, dengan jumlah populasi mewakili 500 juta orang, PDB senilai US$ 5,6 miliar dan volume perdagangan total US$ 1,5 triliun.

Sayangnya, potensi besar perekonomian masing-masing negara belum membuat para anggota MIKTA memiliki kerja sama kolektif yang kongkrit, karena mereka masih menjajaki bidang-bidang kerja sama berdasarkan prioritas dan kebutuhan khusus masing-masing negara MIKTA, sebagaimana tertulis dalam Joint Statement on the 4th High-Level Meeting of the MIKTA Development Cooperation Network.

Belum adanya fokus kerja sama ekonomi yang lebih detail dan konkret juga diakui oleh Direktur Pembangunan, Ekonomi dan Lingkungan Hidup Kementerian Luar Negeri Indonesia, Tri Purnajaya. Ia mengungkapkan bahwa MIKTA bahkan belum memiliki forum bisnis selama berdiri sejak 2013 silam.

“Dalam hal kerja sama keuangan juga misalnya, local currency transaction, kita belum memilikinya saat ini. Itulah sebabnya saya pikir perlu ada yang lebih konkret, karena banyak diskusi di tingkat menteri dan pemimpin luar negeri yang terkadang tidak terlalu teknis,” ucap Tri Purnajaya.

Namun, Tri menganggap, masih adanya ruang-ruang kosong dalam pembahasan di MIKTA selama ini menjadi peluang baru bagi negara-negara kekuatan tengah itu untuk terus mengembangkan kerja samanya, termasuk dalam hal implementasi kerja sama yang lebih konkret.

“Dan mungkin di bidang ekonomi, meski sejauh ini kita belum punya, misalnya forum bisnis, namun saya memiliki harapan MIKTA mempunyai keinginan untuk lebih besar lagi, termasuk dalam hal kerja sama ekonomi, dalam hal perdagangan dan investasi,” tegas Tri.

Dengan berbagai catatan itu, MIKTA di bawah keketuaan Korea Selatan pun mengangkat tiga agenda utama untuk membenahi kembali sistem kerja sama dunia, yakni membangun perdamaian dunia, mendorong keterlibatan pemuda, dan mempercepat capaian tujuan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG’s).

“Dengan bekerja sama, negara-negara MIKTA dapat memperkuat suara kolektif kita dan berfungsi sebagai kekuatan penstabil dalam urusan global. Peran middle power saat ini tidak pernah lebih penting dari sebelumnya,” ujar Wakil Kedutaan Besar Korea Selatan di Indonesia Park Soo-deok.

Merujuk pada kajian lembaga think tank asal Turki, The Center for Eurasian Studies (AVİM) berjudul Multilateralism Revisited: Turkey and Its Term Presidency In MIKTA, disebutkan bahwa MIKTA memang mampu menawarkan kepada para anggotanya sarana untuk meningkatkan kerja sama global.

Profil negara-negara anggota, terlepas dari perbedaan dalam hal lokasi, PDB, dan budaya, juga menunjukkan bahwa banyak hal dapat dicapai melalui kerja sama. Misalnya, Australia adalah salah satu penyedia bahan baku terbesar bagi kawasan Asia Pasifik, sementara Korea Selatan adalah salah satu pelaku ekonomi yang signifikan di Asia.

Meksiko disebut sebagai aktor lain yang menjanjikan karena kedekatannya dengan AS, keanggotaan di United States-Mexico-Canada Agreement (USMCA), dan hubungan yang berkembang dengan pasar Amerika Tengah maupun Selatan.

Sementara Indonesia, disebut memiliki kekuataan di ASEAN dan memiliki lokasi yang cukup strategis. Sedangkan Turki, disebut sebagai salah satu kekuatan menengah yang memiliki lokasi strategis, dan hubungan diplomatik yang erat dengan banyak bangsa, mulai dari Balkan, Kaukasus, Asia Tengah, hingga Timur Tengah.

Source: https://www.cnbcindonesia.com/news/20250630063507-4-644776/ekonomi-dunia-berantakan-negara-kekuatan-tengah-bisa-jadi-poros-baru

2025  ·  Journalist Network 2025
Dunia Kacau Balau, Geng Negara-Negara ‘Middle Power’ Rapatkan Barisan
Foto: Logo MIKTA. (Dok.mikta.org)

Jakarta, CNBC Indonesia – Negara-negara yang mengkategorikan diri sebagai kekuatan tengah (middle power) dan tergabung ke dalam MIKTA (akronim dari Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia) kini semakin berupaya mempromosikan penguatan prinsip multilateralisme atau kerja sama erat antar negara, baik dari sisi ekonomi, sosial, hingga politik.
Langkah ini kian mencuat setelah unilateralisme mendominasi tatanan global saat ini, seusai negara-negara superpower seperti Amerika Serikat cenderung meninggalkan organisasi kerja sama dunia, mulai dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hingga menarik diri dari Perjanjian Paris (Paris Agreement).

Di sisi lain, fragmentasi antar negara juga tengah memburuk setelah perang tarif dagang kembali terjadi pada saat masa kepemimpinan periode kedua Presiden AS Donald Trump, di tengah belum berakhirnya konflik bersenjata di berbagai belahan dunia, seperti di Timur Tengah, hingga perang Rusia dan Ukraina.

Berbagai permasalahan itu yang membuat Korea Selatan, sebagai pemegang Keketuaan MIKTA periode Februari 2025-Februari 2026 akan memprioritaskan tiga agenda utama, yakni membangun perdamaian dunia, mendorong keterlibatan pemuda, dan mempercepat capaian tujuan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG’s).

“Prioritas ini tidak saja mencerminkan fokus kebijakan Korea, tetapi juga aspirasi kolektif kita dan middle power kita,” kata Wakil Kedutaan Besar Korea Selatan di Indonesia Park Soo-deok dalam acara diskusi yang diselenggaran Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bersama Korea Foundation, Jakarta, Kamis (26/6/2025).

Di tengah kondisi dunia yang makin terpecah, Korea Selatan menganggap kelompok kekuatan tengah menjadi sangat signifikan dan penting untuk menonjolkan perannya di kancah global, untuk mempromosikan kembali prinsip-prinsip multilateralisme dan perdamaian dunia.

“Dengan bekerja sama, negara-negara MIKTA dapat memperkuat suara kolektif kita, dan berfungsi sebagai kekuatan penstabil dalam urusan global. Peran kekuatan tengah saat ini tidak pernah lebih penting dari sebelumnya,” ucap Park.

Keinginan Park tak mengherankan karena dalam catatan di paper terbitan 2015 berjudul “MIKTA: A Functioning Product of “New” Middle Power-ism?”, kelima negara anggota MIKTA mencakup seperempat ekonomi terbesar dunia di G20, dengan jumlah populasi mewakili 500 juta orang, PDB senilai US$ 5,6 miliar dan volume perdagangan total US$ 1,5 triliun.

