• Home
  • Services
  • Pages
    • About 1
    • About 2
    • About 3
    • About 4
    • Our Team
    • Contact 1
    • Contact 2
    • Service 1
    • Service 2
    • Service 3
  • Portfolio
    • Column One
      • Portfolio Classic
      • Portfolio Grid
      • Portfolio Grid Overlay
      • Portfolio 3D Overlay
      • Portfolio Contain
    • Column Two
      • Portfolio Masonry
      • Portfolio Masonry Grid
      • Portfolio Coverflow
      • Portfolio Timeline Horizon
      • Portfolio Timeline Vertical
    • Column Four
      • Single Portfolio 1
      • Single Portfolio 2
      • Single Portfolio 3
      • Single Portfolio 4
      • Single Portfolio 5
    • Column Three
      • Video Grid
      • Gallery Grid
      • Gallery Masonry
      • Gallery Justified
      • Gallery Fullscreen
  • Blog
    • Blog Grid No Space
    • Blog Grid
    • Blog Masonry
    • Blog Metro No Space
    • Blog Metro
    • Blog Classic
    • Blog List
    • Blog List Circle
  • Slider
    • Column One
      • Vertical Parallax Slider
      • Animated Frame Slider
      • 3D Room Slider
      • Velo Slider
      • Popout Slider
      • Mouse Driven Carousel
    • Column Two
      • Clip Path Slider
      • Split Slick Slider
      • Fullscreen Transition Slider
      • Flip Slider
      • Horizon Slider
      • Synchronized Carousel
    • Column Three
      • Multi Layouts Slider
      • Split Carousel Slider
      • Property Clip Slider
      • Slice Slider
      • Parallax Slider
      • Zoom Slider
    • Column Four
      • Animated Slider
      • Motion Reveal Slider
      • Fade up Slider
      • Image Carousel Slider
      • Glitch Slideshow
      • Slider with other contents
  • Shop

Journalist Network 2025

2025  ·  Journalist Network 2025
Belajar dari Korea agar Film Indonesia Mendunia
Poster film Parasite (dok. CJ Entertainment)

Jakarta, IDN Times -Perjalanan film Sore: Istri dari Masa Depan di ajang Oscar 2026 terhenti. Film karya sutradara Yandy Laurens itu tak berhasil masuk daftar pendek untuk kategori Best International Feature Film yang dirilis situs resmi Academy Awards ke-98. 

Nasib serupa juga terjadi pada film Women from Rote Island. Film yang disutradarai Jeremias Nyangoen itu juga gagal menembus nominasi ajang Piala Oscar 2025. Di sisi lain, Korea Selatan sudah lama melaju menembus ajang prestis Oscar. 

Lewat Parasite yang dirilis pada 2019, film besutan Bong Joon-Ho itu berhasil menyabet empat Oscar sekaligus. Mereka berhasil meraih penghargaan film terbaik, sutradara terbaik, film internasional terbaik, dan best original screenplay. Selain itu, Parasite juga menorehkan sejarah karena menjadi film Berbahasa non-Inggris pertama dalam sejarah Oscar yang memenangkan penghargaan film terbaik. 

Tetapi, Parasite bukan hasil pekerjaan satu malam. Butuh usaha konsistensi puluhan tahun, termasuk dari pemerintah, sehingga industri perfilman Korea Selatan bisa menembus dan mendapat pengakuan dari dunia internasional. 

Direktur Program Film Internasional di Busan Cinema Centre, Chun Hye-jin, mengatakan hal itu dimulai dari kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah Korsel, salah satunya lewat revisi Undang-Undang Promosi Film yang direvisi pada 1996. 

“Salah satu kebijakannya adalah adanya kuota layar film lokal. Di mana film-film lokal Korea wajib diputar selama 146 hari per tahun. Sayangnya pada 2006, kuota itu berkurang menjadi 76 hari saja dalam satu tahun,” ujar Chun ketika memberikan paparan dalam lokakarya Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan Korea Foundation di Jakarta, awal Desember 2025. 

Ia mengatakan keberadaan Festival Internasional Film Busan (BIFF) juga menjadi salah satu pondasi penting bagi kebangkitan film Korea. Digelar kali pertama pada 1996, BIFF dihadiri sekitar 186 ribu pengunjung. 

“BIFF ini juga menjadikan Busan sebagai kota sinema dan menginspirasi generasi baru untuk membuat film yang berkontribusi besar terhadap berkembangnya sinema dan talent-talent film,” tutur Chun. 

Dengan adanya pertumbuhan eksponensial lewat pengenalan sistem kuota layar, lonjakan modal swasta dan pembentukan ekosistem kreatif yang berpusat pada sutradara, maka berkontribusi signifikan pada pangsa pasar film lokal. Terbukti pada 2002, pangsa pasar film Korea mencapai 50 persen. 

1. Lebih banyak kontribusi swasta yang dorong film Korea ke panggung global
Sementara, ketika IDN Times tanyakan apa kontribusi dari pemerintah, sehingga film Korea bisa tembus panggung Hollywood, Chun justru menyebut itu semua lebih banyak kontribusi dari pihak swasta. 

“Film-film yang sukses seperti Squid Game dan Parasite lebih banyak menerima dukungan dari perusahaan besar seperti CJ. Salah satu support yang diberikan seperti fee promotion atau biaya promosi untuk film-film tersebut,” ujar dia.

Meski begitu, Chun mengakui kontribusi dari pemerintah tetap ada. Salah satunya Pemerintah Korea Selatan berencana menghidupkan kembali industri film dengan cara meningkatkan jumlah penonton film lokal. 

