• Home
  • Services
  • Pages
    • About 1
    • About 2
    • About 3
    • About 4
    • Our Team
    • Contact 1
    • Contact 2
    • Service 1
    • Service 2
    • Service 3
  • Portfolio
    • Column One
      • Portfolio Classic
      • Portfolio Grid
      • Portfolio Grid Overlay
      • Portfolio 3D Overlay
      • Portfolio Contain
    • Column Two
      • Portfolio Masonry
      • Portfolio Masonry Grid
      • Portfolio Coverflow
      • Portfolio Timeline Horizon
      • Portfolio Timeline Vertical
    • Column Four
      • Single Portfolio 1
      • Single Portfolio 2
      • Single Portfolio 3
      • Single Portfolio 4
      • Single Portfolio 5
    • Column Three
      • Video Grid
      • Gallery Grid
      • Gallery Masonry
      • Gallery Justified
      • Gallery Fullscreen
  • Blog
    • Blog Grid No Space
    • Blog Grid
    • Blog Masonry
    • Blog Metro No Space
    • Blog Metro
    • Blog Classic
    • Blog List
    • Blog List Circle
  • Slider
    • Column One
      • Vertical Parallax Slider
      • Animated Frame Slider
      • 3D Room Slider
      • Velo Slider
      • Popout Slider
      • Mouse Driven Carousel
    • Column Two
      • Clip Path Slider
      • Split Slick Slider
      • Fullscreen Transition Slider
      • Flip Slider
      • Horizon Slider
      • Synchronized Carousel
    • Column Three
      • Multi Layouts Slider
      • Split Carousel Slider
      • Property Clip Slider
      • Slice Slider
      • Parallax Slider
      • Zoom Slider
    • Column Four
      • Animated Slider
      • Motion Reveal Slider
      • Fade up Slider
      • Image Carousel Slider
      • Glitch Slideshow
      • Slider with other contents
  • Shop

Journalist Network 2025

2025  ·  Journalist Network 2025
Korea Selatan dan Bagaimana Film Menjadi ”Kartu Pengenal” Bangsa

Segar, unik, dan baru adalah kesan ketika menonton sinema Korea. ”Negeri Ginseng” itu sudah berhasil membedakan diri dengan film-film negara lain, seperti Hollywood.

Kekuatan dunia sinema Korea Selatan terletak pada kemampuan para sutradaranya untuk menciptakan film-film orisinal dengan sentuhan segar. Bagaimana agar sinema Indonesia juga bisa mempunyai ciri khas di mata dunia?

Pada 2003, sutradara Park Chan-wook merilis film Oldboy. Film balas dendam itu bertabur kekerasan eksplisit dengan narasi yang mengejutkan. Berbeda dengan film-film Hollywood kala itu, Oldboy membuat penonton bingung karena moral para karakter yang tidak hitam-putih.

Sementara itu, sutradara Bong Joon-ho terkenal suka memadukan genre dalam film. Parasite (2019), misalnya, adalah film bergenre drama, thriller, dan komedi hitam. Emosi penonton campur aduk ketika menonton film tersebut.

2025  ·  Journalist Network 2025
Pelajaran dari Film Korea yang Mendunia

Peran pemerintah adalah faktor penting bagi perkembangan luar biasa industri film Korea. Bagaimana dengan Indonesia?

Baru-baru ini, jagat maya Indonesia ramai dengan polemik film Sore: Istri dari Masa Depan (2025) besutan Yandy Laurens. Film ini belum berhasil masuk calon nomine untuk kategori Film Internasional Terbaik di Academy Awards atau Piala Oscar yang dirilis pada Rabu (17/12/2025).

Perdebatan semakin ramai ketika Variety, salah satu media film berpengaruh dunia, merilis ulasan negatif terhadap Sore. Warganet terbelah. Ada yang setuju film itu memang belum memenuhi standar, ada pula yang tidak.

Ketika film Indonesia masih berjuang untuk masuk daftar pendek, Korea Selatan sudah lama melaju. Dunia bersorak ketika Parasite (2019) karya Bong Joon-ho memenangi Piala Oscar. Film ini menjadi film berbahasa asing pertama yang menang sebagai Film Terbaik, kategori paling bergengsi dalam ajang itu.

2025  ·  Journalist Network 2025
Tayangan Konser di Bioskop Sumbang 10% ke Pendapatan CGV Indonesia (BLTZ)

Penayangan konser di bioskop sumbang 10% pendapatan CGV Indonesia, didorong oleh loyalitas fans dan harga tiket lebih tinggi dari tiket biasa.