Saat di bawah keketuaan Meksiko pada 2024 silam, MIKTA juga difokuskan untuk memperkuat promosi terhadap perdamaian, inklusivitas, dan keberlanjutan tatanan global. Hal ini seiring dengan pandangan Meksiko bahwa MIKTA mampu memperkuat hubungan bilateral antar negaranya, mempromosikan kerja sama internasional, dan sebagai ruang konsultasi mengenai isu-isu global yang menjadi kepentingan bersama untuk mendukung tata kelola global yang inklusif dan efektif.

“Meksiko memandang MIKTA sebagai jembatan antara negara maju dan negara berkembang, yang dipandu oleh nilai-nilai bersama seperti demokrasi, penghormatan terhadap hukum internasional, multilateralisme, dan kerja sama internasional,” ucap Wakil Kedutaan Besar Meksiko di Indonesia, Alonso Martin Gomez-Favila di Kantor FPCI.

Bagi Indonesia, MIKTA juga menjadi kelompok informal strategis yang dapat dijadikan kendaraan untuk menyuarakan pentingnya multilateralisme untuk membangun kerja sama yang inklusif antar negara-negara dunia. Peran MIKTA bagi Indonesia makin penting saat ini di tengah makin rentannya prinsip multilateralisme di tatanan global.

“Bagi Indonesia, kami percaya bahwa MIKTA merupakan forum strategis untuk membahas isu-isu strategis serta menjadi mitra-mitra strategis, dan kita memiliki hubungan yang sangat baik dengan semua anggota MIKTA. Kita tidak hanya berbicara dimensi politik, tapi juga ekonomi, sosial, dan isu lainnya,” tegas Direktur Pembangunan, Ekonomi dan Lingkungan Hidup Kementerian Luar Negeri Indonesia, Tri Purnajaya.

Meski begitu, Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal mengingatkan, MIKTA harus terus memperkuat visi maupun tujuan bersamanya sebagai sebuah forum internasional, bila ingin memiliki suara yang kuat untuk menjaga kondusifitas tatanan global sebagaimana forum G7 ataupun OECD.

“Karena begitu Anda memiliki tujuan bersama, Anda bergerak cepat dengan cara yang memberi arti, karena Anda memiliki alasan nyata untuk bertahan sebagai sebuah grup dan maju berdasarkan tujuan bersama itu. Jadi, MIKTA penting karena merupakan pengelompokan kekuatan tengah,” ungkap Dino.

Tanpa common purpose, Dino memastikan, MIKTA akan serupa dengan forum, kelompok, atau organisasi internasional lainnya yang hanya bisa mengadakan pertemuan, diskusi, tanpa ada implementasi kebijakan yang kuat dan mempengaruhi dinamika global.

“Jadi, hal terpenting dalam berkelompok, apa pun itu, adalah tujuan bersama. ASEAN kuat, mengapa? Karena memiliki tujuan bersama. EU kuat, mengapa? memiliki tujuan bersama, G7 kuat, mengapa? memiliki tujuan bersama. Sekarang, pertanyaannya adalah, apakah MIKTA memiliki tujuan bersama yang kuat?” tutur Dino.

Source: https://www.cnbcindonesia.com/news/20250630062742-4-644765/dunia-kacau-balau-geng-negara-negara-middle-power-rapatkan-barisan

2025  ·  Journalist Network 2025
Korea Selatan Pimpin MIKTA 2025: Tekankan Perdamaian, Pemuda, dan SDGs

MIKTA adalah kumpulan negara-neagar berekuatan menengah yang kini dipimpin Korea Selatan. Indonesia menjadi salah satu anggota.

Kuasa Usaha Kedutaan Besar Korea Selatan untuk Indonesia Park Soo-Deok. Antara/Kuntum Riswan

TEMPO.CO, Jakarta – Korea Selatan menegaskan komitmennya dalam membangun perdamaian dunia melalui keketuaan pada forum MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia) periode 2025-2026. Kepemimpinan ini menjadi kali ketiga bagi Korea Selatan sejak forum ini pertama kali dibentuk pada 2013.

“Kami ingin membangun ini sebagai wadah penting untuk menjaga niat baik dan komitmen terhadap perdamaian dan demokrasi, serta pencarian nilai-nilai bersama di dunia,” ujar Park Soo-deok, Kuasa Usaha Kedutaan Besar Korea Selatan untuk Indonesia, dalam sesi diskusi di kantor Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Jakarta, Kamis, 26 Juni 2025.

Park menjelaskan, keketuaan Korea Selatan akan mengusung tiga prioritas utama: pembangunan perdamaian, pemberdayaan pemuda, dan percepatan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

MIKTA dibentuk pada 2013 di sela Sidang Majelis Umum PBB ke-68 di New York. Forum ini bertujuan memperkuat kerja sama internasional yang bersifat inklusif, memajukan prinsip multilateralisme, dan menjembatani kepentingan negara maju serta berkembang.

Perdamaian di Tengah Ketegangan Geopolitik

Park menekankan bahwa pembangunan perdamaian menjadi isu yang sangat relevan di tengah meningkatnya tensi geopolitik dunia pada pertengahan tahun ini. Ia menyinggung persaingan negara-negara besar yang kian memanas serta konflik di berbagai belahan dunia, termasuk Timur Tengah.

Ia menegaskan bahwa negara-negara MIKTA, yang mewakili kekuatan menengah (middle powers), harus bersatu dan menyuarakan sikap bersama. “MIKTA harus satu suara dan bertindak bijaksana di tengah-tengah ketidakpastian ini,” kata Park. Konflik antara Iran dan Israel yang mencapai puncaknya pada pertengahan Juni 2025 juga menjadi salah satu latar belakang urgensi isu perdamaian ini.

Dukungan Korea untuk Misi Perdamaian PBB

Sejalan dengan prioritas pembangunan perdamaian, Peneliti Utama Emeritus Sejong Institute, Chung Eun-sook, dalam kesempatan yang sama menyatakan bahwa Korea Selatan adalah pendukung aktif upaya perdamaian yang diprakarsai oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Korea Selatan saat ini juga menjabat sebagai anggota Komisi Pembangunan Perdamaian PBB untuk periode 2023–2025, serta memperkuat kontribusi pada Dana Pembangunan Perdamaian.

Ia menyebut pengalaman Korea dalam transisi pascakonflik, serta upaya pemberdayaan pemuda di wilayah terdampak konflik, menjadi kekuatan dalam mengangkat isu perdamaian di MIKTA. “Sebagai kelompok kekuatan menengah yang proaktif, anggota MIKTA membawa pengalaman berharga dalam pencegahan konflik, pemulihan pascakonflik, dan proses perdamaian yang inklusif,” kata dia.

Peran Pemuda dalam Diplomasi Global

Isu pemberdayaan pemuda menjadi prioritas kedua MIKTA di bawah kepemimpinan Korea Selatan. Chung menekankan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam menghadapi tantangan global dan membangun masyarakat yang inklusif. “Korea telah memprioritaskan keterlibatan pemuda melalui MIKTA Young Leaders Program tahunan. Saya bangga, ini langkah yang baik untuk melibatkan pemuda dalam diplomasi kekuatan menengah kami,” ujarnya.