Laman Korea JoongAng Daily pada Rabu, 24 Desember 2025 melaporkan Kementerian Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata akan mengumumkan rencana pembelian tiket film di bioskop berbasis langganan. Caranya, pemerintah menawarkan paket menonton seharga 24.000 Won atau Rp290 ribu untuk menonton empat judul film. 

Dengan kebijakan itu, kata Chun, penonton hanya perlu membayar 6.000 Won atau Rp71 ribu per judul film. Pemerintah bakal memberikan subsidi 15.000 Won atau Rp176 ribu. Sehingga, warga Korea hanya perlu mengeluarkan biaya 9.000 Won atau setara Rp106 ribu. Kebijakan itu direncanakan akan berlaku pada 2027.

Wakil Menteri Budaya, Kim Young-soo, mengatakan biaya produksi film dan investasi baru akan balik modal bila warga kembali menonton film di bioskop. Sementara, para sineas lebih suka membuat film untuk ditayangkan di platform OTT, lantaran nilai investasinya jelas kapan akan kembali. 

“Lebih banyak produser sekarang menyasar platform streaming dan investasi di film bioskop dianggap lebih berisiko, karena jumlah penonton merosot drastis. Hal itu seiring dengan pola dan kebiasaan menikmati hiburan yang berubah,” ujar Kim. 

2. Film Indonesia jarang tayang di Korsel karena perbedaan selera
Chun juga mengakui film-film Indonesia jarang ditayangkan di bioskop reguler di Korea Selatan. Salah satu kesulitan yang dihadapi film Indonesia, yakni soal perbedaan selera. Ia pun menyarankan Indonesia bisa menayangkan film dengan genre horor, karena tema itu juga digemari warga Negeri Ginseng. 

“Tapi film bergenre horor bisa menjadi salah satu yang masuk ke dalam industri perfilman Korea. Seperti di Thailand yang memiliki ciri khas boys love,” kata dia. 

Chun mendorong juga melakukan promosi, sehingga ketika warga Korea mendengar film Indonesia secara otomatis mengasosiasikan film horor. “Ini bisa menjadi titik awal pengenalan film Indonesia bagi warga Korea. Bahwa film Indonesia seru juga ya,” tutur dia. 

3. Butuh dana besar untuk film Indonesia agar bisa tembus Oscar
Sementara, sutradara film Woman From Rote Island, Jeremias Nyangeon dalam wawancara bersama IDN Times menyebut butuh upayahingga dana besar, serta dukungan dari pemerintah agar hal film-film Indonesia bisa tembus nominasi Oscar. Tanpa bantuan dari pemerintah, maka hal itu sulit terealisasi. 

“Kalau saya hanya bisa mengatakan, bahwa sulit ya kita bisa tembus kalau pemerintah kita juga tidak turun tangan. Biasanya bukan hanya bicara kualitas film saja, tetapi untuk tembus ke sana, nominasi saja, itu membutuhkan effort yang besar. Dana yang cukup besar,” ungkap Jeremias pada September 2025.

Ia menjelaskan film Asia yang berhasil tembus nominasi Oscar rata-rata harus menggandeng publisher internasional. Biaya yang dibutuhkan untuk menggaet publisher internasional bisa mencapai Rp1,5 sampai Rp2 miliar.

“Publisher itu yang akan mengatur bahwa film-film kita, film nominator, nominasi, atau yang sudah lolos seleksi untuk diputar di sejumlah negara bagian,” lanjutnya. 

Ia juga mengaku mengetahui fakta tersebut baru-baru ini. Selanjutnya, film yang dikirim juga butuh menggelar pemutaran khusus di negara-negara lain. Tujuannya agar film tersebut makin dikenal masyarakat luas, sehingga kemungkinan untuk bisa masuk nominasi akan makin besar.

“Pemutaran di tempat-tempat khusus, bisa di bioskop atau apa, karena saya belum pernah, saya tidak tahu. Tapi ya di sejumlah negara bagian. Asumsi saya dan teman-teman, bahwa mungkin diputar di sejumlah bioskop atau tempat khusus pemutaran film, misalnya museum. Nah, itu kan butuh biaya, paling tidak tiga sampai tujuh negara bagian,” ujar sutradara yang pernah membintangi film Kanibal – Sumanto (2004) itu.

Source: https://www.idntimes.com/korea/kdrama/belajar-dari-korea-agar-film-indonesia-mendunia-00-bbwlv-6ksk66

2025  ·  Journalist Network 2025
CGV Cinema dan Komitmen Jadi Rumah Bagi Film Korea-Indonesia
Ilustrasi Bioskop CGV yang ada di Grand Indonesia, Jakarta Pusat. (Dokumentasi CGV Indonesia)

Jakarta, IDN Times -Situasi di CGV Cinema di sebuah pusat perbelanjaan mewah di kawasan Jakarta Pusat, terlihat ramai, Jumat, 26 Desember 2025. Warga Jakarta memanfaatkan waktu libur akhir tahun untuk menikmati sejumlah film di jaringan bioskop asal Korea Selatan itu.

Salah satu film yang ramai ditonton adalah “Agak Laen 2”. Berdasarkan data dari rumah produksi Imajinari, film ini sudah mencapai 9 juta penonton. 

Besarnya jumlah penonton film di Tanah Air pula yang menjadi alasan CJ CGV mengakuisisi Blitz Megaplex. Selain itu, CGV juga bisa memiliki jaringan bioskop yang sudah berjalan dan tersebar di banyak kota. 

Senior Manager CGV, Kim Sun-cheol, mengatakan populasi Indonesia yang jumlahnya terbesar keempat di dunia turut menjadi alasan. Jumlah penduduk Indonesia kini mencapai lebih dari 285 juta. 