Penonton menikmati film pada pembukaan Jakarta Film Week 2025 di CGV Cinema Grand Indonesia, Jakarta, Rabu (22/10/2025). Bisnis/Himawan L. Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — PT Graha Layar Prima Tbk. (BLTZ) atau CJ CGV Cinemas menyebut konten alternatif seperti penayangan konser maupun pertandingan sepak bola di layar lebar mampu berkontribusi signifikan menggenjot top line perseroan di tengah tantangan daya beli penonton. Chief Marketing Officer CGV Indonesia Kim Sun-cheol mengatakan konten alternatif seperti penayangan konser hingga pertandingan sepak bola menjadi salah satu penarik kunjungan ke bioskop. Dia menyebut, loyalitas fans untuk menonton idolanya menjadi salah satu faktor penjualan tiket untuk konten alternatif ini laris manis. “Harga tiket untuk konten alternatif lebih mahal dari harga tiket biasa. Misalnya, harga tiket konser Seventeen sekitar Rp350.000 itu kan lebih dari enam kali lipat harga tiket normal. Tapi, okupansinya justru lebih tinggi dari biasanya,” ujar Kim dalam workshop bertajuk Frames of Influence: Understanding the Korean Wave in Indonesia’s Film Landscape, Selasa (2/12/2025). Adapun, workshop bersama jurnalis ini merupakan bagian dari “Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea” yang merupakan kerja sama Korea Foundation dan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI). 

Terlebih, dengan demografi penduduk Indonesia yang saat ini didominasi oleh “generasi MZ” yang lahir pada periode awal 1980 dan awal 2000 dan porsi kelas menengah yang besar, kebutuhan hiburan seperti menonton bioskop juga akan meningkat.

Baru-baru ini, Kim menyebut budaya “fandom” di tengah-tengah populasi muda turut mengemuka di Indonesia. Untuk mengambil kesempatan, CGV Indonesia pun menambahkan aktivitas hiburan di lokasi bioskopnya. Salah satunya aktivitas karaoke bersama yang digandrungi oleh masyarakat Indonesia penyuka lagu-lagu pop Korea Selatan. Selain itu, untuk menambah pengalaman menonton layar lebar, CGV Cinemas juga menyediakan ScreenX yaitu layar bioskop 270 derajat. Berbeda dengan layar bioskop tradisional yang hanya ada di depan mata penonton, layar ScreenX memanjang hingga ke sisi kiri dan kanan penonton yang membuat pengalaman menonton menjadi lebih imersif. “Jadi, dengan konten alternatif itu, kontribusinya bisa lebih dari 10% terhadap pendapatan kami. Jadi, kami mempertimbangkan untuk menambah lebih banyak lagi konten-konten alternatif untuk tahun depan [2026],” imbuh Kim. Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2025, CGV Cinemas mencatatkan kenaikan pendapatan bersih sebesar 3,16% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp922,25 miliar. Adapun, pendapatan bioskop masih menjadi tulang punggung pendapatan perseroan dengan kenaikan 1,63% yoy menjadi Rp575,57 miliar dari sebelumnya Rp566,32 miliar. Selanjutnya pendapatan dari makanan dan minuman naik 5,12% yoy menjadi Rp293,88 miliar dan pendapatan acara-acara iklan naik 5,12% yoy menjadi Rp53 miliar. Sementara itu, beban pokok pendapatan ikut meningkat sebesar 1,44% yoy menjadi Rp516,43 miliar dari sebelumnya Rp509,06 miliar. Alhasil, laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mampu dikerek hingga 149,82% yoy menjadi Rp28,73 miliar dari sebelumnya Rp11,5 miliar. Dari sisi neraca aset, total aset perseroan mencapai Rp1,84 triliun atau naik 0,08% sejak awal tahun (year-to-date/ytd). Perinciannya, liabilitas berkurang 1,86% ytd menjadi Rp1,43 triliun dan ekuitas bertambah 7,41% ytd menjadi Rp416,38 miliar.

Source: https://market.bisnis.com/read/20251203/192/1933893/tayangan-konser-di-bioskop-sumbang-10-ke-pendapatan-cgv-indonesia-bltz

2025  ·  Journalist Network 2025
CGV Indonesia (BLTZ) Sebut Film Indonesia juga Bisa Sukses di Korsel

CGV Indonesia optimis film Indonesia bisa sukses di Korea Selatan melalui kolaborasi, adaptasi budaya, dan teknologi CGI, dengan fokus pada genre horor.