Chung menambahkan bahwa tahun ini merupakan peringatan satu dekade Resolusi Dewan Keamanan PBB 2250 tentang Pemuda, Perdamaian, dan Keamanan. Resolusi tersebut semakin menggarisbawahi pentingnya perspektif generasi muda dalam membangun perdamaian dan mendorong pembangunan berkelanjutan.

Percepat SDGs Jelang 2030

Korea Selatan juga memprioritaskan percepatan implementasi SDGs yang dinilai belum menunjukkan progres signifikan. Menurut Chung, hanya tersisa lima tahun hingga tenggat global pada 2030, namun perubahan iklim yang tidak terkendali dan kesenjangan sosial yang melebar menjadi hambatan besar. “Tahun ini SDGs menjadi prioritas utama, dan MIKTA bisa memainkan peran penting dalam mempercepat pelaksanaannya,” ujar Chung.

Ia juga menyebut momentum MIKTA semakin kuat sejak pandemi Covid-19. Chung menyerukan agar kolaborasi antaranggota diperkuat. “Hari ini menjadi momentum untuk merespons isu-isu terkini. Kita harus memanfaatkan momentum agar MIKTA dapat memberikan dampak nyata dan relevan bagi negara-negara berkekuatan menengah,” ucapnya.

Source: https://www.tempo.co/internasional/korea-selatan-pimpin-mikta-2025-tekankan-perdamaian-pemuda-dan-sdgs-1884560

2025  ·  Journalist Network 2025
3 MIKTA Agendas Amidst Global Chaos, Indonesia Involved

TEMPO.CO, Jakarta – Amid the increasing turbulence in global geopolitics,
the voices of superpower nations are dominating the direction of global
policies. For example, the United States, under the leadership of
Donald Trump, has been withdrawing from various multilateral cooperation
efforts. This includes the World Health Organization (WHO), the Paris
Agreement, the UN Human Rights Council (UNHRC), and the UN Relief and
Works Agency for Palestinian Refugees (UNRWA).

Trump
has also implemented a series of measures to protect the domestic
market through high tariffs on imported goods, sparking a trade war with
China and disrupting global supply chains. Armed conflicts continue
without resolution, such as Russia’s invasion of Ukraine entering its
third year and the escalating tensions between Israel and Palestine in
Gaza and the West Bank.

The
situation has become even more complex as Iran and Israel have been
involved in a series of attacks since mid-June 2025, raising concerns of
open war in the Middle East. In Asia, anxiety is on the rise as
American and Chinese warships stalk each other in the contested waters
of the South China Sea.

MIKTA Countries Banding Together

Amidst
such global chaos, a group of middle-power countries is seeking to
unite. Mexico, Indonesia, South Korea, Turkey, and Australia – part of
the informal forum called MIKTA
– are working to come together and define their position. They are
reiterating the importance of multilateralism and building a more
inclusive global order.

“MIKTA
can strengthen the collective voice and become a stabilizing force in
global affairs. The role of middle-power countries has now become more
crucial than ever before,” said Park Soo-deok, Charge d’Affaires of the
South Korean Embassy in Indonesia, during a discussion at the Foreign
Policy Community of Indonesia (FPCI) office in Jakarta on Thursday, June
26, 2025.

Three Agendas under South Korea’s Leadership

MIKTA
was formed in 2013 during the 68th UN General Assembly in New York.
This forum aims to strengthen inclusive international cooperation,
advance the principles of multilateralism, and bridge the interests of
both developed and developing countries.

South
Korea currently holds the chairmanship of MIKTA. During its leadership,
South Korea has set three main agendas: building global peace,
promoting youth engagement, and accelerating the achievement of the
Sustainable Development Goals (SDGs).

“This
not only reflects South Korea’s policy direction but also represents
our collective aspirations and our position as a middle-power country,”
added Park. To South Korea, MIKTA countries are considered capable of
bridging the interests of developed and developing countries in building
a more inclusive global system.

The
year before, Mexico held the leadership of MIKTA. They advocated for
democratic values, international law, and inclusive development. Alonso
Martin, Charge d’Affaires of the Mexican Embassy in Indonesia, referred
to MIKTA as a bridge between developed and developing countries.

“MIKTA
must continue to uphold multilateralism, provide creative solutions to
global challenges, climate change, finance, economy, and act as a bridge
between developing and developed countries,” he said. Alonso also
mentioned MIKTA as a complement to other global forums such as BRICS.
Mexico also initiated the strengthening of development cooperation
through the 4th MIKTA Development Cooperation Network Joint Statement.
This commitment will continue under South Korea’s leadership.

MIKTA’s Void as an Opportunity

For
Indonesia, MIKTA is a strategic forum to strengthen multilateral
diplomacy amidst the increasing vulnerability of global cooperation
principles. “We believe that MIKTA is a strategic forum to discuss
strategic issues. MIKTA should not only cover political dimensions but
also economic, social, and other issues,” said Tri Purnajaya, Director
of Development, Economy, and Environment at the Indonesian Ministry of
Foreign Affairs.

Despite
MIKTA’s grand vision, the realization of its cooperation is still
considered limited. For more than a decade since its formation, MIKTA
has yet to establish a business forum, and there have been no
initiatives for local currency transactions among member countries in
economic cooperation.

“That’s
why I think there needs to be something more concrete,” said Tri.
However, he sees this void as an opportunity. “I hope MIKTA will have a
greater desire, including in economic cooperation, trade, and
investment,” he added.

FPCI
Chairman, Dino Patti Djalal, also highlighted the importance of shared
goals in every international forum, so that they do not merely become
discussion platforms without influence. “With shared goals, movements
become faster and more meaningful, because there is a strong foundation
to remain united and move forward,” said Dino. The former Indonesian
Deputy Foreign Minister compared this with ASEAN, the European Union,
and the G7, which are strong because they have clear shared goals.

Dino added that following the withdrawal of the United States
from various international forums during Donald Trump’s leadership,
there has emerged a void that can be filled by middle-power countries.
“Middle-power countries have the capacity to play a role in
advancement,” he added.

Source: https://en.tempo.co/read/2023969/3-mikta-agendas-amidst-global-chaos-indonesia-involved

2024  ·  Journalist Network 2024
Diplomasi Digital dan Intimasi Indonesia-Korea Selatan

Ilustrasi relasi diplomatik Indonesia dan Korea Selatan.(SHUTTERSTOCK/DORSTEFFEN)

KOMPAS.com – Hubungan bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan, khususnya bidang kebudayaan, tak lepas dari pengaruh pengguna internet alias warganet di Tanah Air. Sebab, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 221 juta, salah satu yang terbesar di dunia. Di sisi lain, kemajuan teknologi, khususnya internet dan alat komunikasi, turut memengaruhi tata pergaulan internasional. Salah satunya dimanifestasikan dalam diplomasi digital.