“Median usia penduduknya juga muda. Rata-rata berusia 30 tahun. Mereka rata-rata lahir dari 1980-an hingga awal 2000,” ujar Kim ketika berbicara di lokakarya program Indonesian Next Journalist Network on Korea oleh Foreign Policy Community of Indonesia dan Korea Foundation pada awal Desember 2025 di Jakarta Selatan. 

Jumlah penduduk muda yang besar itu juga ditopang realita tingginya pengguna internet di Tanah Air. Angkanya mencapai 230 juta pengguna, di mana lebih dari 90 persen di antaranya merupakan pengguna aplikasi pesan pendek WhatsApp. 

Selain itu, kelompok kelas menengah Indonesia, kata Kim, juga meningkat. Dengan begitu, lebih banyak konsumen yang mampu untuk menikmati hiburan lewat platform Over The Top (OTT). 

1. Kemunculan gelombang Korea di Indonesia
Kim juga menjelaskan awal mula kemunculan gelombang Korea atau Hallyu di Indonesia. Gelombang Korea itu tidak langsung meledak di film, tetapi lewat drama televisi. Sejumlah judul seperti Endless Love, Winter Sonata hingga Full House ternyata digemari publik di Tanah Air pada 2002 hingga 2005. 

Dari sana, penonton Indonesia mulai mengenal aktor-aktor Korea Selatan. Selain itu, publik di Tanah Air juga terbiasa dengan gaya tutur aktor Korsel yang cenderung emosional, lambat, dan humanis. 

Dalam fase lanjut Hallyu, Korea tidak hanya mengekspor produk jadi, tetapi juga hak adaptasi (IP/Format). Hal ini membuat film Korea dapat diadaptasi sesuai konteks lokal, termasuk Indonesia. 

Kim kemudian menyebut sejumlah film Indonesia yang merupakan adaptasi dari Korea. Mulai dari Sunny yang diadaptasi menjadi film Bebas, Miracle Cell No. 7 yang diadaptasi dengan judul yang sama, hingga Pawn yang diadopsi dengan judul Panggil Aku Ayah.

“Film Sunny ditonton oleh lebih dari 7,4 juta orang yang kemudian diadaptasi menjadi film Bebas dan tayang pada 2019,” kata Kim. 

Namun, film itu hanya meraih 513.521 penonton di Tanah Air. Meski tidak sebanyak penonton di Korea Selatan, tetapi angka tersebut jadi indikator antusiasme dari penonton Indonesia. 

Film adaptasi lainnya yakni Miracle Cell No. 7 mendapat antusiasme luar biasa dari penonton di Tanah Air. Ketika tayang pada 2022, film yang disutradarai Hanung Brahmantyo itu ditonton 5,8 juta orang. Sedangkan, film aslinya ditonton 12,8 juta penonton. 

“Film-film itu menjadi contoh bagaimana Korea Selatan dapat berkolaborasi dengan Indonesia. Film-film terbukti sukses menyentuh sisi emosi para penonton,” tutur dia. 

2. Film Exhuma sangat populer di Indonesia
Kim pun menunjukkan film Korea Selatan lainnya yang mendapat sambutan positif dari penonton di Tanah Air, yakni Exhuma. Film yang tayang pada Februari 2024 itu ditonton 2,3 juta orang di Indonesia. 

“Film Exhuma ini merupakan film Korea terlaris sepanjang masa di Indonesia. Sampai reporter-reporter dari Korea untuk mencari tahu kenapa sih film ini bisa benar-benar besar,” ujar Kim. 

Ia mengatakan pembuat film Exhuma tidak berencana menayangkan film tersebut di Indonesia. Itu semua terjadi tiba-tiba. Produser film itu pun terkejut Exhuma bisa booming di Tanah Air. 

“Kultur yang ditampilkan di film itu memiliki resonansi atas kultur yang ada di Indonesia. Apalagi publik Indonesia kan suka film horror,” tutur dia. 

Prosesi pemakaman jenazah di film Exhuma juga memiliki kemiripan dengan kultur di Indonesia. Sebab, jenazah di film itu dikebumikan dan bukan dikremasi. 

“Di film itu, prosesi pemakaman jenazah juga dilakukan secara cepat. Hal itu mirip dengan yang terjadi di Indonesia. Pemeluk agama Islam yang mayoritas di Indonesia kan akan langsung memakamkan jenazah orang yang meninggal,” katanya. 

3. CGV bisa lebih optimalkan layar untuk film Indonesia
Sementara, dalam pandangan peneliti budaya populer, Hikmat Darmawan, keberadaan jejaring bioskop jelas memberikan kontribusi bagi film-film Indonesia agar dinikmati lebih banyak penonton. Meskipun pangsa pasar CGV Cinema hanya 25 persen dari jaringan bioskop raksasa, XXI.

“Tapi, CGV could do much better. Salah satunya dengan menjadi kompetitor sehat,” ujar Hikmat ketika dihubungi IDN Times melalui telepon, Senin (29/12/2025).

Apalagi, kata dia, industri perfilman Indonesia tengah naik daun. Kinerja positif itu sudah terlihat sejak kuartal I 2025. Hal itu salah satunya terbantu momentum Lebaran. Tren perfilman Indonesia, kata Hikmat, tergolong baik. Sebab, diversifikasi genre makin bervariasi. 

Film Indonesia tidak hanya horor tetapi juga film keluarga. Salah satu film Indonesia yang sukses adalah Jumbo yang diproduksi Visinema Pictures dan disutradarai Ryan Adriandhy. Hingga akhir penayangannya, Jumbo telah ditonton lebih dari 10 juta orang di bioskop Indonesia. 

“Pada saat bersamaan, film Norma: Antara Mertua dan Menantu itu benar-benar flop (gagal). Padahal, menjual sensasi (yang selama ini disukai). Itu tidak sesuai perkiraan, padahal sudah dimainkan oleh bintang-bintang besar,” katanya.