Pengunjung beraktivitas di salah satu bioskop CGV di Jakarta, Selasa (15/10/2024). Bisnis/Himawan L. Nugraha


Bisnis.com, JAKARTA — PT Graha Layar Prima Tbk. (BLTZ) atau CJ CGV Cinemas melihat kolaborasi bisnis perfilman antara Indonesia dan Korea Selatan dapat diperkuat dari berbagai sisi. Menyusul kesuksesan sejumlah film garapan Negeri Ginseng diterima penonton Tanah Air, Indonesia pun dapat melakukan hal serupa. Chief Marketing Officer CGV Indonesia Kim Sun-cheol memaparkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang disasar industri perfilman karena memiliki bonus demografi, khususnya “generasi MZ” yang lahir pada periode awal 1980 dan awal 2000. “Demografi Indonesia sekitar 52% adalah generasi MZ dan Indonesia juga memiliki kelas menengah yang lebih besar dari kombinasi populasi kelas menengah di Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam,” kata Kim dalam workshop bertajuk Frames of Influence: Understanding the Korean Wave in Indonesia’s Film Landscape, Selasa (2/12/2025).

Adapun, workshop bersama jurnalis ini merupakan bagian dari “Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea” yang merupakan kerja sama Korea Foundation dan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI). 

Lebih lanjut, untuk film asal Korea Selatan, Kim menunjukkan sudah banyak kolaborasi yang dilakukan oleh kedua negara. Misalnya, produksi ulang film Sunny (2011) menjadi versi Indonesianya berjudul Bebas (2019). Selanjutnya film Miracle Cell No.7 (2013) dengan judul yang sama di Indonesia juga Miracle Cell No.7 (2025).  Terbaru, yaitu film Hyung (2016) yang diadaptasi ke versi Indonesia dengan judul My Annoying Brother (2024) hingga film Pawn (2020) yang diadaptasi menjadi Panggil Aku Ayah (2025). “Jumlah penontonnya juga saling berkejaran, seperti film Panggil Aku Ayah ini di Indonesia menarik 880.000 penonton, lebih dari separo admission film originalnya 1.710.000 penonton,” imbuh Kim.

Kim juga menunjukkan, selain film yang diadaptasi, penonton Indonesia juga tampaknya menikmati kesamaan budaya dengan Korea Selatan yang ditampilkan dalam film bergenre horor Exhuma (2024), terkait perdukunan, pemakaman, dan tabu. “Kesamaan fondasi budaya yang sama terkait praktik pemakaman di Indonesia sepertinya yang berkontribusi besar untuk penerimaan Exhuma di Indonesia,” ujar Kim. Potensi Film Indonesia Menembus Pasar Korea Selatan Tak hanya mengenai popularitas film besutan Korea Selatan yang ramai masuk ke Indonesia, Kim juga memaparkan sejumlah upaya yang dapat dilakukan oleh praktisi perfilman Tanah Air untuk menembus pasar Negeri Ginseng. Pertama, lewat kolaborasi produksi. Misalnya dengan menggarap film bersama dengan memanfaatkan transfer teknologi Computer-Generated Imagery (CGI) yang saat ini ramai digunakan di film aksi. Kedua, memaksimalkan tampilan graphic dari film itu sendiri sehingga akan lebih menarik minat penonton di Korea Selatan. Ketiga, dengan menerjemahkan Bahasa Indonesia ke Bahasa Korea tanpa mengurangi makna emosionalnya. “Bahasa Indonesia tidak terlalu dikenal di Korea Selatan, tidak seperti Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang. Jadi, penggunaan terjemahan (subtitle) yang baik sangat diperlukan,” ujar Kim. Dalam kesempatan yang sama, Chun Hye-Jin, Program Director for International Film Busan Cinema Center, menambahkan bahwa Indonesia dapat memilih satu genre film yang bisa dijadikan andalan. Misalnya, film-film Indonesia bergenre horor yang sudah banyak digandrungi hingga ke luar negeri bisa menjadi fokus. “Setiap negara sebaiknya punya tema film yang bisa menjadi top of mind orang, mungkin Indonesia bisa mengambil genre horor sehingga lebih mudah diingat penonton,” ujar Chun.