Singkatnya, diplomasi digital adalah siasat baru berdiplomasi mengandalkan internet dan perangkat digital yang kini dimiliki hampir semua orang di Bumi. Humphrey Wangke, dalam bukunya Diplomasi Digital dan Kebijakan Luar Negeri Indonesia mengatakan, diplomasi digital adalah pergeseran praktik diplomatik yang menempatkan dan menekankan pada percakapan dengan penduduk asing.

Platform media sosial menjadi salah satu arena untuk membangun percakapan lintas negara itu. Nah, di sinilah diplomasi digital yang dilakukan antar-perorangan (people-to-people) terjadi.

Banyak penggemar budaya pop Korea atau K-waves alias Hallyu, mengonsumsi konten sekaligus berinteraksi dengan fandom—sebutan untuk penggemar—dari negara lain di platfom media sosial. Konsumsi konten Hallyu oleh warganet di Indonesia ini memengaruhi persepsi positif terhadap Korea Selatan. “Persepsi positif secara keseluruhan, (Korea dinilai sebagai negara dengan) kemajuan ekonomi, mitra favorit Indonesia, dan bertanggung jawab secara sosial di seluruh dunia” jelas Gangsim Eom, kandidat PhD Harvard University dan Peniliti Tamu di Universitas Indonesia.

Wanita asal Korea Selatan yang akrab disapa Simi itu hadir sebagai salah satu panelis di acara workshop Indonesian Next Generation Journalist Network yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Jakarta, awal Desember lalu. Workshop ini diselenggarakan oleh Korea Foundation yang bekerja sama dengan FPCI. Senada dengan Simi, laporan dari Korean Foundation for International Cultural Exchange (KOFICE) berjudul Global Hallyu Trends 2022 menyebutkan, Indonesia memiliki 2,26 juta anggota komunitas K-Pop.

Hal itu membuat Indonesia menjadi negara kedua dengan penggemar K-Pop terbesar di Asia Tenggara. Para penggemar kerap membuat dan menjalankan komunitas mereka sendiri sesuai selebriti atau konten yang mereka sukai. Di sini, mereka juga saling bertukar informasi tentang dunia K-Pop. Mereka memainkan peran penting untuk mempromosikan kebudayaan Korea di Indonesia, baik dengan jalur online/virtual atau luring.

Sumber: https://www.kompas.com/global/read/2024/12/16/115046670/diplomasi-digital-dan-intimasi-indonesia-korea-selatan

2024  ·  Journalist Network 2024
Seberapa Besar Potensi Industri Kreatif Indonesia Dapat Mendunia seperti K-Wave?

Penampilan boy grup K-Pop, Tomorrow X Together (TXT) saat menggelar konser tur dunia Act: Promise in Jakarta di ICE BSD, Rabu (2/10/2024). Foto: Dok. BIG HIT Music

Gelombang budaya Korea Selatan, atau K-Wave, telah menjadi fenomena global yang tak terhindarkan.

Dari musik K-Pop hingga drama Korea, dominasi budaya pop Korea Selatan terus menembus batas negara, termasuk Indonesia.

Namun, di balik popularitas itu, muncul pertanyaan: Apakah Indonesia, dengan kekayaan budayanya, mampu menciptakan I-Wave yang juga mendunia?

Dalam lokakarya Indonesia-Korea Journalist Network (IKJN) yang digelar oleh FPCI dan Korea Foundation di Jakarta, Kandidat PhD dari Harvard University Gangsim Eom, mengungkap peran penting Indonesia dalam mendukung kesuksesan global K-Wave.

“Indonesia adalah salah satu kekuatan utama di balik kesuksesan K-Wave,” ujarnya.

Data Spotify 2023 menunjukkan Indonesia menempati peringkat ketiga untuk jumlah streaming artis K-Pop di dunia, hanya di bawah Jepang dan Amerika Serikat.

Empat kota di Indonesia bahkan masuk dalam 17 besar pendengar terbanyak secara global. Jejak K-Wave di Indonesia dimulai pada 2009 melalui konser tur Asia Rain di Jakarta, dan terus menguat dengan konser SMTOWN pada 2012.

Namun, hubungan budaya ini bukan hanya tentang konsumsi. Eom menyoroti bagaimana K-Wave telah digunakan dalam diplomasi budaya dan politik di Indonesia.

Dari kampanye politik yang menggunakan elemen budaya Korea hingga kolaborasi figur publik seperti Choi Si-won dari Super Junior, pengaruh Korsel semakin terasa di berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia.

Peluang dan Tantangan I-Wave

Meski K-Wave menginspirasi, Indonesia juga mulai menapaki jalannya sendiri dengan I-Wave.

Sejak 2019, budaya Indonesia semakin diperkenalkan di Korea Selatan melalui festival budaya, pertunjukan seni, hingga kuliner.

Tayangan Korea seperti Myunsikdang yang mengeksplorasi masakan Indonesia menunjukkan adanya ruang bagi budaya Indonesia untuk dikenal lebih luas di negeri ginseng.

Dari data industri kreatif dalam negeri, Deputi Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf, Muhammad Neil El Himam, mengatakan subsektor kuliner, fesyen, dan gim memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar global.

“Namun, pendekatan strategis diperlukan agar produk Indonesia bisa diterima langsung oleh masyarakat Korea, bukan hanya melalui influencer,” ujarnya.

Menurut Eom, kekayaan budaya Indonesia adalah aset besar, tetapi keberhasilan K-Wave tak lepas dari dukungan kuat pemerintah Korsel itu sendiri.

“Dukungan pendanaan dan kebebasan berekspresi menjadi kunci penting dalam mendukung inovasi kreatif,” katanya.

Sinergi Dua Gelombang

Pemerintah Indonesia melalui Asta Cita pemerintahan Prabowo-Gibran telah menunjukkan komitmen kuat dalam memajukan ekonomi kreatif, termasuk dengan target pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen.

Dengan 17 subsektor ekonomi kreatif mulai dari film, musik, fesyen, hingga aplikasi digital, Indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan budaya lokal sebagai modal utama.

Dukungan kebijakan, peningkatan infrastruktur, dan penguatan jejaring internasional adalah langkah penting.

Festival budaya, seperti JAFF Market di Yogyakarta, yang dihadiri puluhan peserta internasional, menunjukkan bahwa budaya Indonesia bisa menjadi daya tarik global.

Sebagaimana K-Wave yang telah menjelma menjadi simbol soft-power Korsel, I-Wave memiliki potensi serupa.

Dengan kolaborasi strategis dan pendekatan lintas budaya, hubungan Indonesia-Korsel dapat terus tumbuh, tidak hanya sebagai mitra budaya tetapi juga sebagai motor penggerak diplomasi dan ekonomi kreatif.

“Kepercayaan itu tidak diberikan, melainkan diperoleh,” tutup Eom, mengingatkan bahwa kerja keras dan strategi adalah kunci bagi Indonesia untuk menciptakan gelombang budaya yang mendunia.