2025  ·  Journalist Network 2025
Strategi Korea Selatan Mendunia Lewat Industri Film
Parasite menjadi film Korea Selatan pertama yang memenangkan Piala Oscar. (Dok. CJ Entertainment/Korean Film Council)


Jakarta, CNN Indonesia — Sejumlah cara pernah dilakukan Korea Selatan hingga akhirnya bisa menjelma menjadi salah satu negara dengan pengaruh perfilman yang kuat di dunia, yang mungkin bisa ditiru oleh berbagai negara termasuk Indonesia.
Program Director for International Film di Busan Cinema Center, Chun Hye-Jin mengatakan bahwa capaian Korea Selatan di dunia film saat ini bermula dari keberpihakan negara dengan konten lokalnya sendiri.

Dalam acara diskusi Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bertajuk Frame of Influence: Understanding the Korean Wave in Indonesia’s Film Landscape, Selasa (2/12), Chun menyebut hal pertama yang dilakukan Korea Selatan dulu kala adalah penerapan sistem kuota layar atau screen quota system terhadap film lokal.

Chun menjelaskan pada 1996, aturan itu mewajibkan film-film Korea Selatan tayang selama 146 hari dalam setahun, atau sebesar 40 persen setahun. Akan tetapi pada 2006 turun menjadi 73 hari per tahun.

“Itu mungkin bisa dimulai dari ada seperti tadi yang sudah disebutkan screen quota system, kemudian ada juga dukungan dari pemerintah-pemerintahnya sendiri,” kata Chun.

Dalam diskusi yang jadi bagian dari Indonesia Next Generation Journalist Network on Korea oleh FPCI dan Korea Foundation itu, Chun mengatakan saat ini Korea Selatan sudah menjadi pengekspor film. Padahal pada dekade ’90-an, pasar film negara itu masih didominasi film Hollywood.

“Terjadi pertumbuhan eksponensial berkat pengenalan sistem kuota layar, lonjakan modal swasta, dan pembentukan ekosistem kreatif yang berpusat pada sutradara. Sejak 2002, pangsa pasar film lokal selalu melebihi 50 persen,” ucapnya.

Selain itu, Chun menyebut promosi film juga bisa dilakukan dengan menggelar festival film. Ia mencontohkan sebagaimana yang digelar di Korea sebagai ajang promosi film mereka yakni, Festival Film Internasional Busan.

“Nah itu salah satu caranya bisa lewat dengan film festival dan kalau dalam film festival itu kan kita tidak perlu mikirin selera masyarakat seperti apa. Jadi dari skala kecil dulu lewat film festival itu nantinya akan banyak bisa melahirkan filmmaker baru,” kata Chun.

Source: https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20251225155314-220-1310666/strategi-korea-selatan-mendunia-lewat-industri-film.

2025  ·  Journalist Network 2025
Film Horor Indonesia Diprediksi Bisa Tembus Pasar Korsel
Program Director for International Film di Busan Cinema Center, Chun Hye-Jin memprediksi film horor Indonesia bisa menembus pasar perfilman Korea Selatan. Ilustrasi (dok. Clockwork Films via IMDb)

Jakarta, CNN Indonesia — Program Director for International Film di Busan Cinema Center, Chun Hye-Jin memprediksi film horor Indonesia bisa menembus pasar perfilman Korea Selatan.
Ia menyampaikan itu dalam diskusi FPCI dengan tema Frame of Influence: Understanding the Korean Wave in Indonesia’s Film Landscape yang digelar pada Selasa (2/12).

“Mungkin genre horor Indonesia itu bisa masuk ke dalam industri perfilman Korea,” kata Chun dalam diskusi yang merupakan bagian dari program Indonesia Next Generation Journalist Network on Korea oleh FPCI dan Korea Foundation.

Ia mencontohkan salah satunya ialah industri film Thailand yang lekat dengan genre Boys Love atau Bromance yang menjadi ciri khas film mereka.

Chun mengatakan sebagaimana Thailand, Indonesia juga harus memiliki trademark atau ciri khas film mereka.

Ia pun berpendapat mungkin film bergenre horor asal Indonesia bisa tembus pasar Korsel dan menjadi ciri khasnya.

“Kalau di Thailand itu banyak film atau drama dengan genre boys love, itu kan bisa jadi ciri khas dari Thailand, mungkin kalau Indonesia nanti ciri khasnya ya bisa jadi genre horor itu,” ucapnya.

Pada saat yang sama, Chief Marketing Officer CGV Indonesia, Ssun Kim mengakui Indonesia memang banyak memproduksi film bergenre horor.

Menurutnya, masyarakat Indonesia dan Korsel sama-sama menaruh minat pada film bergenre horor.

Ssun Kim mencontohkan salah satunya keberhasilan film Exhuma (2024) yang menarik minat penonton Indonesia dengan meraih 2,6 juta penonton.

Film horor ini mengisahkan sekelompok ahli spiritual yang hendak memindahkan makam leluhur sebuah keluarga kaya.

Ssun Kim berpendapat salah satu faktor penyebab keberhasilan Exhuma di Indonesia adalah budaya Indonesia yang juga terefleksikan dalam film tersebut.

Ia juga menyebut masyarakat Indonesia menyukai film horor dan cerita legenda yang mungkin Exhuma dinilai mengandung unsur-unsur tersebut.

Dalam filmnya, Exhuma menampilkan sejumlah unsur budaya yang dekat dengan budaya Indonesia. Salah satunya, film itu menampilkan jasad dikuburkan ke tanah.

Meski begitu, Ssun Kim juga ikut memberikan sejumlah catatan agar film Indonesia bisa menjadi terus lebih baik ke depan.