Source: https://market.bisnis.com/read/20251203/192/1933868/cgv-indonesia-bltz-sebut-film-indonesia-juga-bisa-sukses-di-korsel#goog_rewarded

2025  ·  Journalist Network 2025
Busan Cinema Center Kasih Bocoran, Film RI Bisa Tembus Bioskop Korsel
Foto: REUTERS/Chris Aluka Berry

Jakarta, CNBC Indonesia – Film layar lebar tanah air berpeluang tayang di bioskop Korea Selatan. Tak lagi hanya sebatas mengadopsi film-film negeri ginseng itu, sebagaimana yang terjadi selama ini karena terterpa Korean Wave.
Beberapa tahun terakhir, Indonesia memang kerap mengadopsi sinema Korea Selatan, seperti Sunny yang tayang pada 2011 silam diadopsi industri film tanah air dengan judul Bebas (2019). Selain itu, adapula Miracle Cell No.7, My Annoying Brother, hingga Pawn (2020) yang diadopsi di RI dengan judul Panggil Aku Ayah (2025).

Program Director for International Film di Busan Cinema Center, Chun Hye-Jin mengatakan, untuk bisa menjadi eksportir film ke Korea Selatan, ada sejumlah cara yang bisa dilakukan Indonesia memperkuat pasar sinemanya.

Pertama, ialah fokus memperkuat genre film yang selama ini telah menjadi unggulan. Menurut Chun Hye, film horor Indonesia sudah memiliki citra yang khas di pasar internasional, sehingga memiliki modal yang besar untuk masuk ke Korea Selatan.

“Genre horor Indonesia itu bisa menjadi salah satu yang masuk ke dalam industri perfilman Korea,” kata Chun agenda diskusi yang digelar Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan Korea Foundation, dikutip Senin (29/12/2025).

Cara inilah yang ia sebut dilakukan Thailand. Negara gajah putih itu kata Chun mampu memperkuat genre Boys Love atau Bromance, sehingga memiliki porsi sendiri bagi penikmat film di Korea Selatan.

“Tiap negara harus punya tema yang menjadi top of mind dari orang-orang, misalnya Thailand, yang teringat boys love nya, nah mungkin Indonesia dengan genre horor nya yang menjadi starting point,” tegasnya.

Faktor kedua, Chun menegaskan, industri film tak bisa terlepas dari keharusan adanya dukungan dari perusahaan besar yang menjadi promotor. Ia menyebut, film seperti Squid Game, hingga Parasite tidak mungkin masuk pasar internasional, seperti di Amerika Serikat tanpa keterlibatan bantuan promosi perusahaan besar.

“Film yang sukses seperti Squid Game, Parasite, itu sebetulnya lebih banyak menerima dukungan dari perusahaan besar, seperti CJ (Cheil Jedang) yang support melalui bantuan uang promosi,” ungkap Chun.

Terkait potensi film horor, Chief Marketing Officer CGV Indonesia Ssun Kim juga mengamini. Menurutnya, ada kesamaan kultur antara Indonesia dan Korea Selatan yang bisa membuat film menjadi lebih dinikmati karena keterikatan budaya di tengah masyarakatnya.

Ia mencontohkan, salah satu film horor Korea Selatan yang laris di Indonesia, dan bahkan tak pernah ditujukan produsernya untuk masuk pasar Indonesia yakni Exhuma (2024). Film itu ia sebut telah dinikmati 2,6 juta penonton di RI.

“Film ini sangat beresonansi karena Indonesia sangat suka film horor dan juga sangat menyentuh budaya di Indonesia,” tuturnya.

Di sisi lain, Ssun juga menggaris bawahi pentingnya industri film Indonesia memperkuat subtitle atau transkripsi terjemahan. Tanpa adanya akurasi substitle, ia menekankan, sulit bagi para penikmat film di Korea memperoleh nuansa emosional yang tepat, karena Bahasa Indonesia tidak familiar bagi warga Korsel.

Bukan hanya membangun suasana, ia menyebut, subtitle yang akurat dapat menjadi komponen utama sebuah film memperkenalkan budaya nya di luar negeri.

“Jadi, ketika film Indonesia ingin memberikan suasana untuk membuat sesuatu yang emosional, bisa menggunakan subtitle yang benar,” tegasnya.

Selain itu, ia juga menekankan keharusan Indonesia untuk terbuka terkait statistik atau data industri film, mulai dari jumlah penayangan hingga penonton untuk analisa pasar.

“Di Korea, semua orang mereka mudah mengetahui berapa banyak penayangan pada tahun lalu atau kemarin, apapun yang Anda inginkan, mengetahui data sangat mudah. Tapi di Indonesia, itu terblokir. Jadi, bagaimana kita bisa menganalisa data dan membuat keputusan,” ucapnya.