Sumber: https://kumparan.com/kumparannews/seberapa-besar-potensi-industri-kreatif-indonesia-dapat-mendunia-seperti-k-wave-24An2sagCEj/full

2024  ·  Journalist Network 2024
Peneliti Korsel Sebut Budaya RI Berpotensi Saingi Hallyu

Foto: AP/Ahn Young-joon

Jakarta, CNBC Indonesia – Budaya Indonesia rupanya memiliki potensi menyaingi gelombang Korea atau Korean Wave (Hallyu). Hal ini disampaikan oleh peneliti fan K-pop asal Korea Selatan (Korsel), Gangsim Eom.

Eom, yang akrab disapa Simmi, merupakan kandidat Doktor di Universitas Harvard sekaligus dosen tamu di Universitas Indonesia. Secara umum, ia meneliti gelombang budaya Korea di Indonesia.

“Saya melihat Indonesia memiliki potensi yang sangat besar, potensial (dalam menyaingi Hallyu). Ini adalah negara yang dibangun atas keberagaman, Bhinneka Tunggal Ika,” kata Simmi di Jakarta Pusat, dikutip Senin (30/11/2024).

Pernyataan ini disampaikan Simmi dalam diskusi bertajuk ‘Membangun Hubungan yang Lebih Kuat: Kolaborasi Indonesia-Korea melalui Hubungan Antar-Masyarakat’ yang digelar oleh Foreign Policy of Community Indonesia (FPCI) dan Korea Foundation (KF).

Menurut Simmi, ada beberapa strategi penting yang perlu dilihat Indonesia agar dapat menyaingi Hallyu. Salah satunya adalah melihat pasar budaya populer dan mulai menerjemahkan budaya lokal ke khalayak global, tak hanya ke negara-negara Asia lainnya.

“Daripada menargetkan negara-negara Asia lainnya, (budaya Indonesia bisa) langsung (disebarluaskan) ke negara-negara lain,” katanya.

“Itu bisa menjadi strategi penting lainnya.”

Ia kemudian memberi contoh bagaimana Korsel membangun budayanya hingga dapat menghasilkan gelombang yang menggemparkan hampir seluruh negara di dunia. Menurutnya, hal ini tidak dicapai Korsel dalam waktu singkat.

Proyek Hallyu sendiri dimulai di bawah pemerintahan Kim Dae Jung sejak 1990-an. Tujuannya adalah untuk ‘melawan’ hegemoni budaya negara tetangganya seperti China dan Jepang serta dominasi Amerika Serikat di dunia.

Lewat sumber daya manusia, dukungan penuh dari pemerintah, serta soft power melalui industri budaya, Korsel pun kini telah mendunia. Salah satu buktinya dampak Hallyu terlihat di Indonesia, di mana produk budaya mereka telah menjamur dan menjadi ‘makanan’ sehari-hari masyarakat.

Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20241230183411-33-599633/peneliti-korsel-sebut-budaya-ri-berpotensi-saingi-hallyu

2024  ·  Journalist Network 2024
K-Wave, contoh memajukan ekonomi kreatif

Menteri Kebudayaan Fadli Zon (tengah) didampingi Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha (kanan) dan pendiri Museum Rekor Indonesia (Muri) Jaya Suprana (kiri) menyaksikan aksi tari payung usai pemecahan rekor Muri Pawai Kebaya Lintas Generasi dengan peserta terbanyak di pelataran Sarinah, Jakarta, Minggu (22/12/2024). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/Spt.

Jakarta (ANTARA) – Terhitung 25 kali kata “kreatif” dicantumkan dalam dokumen Asta Cita, delapan misi pemerintahan Prabowo-Gibran. Dari jumlah itu, 10 kali di antaranya disebut “industri kreatif” dan 10 kali pula dimunculkan “ekonomi kreatif”.

Poin kedua Asta Cita misalnya, berbunyi: memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.

Dari sini terlihat ada keinginan kuat memajukan ekonomi kreatif sebagai bahan bakar pertumbuhan ekonomi 8 persen.

Kementerian Ekonomi Kreatif, dalam lokakarya jurnalis yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bersama Korea Foundation, menjabarkan 17 sub-sektor dalam ekonomi kreatif.

Cakupan ekonomi kreatif ini amat luas, antara lain mulai dari kuliner, fesyen, seni pertunjukan, arsitektur, desain interior, desain produk, gim, aplikasi gawai, hingga film, animasi, musik dan fotografi.

Kebudayaan lokal menjadi akar yang melahirkan produk kreatif tersebut. Ciri khas budaya menambah keunikan dan nilai jualnya. Berbarengan dengan menghasilkan keuntungan ekonomi, sektor kreatif juga berarti merawat kebudayaan bangsa.

Sebagian besar dari aspek ekonomi kreatif itu juga berpindah media ke dunia digital, menyesuaikan dengan perkembangan teknologi zaman kini. Potensi cuan yang dihasilkan juga tercatat tak main-main.

Muhammad Neil El Himam, Deputi Ad Interim Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif, mencontohkan perputaran ekonomi di sektor perfilman Tanah Air.

“Film Indonesia di bioskop tengah mendominasi pasar domestik. Ada sebuah aplikasi bernama CinePoint yang menunjukkan data bahwa penjualan di Tanah Air mencapai 150-an juta tiket. Dan sekitar 75-78 juta di antaranya adalah film Indonesia,” kata Neil.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana caranya agar segala potensi itu tak hanya merajai negeri sendiri, namun juga bisa dikenal oleh masyarakat dunia luar.

Cara Korea Selatan

Ketekunan Korea Selatan patut menjadi contoh, bagaimana negara yang merdeka hanya lebih awal dua hari dengan Indonesia itu mampu menyebarkan K-Wave hingga mencapai popularitasnya saat ini.

Bicara popularitas, Indonesia telah menjadi pasar super besar bagi gelombang budaya Korea, mulai dari drama seri, film, musik, bahasa, kuliner, hingga terus merambah ke fesyen, produk kosmetik, dan teknik perawatan kecantikan.

Gangsim Eom, kandidat doktor Universitas Harvard sekaligus peneliti tamu di Universitas Indonesia, menyebut K-Wave memulai debut di panggung Tanah Air pada 2009 lewat konser penyanyi kenamaan Rain dalam Asia Tour in Jakarta.

Satu setengah dekade kemudian, ternyata gelombang penggemar dari masyarakat Indonesia tak terlihat redup sama sekali, malah kian membesar.

“Tahun lalu kita merayakan peringatan 50 tahun hubungan bilateral Indonesia-Korea, dan saat itu salah satu pakar ilmu kebudayaan dari UGM, Dr. Suray Agung Nugroho, berpandangan bahwa K-Wave telah berkembang menjadi K-Tsunami di Indonesia,” kata Eom dalam lokakarya FPCI-Korea Foundation.