Pertama, film Indonesia harus terus meningkatkan kualitas computer graphic (CG) ke depannya.

Lalu, berkaca dari di Korea, Ssun Kim menyinggung metode produksi film tersebut, khususnya pemasaran secara Business to-Consumer (B2C).

Terakhir, ia juga menyinggung tantangan bagi film Indonesia untuk mendunia, yakni bahasa Indonesia yang tidak begitu lazim dikenal tak hanya di Korea, namun di dunia.

“Menggunakan subtitle yang tepat. Jadi itu akan menjadi poin kunci pemasaran lainnya,” ucap Ssun Kim.

Source: https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20251225151025-220-1310644/film-horor-indonesia-diprediksi-bisa-tembus-pasar-korsel.

2025  ·  Journalist Network 2025
Capaian di BIFF bisa jadi bekal “Pangku” memasuki pasar Korea Selatan
Foto potongan adegan film “Pangku” garapan sutradara Reza Rahadian. (Akun Instagram @filmpangku)


Jakarta (ANTARA) – Capaian “Pangku” di ajang Busan International Film Festival (BIFF) 2025 bisa menjadi bekal bagi film garapan sutradara Reza Rahadian itu untuk memasuki pasar film Korea Selatan.

Film “Pangku” mendapat KB Vision Audience Award, FIPRESCI Award, Bishkek International Film Festival-Central Asia Cinema Award, dan Face of the Future Award dalam acara BIFF 2025.

“Sebelumnya, mohon maaf, saya belum sempat menonton film ‘Pangku’ itu. Namun, kalau memang sudah masuk BFF, itu bisa menjadi titik awal atau perkenalan untuk bisa masuk ke dalam pasar Korea,” kata Program Director for International Film Busan Cinema Center, Chun Hye-Jin, dalam lokakarya daring yang diikuti dari Jakarta pada Selasa (2/12).

“Jadi, film-film yang ditayangkan itu adalah film-film yang sinematik, yang mana memang tidak tayang di platform OTT. Jadi, apabila ada film-film yang ingin diperkenalkan kepada masyarakat Korea, itu bisa lewat berbagai cara,” sambungnya.

Chun Hye-Jin, yang menjadi salah satu pembicara dalam The Indonesian Next Generation Journalist Network yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan Korea Foundation itu, menyampaikan bahwa Busan Cinema Center antara lain bertugas memfasilitasi pemutaran film-film yang pernah ditayangkan di ajang BIFF di Korea Selatan.

Chun Hye-Jin menjelaskan, peluncuran BIFF pada tahun 1996 menjadi titik balik bagi keberagaman sinema dan pertumbuhan industri film Korea Selatan.

Menurut dia, BIFF pada tahun pertama penyelenggaraannya dapat menarik hingga 180.000 pengunjung dan sejak saat menjadikan Busan sebagai kota sinema yang menginspirasi generasi baru pembuat film.

Dia juga mengemukakan kontribusi penerapan sistem produksi berbasis sutradara dalam kesuksesan film-film Korea Selatan.

Ia menyebut penghargaan dan sukses komersial film-film garapan sutradara ternama Korea Selatan seperti Bong Joon-ho, Park Chan-wook, dan Lee Chang-dong di dalam dan luar negeri sebagai contoh.

“Era ini mencapai puncaknya dengan kemenangan Palme d’Or dan empat Oscar untuk ‘Parasite’, yang meneguhkan identitas Korea Selatan sebagai kekuatan budaya global,” katanya.

Source: https://www.antaranews.com/berita/5283693/capaian-di-biff-bisa-jadi-bekal-pangku-memasuki-pasar-korea-selatan

2025  ·  Journalist Network 2025
CGV soroti akurasi subtitle film Indonesia saat tembus pasar Korsel
Chief Marketing Officer CGV Cinemas Indonesia, Kim Sun-cheol, saat menjadi pembicara dalam lokakarya wartawan yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Jakarta, Selasa (2/12/2025). /ANTARA/Kuntum Riswan.

Jakarta (ANTARA) – CGV Cinemas Indonesia menyoroti akurasi subtitle film-film Indonesia saat menembus pasar Korea Selatan karena bahasa Indonesia belum dikenal secara luas di Seoul.

Chief Marketing Officer CGV Cinemas Indonesia, Kim Sun-cheol, saat menjadi pembicara dalam The Indonesian Next Generation Journalist Network yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan Korea Foundation, mengatakan bahwa akurasi subtitle akan memberikan nuansa emosional yang lebih tepat.

“Di Korea, Bahasa Indonesia tidak lebih familiar daripada bahasa Inggris atau Jepang. Jadi, ketika film Indonesia ingin memberikan suasana untuk membuat sesuatu yang emosional, bagaimana agar bisa menggunakan subtitle yang benar,” kata Kim di Jakarta, Selasa.

Kim menambahkan bahwa akurasi subtitle juga akan menjadi strategi pemasaran yang tepat untuk lebih mengenalkan budaya Indonesia.

Selain akurasi subtitle, Kim juga menyoroti pentingnya keterbukaan data terkait jumlah penayangan dan jumlah penonton untuk kebutuhan analisa pasar. Ia menuturkan bahwa di Korea Selatan, data mengenai jumlah penonton bisa dengan mudah didapatkan, namun di Indonesia, data tersebut belum sepenuhnya terbuka.

“Di Korea, semua orang, bahkan yang kenal dengan pasar, mereka mudah mengetahui berapa banyak penayangan pada tahun lalu atau kemarin, apapun yang Anda inginkan, mengetahui data sangat mudah. Tapi di Indonesia, itu terblokir. Jadi, bagaimana kita bisa menganalisa data dan membuat keputusan adalah kunci lainnya,” tambahnya.