Sebagai informasi, Korea Selatan memang menjadi salah satu negara eksportir seni hiburan terbesar dunia, dengan nilai ekspor US$ 15,18 miliar pada 2024, mengutip laporan The Guardian.

Meski begitu, khusus untuk sektor perfilman domestiknya tengah mengalami tekanan. Berdasarkan laporan The Maeil Business Newspaper Korea Selatan mencapai puncak jumlah penonton bioskop sebanyak 226,67 juta pada 2019, sebelum pandemi COVID-19.

Tetapi pada 2024, angka tersebut telah turun sebesar 45,7% menjadi 123,12 juta. Pada 12 September, jumlah penonton bioskop pada 2025 diproyeksikan mencapai 69,98 juta, dengan “angka penonton tahunan” hampir pasti akan merosot, atau bahkan hanya sedikit melampauinya periode 2024.

Source: https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20251229095748-33-697843/busan-cinema-center-kasih-bocoran-film-ri-bisa-tembus-bioskop-korsel

2025  ·  Journalist Network 2025
Bisnis Bioskop Korea Mau Ekspansi 2026, Kantong Warga RI Jadi Acuan
Foto: Suasana bioskop yang kembali beroperasi (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia – Industri sinema atau bioskop di Indonesia terus mengalami pengembangan, termasuk yang datang dari luar negeri, seperti Korea Selatan melalui jaringan CGV. Daya beli masyarakat Indonesia yang membaik menjadi modal untuk ekspansi ke depan.
Sajian yang disuguhkan industri itu kepada penonton bahkan tidak lagi hanya dalam bentuk film, melainkan juga merambah ke konten-konten alternatif, seperti konser di ruang biskop, hingga nonton bareng pertandingan sepak bola alias nobar.

Chief Marketing Officer CGV Indonesia Ssun Kim mengatakan, harga untuk menonton konten alternatif bahkan kerap lebih mahal dari film bioskop. Namun, tingkat keterisiannya lebih tinggi dibanding konten konvensional.

“Harga untuk konten alternatif jauh lebih mahal dibandingkan dengan konten biasa,” kata Ssun dalam diskusi yang digelar Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bersama Korea Foundation, dikutip Rabu (24/12/2025).

Ssun mencontohkan saat CGV menggelar konser K-Pop, yakni Seventeen pada tahun ini, tingkat keterisian penontonnya lebih tinggi dari keterisian nonton sinema. Padahal, ia mengatakan, harga yang dibanderol ialah Rp350.000.

“Itu berarti lebih dari enam kali lipat harga tiket normal. Namun demikian, tingkat keterisiannya justru sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan konten biasa,” paparnya.

“Jadi, hal itu menjadi alasan utama mengapa saya bisa mengatakan bahwa daya beli generasi Millenials, Gen Z terus meningkat dari waktu ke waktu. Konten alternatif semacam itu menyumbang lebih dari 10% dari sisi pendapatan kami,” tegas Ssun.

Oleh karena itu, Ssun mengatakan, untuk tahun mendatang, CGV sedang mempertimbangkan untuk memperluas volume konten jenis alternatif ini.

Selain itu, CGV kata dia juga percaya diri untuk memperluas format nonton Screen X yang telah dikirim dari dari Korea Selatan ke Indonesia sejak 2017. Screen X ialah format menonton bioskop dengan tampilan layar panoramik 270 derajat yang membentang dari depan hingga ke sisi kanan dan kiri auditorium (total layar sepanjang 72,4 x 11m) serta penggunaan silver screen dengan laser projector 4K.

“CGV juga mempertimbangkan untuk melakukan ekspansi pada tahun depan. Jika kami memutuskan untuk membuka lebih banyak, kemungkinan lokasinya adalah di wilayah Bandung,” paparnya.

Sebagai informasi, CGV Indonesia yang dioperasikan oleh PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ) hingga akhir kuartal III-2025 memang masih membukukan pendapatan bersih Rp 922,25 miliar, naik dari catatan periode yang sama tahun lalu Rp 893,97 miliar. Sedangkan laba tahun berjalan menjadi Rp 28,74 miliar, lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu Rp 11,50 miliar.

Sementara itu, industri sinema lain, yakni Cinema XXI yang dikelola PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA) hingga akhir kuartal III-2025 juga masih mencatatkan total pendapatan sebesar Rp 4,3 triliun, meningkat 0,4% dibanding periode yang sama tahun lalu meskipun terjadi penurunan jumlah penonton. Laba bersih XXI pada akhir periode itu menjadi sebesar Rp 444,9 miliar.