Istilah ini tidak berlebihan jika kita melihat besarnya pengaruh fenomena ke-Korea-an. Gelombang budaya Korea telah menjalar ke mana-mana.

Belakangan, tak jarang tokoh dan kampanye politik melibatkan unsur K-Pop, K-Drama untuk menggaet massa. Penggemar K-Pop dan K-Drama juga seringkali menggalang dana sumbangan untuk masyarakat yang dilanda musibah.

Keberhasilan soft-power diplomacy Korea Selatan diganjar dengan nilai fantastis. Badan Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD) menyebut sektor kreatif negara itu tumbuh 4-5 persen dengan lebih dari 600.000 pekerja, menghasilkan laba ekspor hingga 12,4 miliar dolar AS pada 2021 lalu.

Korea telah mengupayakan soft power sejak 1990-an yang secara geopolitik berada di tengah kekuatan besar dunia kala itu, Amerika Serikat, China, Jepang. Kebudayaan menjadi modal besar bagi Korea untuk menyebarkan pengaruh kepada dunia.

Dukungan pendanaan dari pemerintah pastinya berperan besar terhadap perkembangan K-Wave. Inovasi dari pelaku budaya dan ekonomi kreatif pun diperlukan agar dunia dibuat penasaran dengan hal baru. Kolaborasi hal mutlak.

“Tentu saja supaya bisa mencapai itu, kebebasan berekspresi adalah aspek yang sangat penting. Sensor terhadap kebebasan bisa jadi berbahaya bagi industri kreatif,” kata Eom.

Yakin dengan I-Wave

Indonesia memang tidak diam saja, banyak cara dicoba demi mengekspos budaya dan sektor kreatif kita agar lebih dikenal dunia. Festival Indonesia hadir di berbagai negara sebagai langkah diplomasi antar-masyarakat.

Di Korea, misalnya, Indonesian-Wave baru mulai bangkit pada 2019. Dampak yang dihasilkan memang belum semasif budaya Korea di Indonesia.

Tentu banyak faktor yang memengaruhi hal itu. Eom melihat salah satunya karena pandangan masyarakat Korea terhadap masuknya budaya luar—tidak cuma dari Indonesia.

Korea Selatan mengalami peristiwa sejarah politik dan budaya yang tidak bisa dibilang biasa saja, sebutlah kolonialisme Jepang dan perang Korea. Hal-hal itu berdampak pada pola perilaku masyarakat negara itu.

“Krisis eksistensial semacam ini membuat masyarakat Korea lebih memikirkan permasalahan di dalam negeri sendiri. Sehingga mereka tidak punya banyak waktu untuk memikirkan hal di luar itu,” kata Eom.

Bagaimanapun, Indonesia tetap percaya diri untuk tampil di panggung dunia. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan bahwa bangsa ini amat kaya budaya, pelaku industri kreatif juga begitu menggeliat. Dan itulah modal besar yang kita miliki.

Indonesia bisa meniru langkah-langkah strategis yang dilakukan negara Asia seperti Korea Selatan dalam memajukan ekonomi kreatif. Namun, penyebaran budaya Indonesia bisa saja menarget negara di belahan dunia lain yang budayanya sama sekali berbeda.

“Dalam perfilman, misalnya, ada JAFF dan JAFF Market juga yang dihadiri oleh 96 peserta pameran dari berbagai negara. Dan itu membuat jejaring yang sangat baik antara semua stakeholders yang ada,” kata Menbud.

Dengan modal kebudayaan melimpah, kemauan dari pelaku industri kreatif, dan dukungan pemerintah, pantas kalau I-Wave diyakini juga bisa menciptakan gelombang pengaruhnya di luar Indonesia.

2024  ·  Journalist Network 2024
Potensi Indonesia Bangun Ekonomi Kreatif Mirip K-Wave, Bisa?

Potret Numbay Creative Festival di Jayapura, Papua (Dok. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif)

Jakarta, IDN Times – Indonesia terus menggedor potensi ekonomi kreatifnya. Dengan jumlah penduduk yang besar dan budaya kaya, Indonesia diyakini memiliki modal kuat demi memperluas pengaruhnya.

Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Muhammad Neil El Himam, menyatakan Indonesia sebenarnya bisa memanfaatkan heterogenitas budaya dan banyaknya kekayaan intelektual yang tersedia. Beberapa kesenian bahkan sudah merebut pasarnya tersendiri, baik dalam dan luar negeri.

Lagu-lagu berbahasa Jawa memang belakangan laku di Indonesia, bahkan Malaysia dan Singapura. Terlebih, beberapa penyanyi Indonesia terkenal pula di dua negara tersebut.

“Kita punya aset karena budaya yang kaya. Pada dasarnya, semua negara punya potensi menciptakan ekonomi kreatif dari budayanya sendiri,” kata Neil dalam seminar bersama Foreign Policy Community of Indonesia dan Korea Foundation beberapa waktu lalu.

1. Harus selesaikan banyak PR
Namun, Indonesia harus bekerja keras demi membangun ekosistem ekonomi kreatifnya. Banyak PR harus diselesaikan seperti infrastruktur, pemerataan talenta, hingga peningkatan literasi digital, yang menjadi fondasi dalam ekonomi kreatif.

Akses modal juga jadi salah satu hal yang perlu disorot. Sebab, banyak potensi yang bisa digali lewat kuliter, game, fesyen, namun sering mengalami kesulitan mengembangkannya karena butuh modal besar.

“Pendekatan strategis juga dibutuhkan agar produknya bisa diterima. Jadi, bukan cuma lewat influencer,” kata Neil.

2. Kebebasan berekspresi sangat penting

Peneliti dan kandidat PhD Harvard University, Gangsim Eom, merasa tantangan lain dari perkembangan ekonomi kreatif adalah sensor. Aturan sensor harus diperjelas agar tak mengekang kebebasan berekspresi. Sebab, berkaca dari kesuksesan K-Wave, menurut Eom, pemerintah Korea Selatan memberikan kebebasan terhadap pelaku industri kreatif untuk mengembangkan dirinya.

“Selain pendanaan, kebebasan berekspresi juga penting,” ujar Eom.

3. Indonesia bisa langsung dekati pasar global
Eom percaya Indonesia bisa mendongkrak daya tawarnya lewat ekonomi kreatif yang menjadi alat dalam diplomasi budaya. Dengan kekayaan budaya Indonesia, Eom merasa modal yang dimiliki sudah kuat.

Kuncinya, ditegaskan Eom, Indonesia bisa melakukan pendekatan yang tepat dengan menyasar langsung pasar global. Selain itu, penggunaan bahasa Inggris sebagai pengantar dalam penyebaran informasi dan produk ekonomi kreatif juga bisa dimanfaatkan.

“Menyasar pasar global seperti Amerika Serikat bisa jadi pilihan, ketimbang ke Asia,” kata Eom.