Lebih lanjut, Kim menyampaikan empat alasan utama yang membuat Indonesia menjadi sasaran industri perfilman Korea Selatan.

Pertama, Indonesia merupakan negara dengan populasi terbesar ke empat di dunia dengan 286 juta penduduk. Usia rata-rata penduduk Indonesia juga berkisar 30 tahun.

Kedua, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 230 juta pengguna, yang melambangkan tingginya tingkat penetrasi internat di Indonesia.

Ketiga, jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia melebihi gabungan penduduk kelas menengah di Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Kim menyampaikan bahwa Indonesia kini dianggap sebagai salah satu negara dengan potensi terbesar dalam peningkatan daya beli.

“Seiring meningkatnya pendapatan, semakin banyak orang yang mampu membeli layanan berbasis langganan, khususnya OTT, tiket bioskop, hiburan, serta aktivitas leisure lainnya,” ucapnya.

Sedangkan alasan keempat adalah Indonesia memiliki basis pengguna daring yang luas dan sangat aktif yang membuat penyebaran film Korea menjadi lebih besar.

Adapun sejumlah film kenamaan Indonesia telah ditayangkan di Korea Selatan lewat berbagai festival film. Beberapa yang pernah ditayangkan di Busan International Film Festival adalah “Pangku”, “Rangga & Cinta”, “Esok Tanpa Ibu”, hingga “Badarawuhi di Desa Penari”.

OTT adalah cara menyediakan konten televisi dan film melalui internet sesuai permintaan dan kebutuhan masing-masing konsumen. Istilah ini sendiri merupakan singkatan dari “over-the-top”, yang berarti penyedia konten memanfaatkan layanan internet yang ada.

Source: https://www.antaranews.com/berita/5283733/cgv-soroti-akurasi-subtitle-film-indonesia-saat-tembus-pasar-korsel

2025  ·  Journalist Network 2025
Belajar dari Korsel, Membangun Industri Film hingga Mendunia
Diskusi FPCI-Korea Foundation (Foto: Kanavino/detikcom)

Jakarta – Keberhasilan Korea Selatan dalam melahirkan film-film yang mampu menembus pasar dunia bisa menjadi pelajaran penting bagi Indonesia. Ada proses panjang dan dukungan dari berbagai pihak sehingga film-film Korea dikenal luas.
Direktur Program Film Internasional di Busan Cinema Center, Chun Hye-jin, menjelaskan awalnya industri film di Korea dipenuhi oleh film-film Hollywood. Namun kemudian pada 1996, Korea mengeluarkan kebijakan screen quota system yang mewajibkan film-film Korea tayang selama 146 hari dalam satu tahun. Namun Chun menyayangkan jumlah hari itu berkurang menjadi 73 hari pada 2006.

Di samping itu, perkembangan film-film Korea juga terdorong oleh adanya Busan International Film Festival (BIFF). Bahkan Busan dijadikan sebagai kota sinema yang menginspirasi generasi baru pembuat film untuk berkontribusi besar terhadap perkembangan sinema.

Selanjutnya, pada era 2000-an, industri film Korea semakin berkembang pesat. Pada fase ini, keunggulan kreatif sinema Korea terletak pada sistem produksi yang berpusat pada sutradara. Beberapa di antaranya yaitu Bong Joon-Ho, Park Chan-Wook, dan Lee Chang-Dong.

“Era ini mengukuhkan identitas Korea Selatan sebagai budaya global yang menghasilkan sinema-sinema yang bagus, yang tidak hanya dikenal di Korea tapi juga dikenal secara internasional,” kata Chun Hye-jin dalam acara diskusi yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) bekerja sama dengan The Korea Foundation dalam program Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea 2025 di Jakarta beberapa waktu lalu.

Film-film Korea semakin meluas seiring dengan perkembangan layanan platform Over The Top (OTT). Namun pesatnya perkembangan OTT ini juga ternyata memberikan efek negatif dalam beberapa tahun terakhir. Pasar domestik Korea mengalami penurunan pada tahun ini.

“Meski memiliki posisi global yang kuat, pasar film domestik Korea itu, lama-lama menjadi turun pada tahun 2025,” ujar Chun.

Tak hanya dari segi produksinya, penurunan juga terjadi dari segi penontonnya. Padahal, kata Chun, biaya produksi film semakin meningkat.

“Kurangnya juga diversity, dan para penonton itu menilai bahwa filmnya itu, kurang complete atau weak dari completeness-nya,” ujar dia.

“Penurunan jumlah penonton itu bukan hanya akibat OTT, dan masalah utamanya itu kurangnya film yang berkualitas yang benar-benar wajib ditonton di bioskop. Karena sekarang kan selera masyarakat dan ekspektasi masyarakat juga sudah meningkat,” sambung dia.

Menyikapi fenomena tersebut, Pemerintah Korea Selatan membuat kebijakan untuk memperkuat dan mendukung ekosistem film. Ada beberapa strategi yang dicanangkan, meliputi funding atau dukungan finansial untuk produksi, dukungan penelitian dan pengembangan termasuk pelatihan bagi pengembangan talenta pembuat film, hingga bantuan pemerintah untuk membantu karya kreatif menembus pasar internasional.

“Jadi sebenarnya pemerintah-pemerintah itu sudah banyak yang mengumumkan bahwa mereka akan mendukung industri film-film Korea. Tapi untuk memang pasti atau tidaknya, itu balik lagi kepada pejabat masing-masing,” imbuh Chun.

Saran untuk Indonesia
Dalam kesempatan itu, Chun juga ditanya oleh peserta diskusi bagaimana caranya agar film Indonesia juga bisa menembus pasar internasional seperti yang telah dilakukan oleh Korea. Chun mengatakan genre film horor dari Indonesia bisa menjadi pilihan untuk dipasarkan ke dunia.