Sumber: https://www.idntimes.com/business/economy/potensi-indonesia-bangun-ekonomi-kreatif-mirip-k-wave-bisa-00-dtjm6-crthv3



2024  ·  Journalist Network 2024
Indonesian Wave Bersinar di Korsel, Diplomasi Budaya Perkuat Hubungan Bilateral

Kandidat PhD di Harvard University, Gangsim Eom (memegang mik) menjadi narasumber dalam workshop Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea bertajuk Building Stronger Ties: Indonesia-Korea Collaboration Through People to People Connection, yang digelar Korea Foundation dan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Jakarta, Senin (9/12/2024). (Foto: FPCI)

RM.id  Rakyat Merdeka – Korean Wave atau K-Wave telah mendominasi budaya populer global, memberikan pengaruh besar di berbagai belahan dunia. Namun, siapa sangka, kebudayaan Indonesia kini juga mulai menarik perhatian dan berkembang di luar negeri, khususnya di Korea Selatan.

Gangsim Eom, kandidat PhD di Harvard University dan peneliti tamu di Universitas Indonesia, mengungkapkan bahwa fenomena ini menunjukkan hubungan dua arah. “Tidak hanya budaya Korea yang memengaruhi Indonesia, tetapi kebudayaan Indonesia juga mulai memberikan pengaruh di Korea,” jelasnya.

Perempuan yang karib disapa Simi itu menjelaskan, sejak 2019 Korea Selatan secara khusus merayakan budaya Indonesia. Mulai dari festival budaya, kelas memasak, hingga pertunjukan seni. 

“Acara-acara seperti ini menunjukkan bahwa budaya Indonesia kini memiliki pengaruh yang signifikan di Korea Selatan,” ungkap Eom, dalam workshop Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea_yang digelar Korea Foundation dan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Jakarta, Senin (9/12/2024). Workshop bertajuk Building Stronger Ties: Indonesia-Korea Collaboration Through People to People Connectionitu. 

Melanjutkan paparannya, Eom menyebut, media Korea juga mulai menampilkan elemen budaya Indonesia. Menurut Eom, ini adalah peluang besar untuk mempererat hubungan bilateral melalui diplomasi budaya. 

Media sosial, sambungnya, juga menjadi jembatan penting dalam hubungan Indonesia-Korea. Dengan waktu penggunaan media sosial harian yang tinggi, Indonesia menjadi pasar strategis untuk kampanye K-wave. 

“Namun, ini juga menghadirkan tantangan, seperti bagaimana memastikan konten budaya yang positif dan membangun mendominasi lanskap digital,” ucapnya.

K-wave, lanjutnya, telah membawa perubahan besar dalam interaksi budaya antara Indonesia dan Korea Selatan. Hubungan yang didukung diplomasi antarwarga, media sosial, dan pengaruh budaya, memiliki potensi untuk berkembang lebih jauh.

“Kepercayaan itu tidak diberikan, melainkan diperoleh,” ujarnya.

Lebih lanjut, kata dia, K-wave, telah jadi fenomena global. Mulai dari musik hingga drama, budaya pop Korea mendominasi panggung dunia. Indonesia disebut memainkan peranan penting dalam popularitas tersebut. 

Data Spotify 2023 menunjukkan, Indonesia menempati peringkat ketiga untuk jumlah streaming artis K-pop di dunia. Hanya di bawah Jepang dan Amerika Serikat (AS). 

https://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?gdpr=0&client=ca-pub-4856760029410872&output=html&h=280&adk=3789469862&adf=4084342990&w=555&abgtt=9&fwrn=4&fwrnh=100&lmt=1751869707&num_ads=1&rafmt=1&armr=3&sem=mc&pwprc=1773395033&ad_type=text_image&format=555×280&url=https%3A%2F%2Frm.id%2Fbaca-berita%2Finternasional%2F247226%2Findonesian-wave-bersinar-di-korsel-diplomasi-budaya-perkuat-hubungan-bilateral&fwr=0&pra=3&rh=139&rw=555&rpe=1&resp_fmts=3&wgl=1&fa=27&uach=WyJtYWNPUyIsIjE1LjUuMCIsImFybSIsIiIsIjEzOC4wLjcyMDQuOTMiLG51bGwsMCxudWxsLCI2NCIsW1siTm90KUE7QnJhbmQiLCI4LjAuMC4wIl0sWyJDaHJvbWl1bSIsIjEzOC4wLjcyMDQuOTMiXSxbIkdvb2dsZSBDaHJvbWUiLCIxMzguMC43MjA0LjkzIl1dLDBd&dt=1751869705755&bpp=1&bdt=4228&idt=1&shv=r20250630&mjsv=m202507010101&ptt=9&saldr=aa&abxe=1&cookie=ID%3Df0fe50366a065c03%3AT%3D1751811859%3ART%3D1751869705%3AS%3DALNI_MYofa9c3iP1Z_o2be65hmABJyz_Jg&gpic=UID%3D00001154c1c3c7b0%3AT%3D1751811859%3ART%3D1751869705%3AS%3DALNI_Mb4I2dP45LMC78JziIOn3CDDPcHjg&eo_id_str=ID%3D938878cbf73d0f13%3AT%3D1751811859%3ART%3D1751869705%3AS%3DAA-AfjazsMpA1no2zwHtazpX6ohY&prev_fmts=0x0%2C160x400%2C360x280%2C1140x280%2C555x280%2C555x280%2C555x280%2C555x280&nras=6&correlator=3307961532108&frm=20&pv=1&u_tz=420&u_his=1&u_h=900&u_w=1440&u_ah=807&u_aw=1440&u_cd=30&u_sd=2&dmc=8&adx=150&ady=2743&biw=1440&bih=720&scr_x=0&scr_y=189&eid=31093234%2C42532523%2C95353387%2C95362656%2C95365225%2C95365235%2C95365111%2C95359266%2C95365121%2C95365798%2C31092548&oid=2&pvsid=882538123875021&tmod=1319975401&uas=3&nvt=1&ref=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2F&fc=1408&brdim=0%2C25%2C0%2C25%2C1440%2C25%2C1440%2C807%2C1440%2C720&vis=1&rsz=%7C%7Cs%7C&abl=NS&fu=128&bc=31&bz=1&td=1&tdf=2&psd=W251bGwsbnVsbCxudWxsLDNd&nt=1&ifi=9&uci=a!9&btvi=7&fsb=1&dtd=2154

“Bahkan, empat kota di Indonesia termasuk dalam 17 besar kota dengan pendengar Spotify bulanan terbanyak,” terangnya.

Eom menjelaskan, jejak K-wave di Indonesia dimulai pada 2009. Lewat konser tur Asia Rain di Jakarta. Popularitas ini semakin meningkat setelah konser SM Town World Tour pada 2012.

Dia mengaku menyaksikan langsung dedikasi para artis Korea yang terus menginspirasi penggemar Indonesia. Bahkan, dia bercerita, tentang pengemudi taksi online yang membagikan pengalaman soal bagaimana konser band asal Korea Blackpink, menyebabkan kemacetan total di Jakarta.