“Jadi salah satunya mungkin kalau di Thailand banyak film atau drama dengan genre boys love, romance, itu bisa jadi ciri khas dari Thailand. Mungkin kalau Indonesia ciri khasnya bisa jadi genre horor itu,” kata Chun.

Dia mengatakan Indonesia harus mempunyai satu tema film yang menjadi ciri khas di mata penonton. Hal itu menjadi titik awal industri film Indonesia agar dikenal luas di dunia.

“Harus punya tema di mana bisa jadi top of mind orang-orang. Kalau Thailand ingetnya boys lovenya, Indonesia dengan genre horornya. Nanti itu menjadi starting point orang-orang itu tertarik, ternyata film Indonesia itu seru juga ya,” kata dia.

Chun juga menjelaskan sebenarnya film Korea yang menembus pasar Hollywood tidak sebanyak yang dibayangkan. Selain itu, kata dia, dukungan untuk para pelaku industri film yang berhasil masuk ke pasar dunia biasanya datang dari perusahaan-perusahaan besar.

“Sebenarnya dibandingkan dukungan dari pemerintahan, film-film yang sukses yang masuk OTT seperti Squid Games, Parasite, sebenarnya lebih banyak menerima dukungan dari perusahaan besar seperti CJ. Salah satunya dukungan yang diberikan seperti uang untuk promosi dari film-film tersebut,” ujar Chun.

“Gimana sampai bisa menang Piala Oscar itu sebenarnya faktor dari banyak pihak, tidak hanya satu atau dua pihak saja,” sambung dia.

Source: https://news.detik.com/berita/d-8285965/belajar-dari-korsel-membangun-industri-film-hingga-mendunia.

2025  ·  Journalist Network 2025
Resonansi Budaya Indonesia dan Korea Selatan di Balik Karya Sinema
Chief Marketing Officer CGV Indonesia, Ssun Kim (Foto: Kanavino/detikcom)

Jakarta – Film Exhuma menjadi salah satu karya sinema Korea Selatan yang meraih sukses besar di pasar Indonesia. Faktor resonansi budaya dinilai menjadi pendorong jutaan masyarakat Indonesia menonton film tersebut.
Hal itu disampaikan oleh Chief Marketing Officer CGV Indonesia, Ssun Kim, dalam acara diskusi yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) bekerja sama dengan The Korea Foundation dalam program Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea 2025 di Jakarta beberapa waktu lalu.

Ssun menyampaikan film Exhuma meraih 2,6 juta penonton di Indonesia. Atas kesuksesannya itu, jurnalis-jurnalis dari Korea dikirim ke Indonesia untuk mencari tahu alasan di balik pencapaian film tersebut.

“Jadi dari film Exhuma ini, budaya yang keluar dari filmnya itu sangat mempunyai resonansi atas budaya yang ada di Indonesia,” kata Ssun berbicara dalam bahasa Korea yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Ssun menyampaikan film Exhuma memiliki keterkaitan karena penonton Indonesia menyukai film horor. Selain itu, ada unsur budaya di Korea juga yang relevan dengan budaya di Indonesia.

“Dan juga di film ini untuk pemakamannya itu kan nggak pakai kremasi, yaitu ceritanya itu mengenai dikubur. Nah, itu juga sangat resonate sama orang-orang di Indonesia yang biasanya kalau misalnya emang ada yang meninggal itu, kebanyakan dari orang-orang yang dari agama Muslim itu pasti kan enggak boleh dikremasi, bolehnya itu adalah dikubur,” ujar Ssun.

Ssun kemudian membuka diskusi kepada para peserta yang hadir dalam acara itu untuk menyampaikan pendapatnya tentang alasan di balik keberhasilan film Exhuma di Indonesia. Muncul pendapat bahwa memang ada kesamaan budaya yang kemudian mendorong penonton Indonesia menyaksikan film tersebut. Selain itu, sejarah mengenai kolonialisasi Jepang di Korea juga menjadi unsur penting.

Dari berbagai pendapat itu, Ssun menyimpulkan bahwa memang ada kemiripan budaya di Indonesia dan Korea yang tercermin dalam film Exhuma. Di sisi lain, ada kesamaan selera soal film horor yang mengangkat dari cerita-cerita yang berkembang di masyarakat.

“Nah ini adalah aspek-aspek yang ada, sebuah koneksi dari film Korea juga dan ada di film Indonesia juga,” ujar dia.

Dikutip dari detikPop, film Exhuma menorehkan sejumlah prestasi di ajang penghargaan film internasional, salah satunya di Spanyol. Exhuma dianugerahkan Special Jury Award di Sitges Film Festival.

Tak hanya itu, Exhuma juga sebelumnya menerima penghargaan lain yaitu empat piala di kategori film Baeksang Arts Awards, masing-masing untuk Best Director, Best Actress (Kim Go Eun), Best New Actor (Lee Do Hyun) dan Technical Award (Sound) untuk Kim Byung In.

Tayang perdana di Korea Selatan pada Februari 2024, Exhuma langsung masuk jajaran film layar lebar paling sukses di negara asalnya. Sampai film ini turun dari layar bioskop tercatat sudah 12 juta penonton menyaksikannya.

Film thriller misteri yang juga laris di bioskop Indonesia ini bercerita tentang dua orang dukun muda yang direkrut oleh keluarga kaya untuk menyelamatkan jiwa mereka dari sosok arwah leluhur. Kedua dukun tersebut bekerja sama dengan ahli bedah mayat dan orang pintar lainnya untuk menggali sebuah makam leluhur yang berlokasi di desa terpencil di Korea.