Menurut Eom, hal tersebut menunjukkan bahwa K-wave telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. “Tidak hanya terbatas pada kalangan penggemar,” ujarnya.

Selain itu, kata dia, K-wave juga digunakan sebagai alat dalam diplomasi budaya dan politik di Indonesia. Eom menjelaskan bahwa fenomena “politik fandom” mulai terlihat sejak kampanye Gubernur Jakarta pada 2012. Ketika lagu Gangnam Style dipopulerkan.

Dalam beberapa tahun terakhir, figur politik Indonesia mulai menggunakan elemen budaya Korea untuk mendekati pemilih muda. Seperti Ganjar Pranowo yang mengutip ungkapan bahasa Korea dalam kampanyenya.

Selain itu, figur K-Wave seperti Choi Si-won dari Super Junior turut aktif dalam diplomasi public. “Memperkuat hubungan antara kedua negara. Jadi, ini lebih dari sekadar budaya pop,” ujarnya.

Pasalnya, sambung Eom, hubungan Indonesia dan Korea juga ditopang diplomasi antarwarga yang sudah berlangsung lama. Sejak 1980-an, berbagai program pertukaran budaya, mulai dari kerja sama pendidikan hingga perayaan hari kemerdekaan bersama, telah mempererat hubungan kedua negara.

Kata dia, keberhasilan hubungan itu tak lepas dari kerja keras para sukarelawan. “Baik anak muda maupun ibu rumah tangga, yang menyatukan kedua budaya,” ujarnya. 

Di kesempatan yang sama, Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Muhammad Neil El Himam menyebut, banyak budaya dan produk kekayaan intelektual yang bisa dimanfaatkan untuk nilai tambah. Seperti film, bahasa lokal, hingga makanan khas Indonesia.

“Bagaimana mengkomersialisasikan semua itu. Karena kita kaya akan budaya,” ujar Neil.

Dia mengatakan, Indonesia memiliki lebih dari 200 lebih bahasa daerah. Menurutnya, itu adalah aset. Katanya, semua negara punya potensi untuk menciptakan ekonomi kreatif dari budaya. “Seperti misalnya bahasa Jawa, Campur Sari yang cukup besar pasarnya,” katanya.

Namun, Neil tak memungkiri. Sektor ekonomi kreatif masih tergolong baru di Indonesia. Makanya, kata dia, ada sejumlah tantangan yang dihadapi. Seperti perlindungan kekayaan intelektual, akses pendanaan dan modal, kemampuan teknologi dan akses pasar serta jaringan ekosistem yang mendukung. 

https://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?gdpr=0&client=ca-pub-4856760029410872&output=html&h=280&adk=3789469862&adf=4112873355&w=555&abgtt=9&fwrn=4&fwrnh=100&lmt=1751869739&num_ads=1&rafmt=1&armr=3&sem=mc&pwprc=1773395033&ad_type=text_image&format=555×280&url=https%3A%2F%2Frm.id%2Fbaca-berita%2Finternasional%2F247226%2Findonesian-wave-bersinar-di-korsel-diplomasi-budaya-perkuat-hubungan-bilateral&fwr=0&pra=3&rh=139&rw=555&rpe=1&resp_fmts=3&wgl=1&fa=27&uach=WyJtYWNPUyIsIjE1LjUuMCIsImFybSIsIiIsIjEzOC4wLjcyMDQuOTMiLG51bGwsMCxudWxsLCI2NCIsW1siTm90KUE7QnJhbmQiLCI4LjAuMC4wIl0sWyJDaHJvbWl1bSIsIjEzOC4wLjcyMDQuOTMiXSxbIkdvb2dsZSBDaHJvbWUiLCIxMzguMC43MjA0LjkzIl1dLDBd&dt=1751869705763&bpp=1&bdt=4236&idt=0&shv=r20250630&mjsv=m202507010101&ptt=9&saldr=aa&abxe=1&cookie=ID%3Df0fe50366a065c03%3AT%3D1751811859%3ART%3D1751869705%3AS%3DALNI_MYofa9c3iP1Z_o2be65hmABJyz_Jg&gpic=UID%3D00001154c1c3c7b0%3AT%3D1751811859%3ART%3D1751869705%3AS%3DALNI_Mb4I2dP45LMC78JziIOn3CDDPcHjg&eo_id_str=ID%3D938878cbf73d0f13%3AT%3D1751811859%3ART%3D1751869705%3AS%3DAA-AfjazsMpA1no2zwHtazpX6ohY&prev_fmts=0x0%2C160x400%2C360x280%2C1140x280%2C555x280%2C555x280%2C555x280%2C555x280%2C555x280%2C555x280%2C555x280%2C555x280&nras=10&correlator=3307961532108&frm=20&pv=1&u_tz=420&u_his=1&u_h=900&u_w=1440&u_ah=807&u_aw=1440&u_cd=30&u_sd=2&dmc=8&adx=150&ady=4442&biw=1440&bih=720&scr_x=0&scr_y=1592&eid=31093234%2C42532523%2C95353387%2C95362656%2C95365225%2C95365235%2C95365111%2C95359266%2C95365121%2C95365798%2C31092548&oid=2&pvsid=882538123875021&tmod=1319975401&uas=3&nvt=1&ref=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2F&fc=1408&brdim=0%2C25%2C0%2C25%2C1440%2C25%2C1440%2C807%2C1440%2C720&vis=1&rsz=%7C%7Cs%7C&abl=NS&fu=128&bc=31&bz=1&td=1&tdf=2&psd=W251bGwsbnVsbCxudWxsLDNd&nt=1&ifi=13&uci=a!d&btvi=11&fsb=1&dtd=34045

Neil bilang, untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan perlu adanya kerja sama model hexahelix. Yakni, kolaborasi antara Pemerintah, media, akademik dan riset, komunitas, juga pihak bisnis. Kata Neil, dari sektor ekonomi kreatif, ada sekitar 24,9 juta orang yang menggantungkan hidup mereka. 

“Jumlahnya hampir dua kali lipat jika dibandingkan 10 tahun lalu yang hanya 14 juta orang,” ungkapnya.

Kolaborasi dengan pihak lain, termasuk negara asing juga dianggap bisa menciptakan peluang. Salah satunya dengan adanya Korean Wave atau Hallyu ke Indonesia. Menurut Neil, Korean Wave tidak hanya memberikan keuntungan bagi Korea Selatan. Tapi juga bagi Indonesia. 

“Korea Selatan sukses memperkenalkan budaya mulai dari K-Pop, musik, film, hingga makanan mereka. Indonesia bisa mencontoh hal itu,” pungkasnya.

Sumber: https://rm.id/baca-berita/internasional/247226/indonesian-wave-bersinar-di-korsel-diplomasi-budaya-perkuat-hubungan-bilateral

« First‹ Previous2345678910Next ›Last »
Page 6 of 25

Youtube
Twitter
Facebook
Instagram
Copyright 2021 - www.indonesia-koreajournalist.net