Alasan Film Korsel Sasar Pasar Indonesia
Dalam kesempatan itu, Chief Marketing Officer CGV Indonesia, Ssun Kim, juga menjelaskan alasan film-film dari Korea Selatan menyasar pasar Indonesia. Pertama, Indonesia memiliki populasi yang sangat besar.

“Indonesia memiliki populasi yang sangat besar dan demografi muda. Anda tahu populasi Indonesia mencapai lebih dari 286 juta. Itu berarti ini adalah populasi terbesar keempat di dunia,” ujar dia.

Indonesia juga, kata Ssun, mempunyai pertumbuhan pesat dalam konektivitas internet. Pengguna internet di Indonesia bahkan mencapai 230 juta atau sekitar 80,5% dari populasi Indonesia.

“Berdasarkan populasi itu, lebih dari 80% penduduk bisa menggunakan internet. Itu angka yang sangat besar dibandingkan negara lain,” imbuh Ssun.

Faktor lainnya yaitu Indonesia dianggap sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan yang cukup pesat. Indonesia dinilai sebagai negara paling potensial untuk peningkatan daya beli.

“Dari segi pendapatan, lebih banyak orang mampu membeli layanan berbasis langganan, khususnya OTT. Dan juga tiket bioskop serta hiburan,” kata Ssun.

Terakhir, kata Ssun, Indonesia memiliki karakter audiens online yang besar dan sangat terlibat. Banyaknya generasi milenial dan generasi Z yang membagikan konten di media sosial menjadi faktor daya tarik.

“Banyak dari mereka mengonsumsi, membagikan, dan mendiskusikan konten media. Jadi ini adalah proporsi yang sangat, sangat aktif di pasar Indonesia,” kata Ssun.

Source: https://news.detik.com/berita/d-8285019/resonansi-budaya-indonesia-dan-korea-selatan-di-balik-karya-sinema

2025  ·  Journalist Network 2025
Film-Film Laris Korea yang Dibuat Ulang di Indonesia, Pernah Menonton?

Menurut data CGV Indonesia, terdapat sejumlah film Korea Selatan yang diadaptasi di Indonesia. Paling laris ditonton adalah Miracle in Cell No.7.

2025  ·  Journalist Network 2025
Pendekatan Korea Selatan Menjaga Industri Film di Tengah Krisis
Bong Joon Ho dan para pemain film “Parasite” berpose pada Academy Awards ke-92 di Hollywood, Los Angeles, California, Amerika Serikat, Minggu (9/2/2020).

Sebelum film-film Korea Selatan menjalar ke sejumlah negara, pada era 1990-an industri ini justru disesaki oleh impor film Hollywood. Dalam catatan The K-Movie Phenomenon: A Global Rise Amidst Domestic Crisis dari diskusi yang digelar Korea Foundation dan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) pada awal Desember 2025, pangsa film lokal Korea bahkan hanya 15,9% pada 1993. Jumlah penonton tahunan berada di bawah 50 juta orang.

Pemerintah Korea dan pihak swasta menyiasatinya dengan berbagai pendekatan, dari penerapan sistem kuota layar, masuknya modal swasta dalam jumlah besar, hingga terbentuknya ekosistem kreatif yang berpusat pada sutradara.

Selaras itu, Undang-Undang Promosi Film direvisi pada 1996, dengan mewajibkan pemutaran film Korea selama 146 hari per tahun. Namun kemudian dikurangi menjadi 73 hari pada 2006 setelah negosiasi free trade agreement (FTA) Korea-Amerika Serikat. “Kuota ini secara signifikan menurunkan hambatan masuk pasar dan memberikan kesempatan pemutaran yang stabil bagi kreator domestik,” demikian bunyi catatan tersebut.

Walhasil, penurunan risiko ini mendorong konglomerat besar seperti CJ, Lotte, dan Showbox untuk berinvestasi secara agresif, yang menjadi dasar transisi menuju produksi film komersial beranggaran besar. Korea membuka celah pengembangan industri ini dengan meluncurkan Busan International Film Festival (BIFF) pada 1996. Ini menandai titik balik perfilman Negara Gingseng tersebut. Dalam pembukaan perdana saja, BIFF sudah mampu “menyihir” 180.000 orang untuk hadir di perhelatan bergengsi ini.

“BIFF kemudian menjadikan Busan sebagai kota sinema, menginspirasi generasi baru pembuat film dan berkontribusi besar pada pengembangan talenta,” ungkap catatan tersebut. Evolusi OTT Penyebaran sinema Korea di kancah internasional sangat berkaitan dengan evolusi platform konten. Ekspansi cepat layanan over the top (OTT), platform konten media seperti Netflix, Viu, Hooq, Disney+, menjadi mesin utama perluasan ke pasar luar negeri. Dengan platform ini, karya sineas Korea berhasil masuk rumah tangga di banyak negara. Sebagai respons terhadap era OTT, muncul sistem studio yang berfokus pada konten. Perusahaan seperti Studio Dragon, Studio S, dan SLL mengelola perencanaan, produksi, dan distribusi, sehingga memungkinkan penciptaan konten Korea yang dioptimalkan untuk platform global. Langkah kreator dinilai jadi lebih tersistematis. Sebagai gambaran, ada perbedaan output produk yang dipasarkan. Film berfokus pada narasi padat berdurasi 2–3 jam, dengan penekanan pada spektakel visual untuk layar besar. Sedangkan drama (K-Drama) berfokus pada format panjang, umumnya serial 16 episode, dirancang untuk kenyamanan menonton di rumah dan sering mengangkat tema universal yang mudah diterima.

Source: https://katadata.co.id/berita/internasional/695551172ac4a/pendekatan-korea-selatan-menjaga-industri-film-di-tengah-krisis

123456
Page 1 of 6

Youtube
Twitter
Facebook
Instagram
Copyright 2021 - www.indonesia-koreajournalist.net