Source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20251224115358-17-696991/bisnis-bioskop-korea-mau-ekspansi-2026-kantong-warga-ri-jadi-acuan

2025  ·  Journalist Network 2025
Diplomasi Budaya Korea Selatan Lewat Kebijakan Perfilman

Korea Selatan membangun pengaruh global melalui film dengan menjadikannya instrumen diplomasi budaya berbasis kebijakan negara.

Program Director for International Film Busan Cinema Center, Chun Hye-jin, memberikan penjelasan mengenai diplomasi budaya Korea Selatan melalui film dalam konferensi video pada 2 Desember 2025. Tempo/Jasmine

KOREA Selatan menunjukkan bahwa film bisa menjadi lebih dari sekadar hiburan. Industri perfilman negara itu berperan sebagai instrumen soft power, sekaligus meraup pasar global. Pendekatan ini kini menjadi rujukan bagi Indonesia dalam upaya memperkuat diplomasi budaya melalui sektor perfilman.

Transisi dari Pasar Impor ke Ekspor Film

Direktur Program Film Internasional di Busan Cinema Center, Chun Hye-jin, mengatakan industri film Korea Selatan pada abad ke-21 berhasil bertransformasi dari pasar yang bergantung pada film asing menjadi pengekspor film berdaya saing.

Pada dekade 1990-an, pasar film Korea masih didominasi film Hollywood. “Pangsa pasar untuk film lokal hanya 15,9 persen pada 1993,” kata Chun dari Busan melalui konferensi video pada Selasa, 2 Desember 2025.

Menurut Chun, perubahan tersebut didorong oleh serangkaian kebijakan negara dan penguatan ekosistem industri.

“Terjadi pertumbuhan eksponensial berkat pengenalan sistem kuota layar, lonjakan modal swasta, dan pembentukan ekosistem kreatif yang berpusat pada sutradara. Sejak 2002, pangsa pasar film lokal selalu melebihi 50 persen,” ujarnya.

Pernyataan itu disampaikan dalam diskusi bertajuk Frames of Influence: Understanding the Korean Wave in Indonesia’s Film Landscape di Jakarta. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bersama Korea Foundation.

Chun menjelaskan, langkah awal yang diambil Korea Selatan adalah penerapan sistem kuota layar (screen quota system) untuk melindungi film lokal.

Pada 1996, kebijakan tersebut mewajibkan film Korea Selatan tayang selama 146 hari dalam setahun atau sekitar 40 persen dari total hari pemutaran. Aturan itu kemudian disesuaikan pada 2006 menjadi 73 hari per tahun.

“Mungkin bisa dimulai dari screen quota system, kemudian ada dukungan dari pemerintahnya sendiri,” kata Chun.

Festival Film Jadi Ajang Promosi

Selain regulasi, promosi film dilakukan melalui penyelenggaraan festival. Chun mencontohkan Festival Film Internasional Busan sebagai ruang promosi film sekaligus wadah lahirnya pembuat film baru. “Salah satu caranya bisa lewat dengan festival film, kalau festival film kan kita tidak perlu memikirkan selera masyarakat seperti apa,” ujarnya.

Chun menegaskan, keberhasilan perfilman Korea Selatan tidak ditopang satu pihak saja. Menurut dia, capaian film Korea di tingkat global merupakan hasil kerja kolektif lintas sektor.

Pemerintah membentuk Korea Creative Content Agency (KOCCA) dan Korean Film Council (KOFIC), sementara sektor swasta turut berperan dalam mendukung promosi film. “Film-film yang sukses masuk OTT seperti Squid Game, Parasite, itu lebih banyak menerima dukungan dari perusahaan besar,” kata Chun menambahkan.

Source: https://www.tempo.co/internasional/diplomasi-budaya-korea-selatan-lewat-kebijakan-perfilman-2103012

2025  ·  Journalist Network 2025
Remake Film Jadi Alat Diplomasi Budaya RI-Korea Selatan

Diplomasi budaya Korea Selatan di Indonesia berkembang lewat kolaborasi IP atau kekayaan intelektual dalam adaptasi film layar lebar.

Chief Marketing Officer CGV Indonesia, Ssun Kim dalam diskusi bertajuk Frames of Influence: Understanding the Korean Wave in Indonesia’s Film Landscape di Jakarta, 2 Desember 2025. Tempo/Jasmine

KOREA Selatan mendorong diplomasi budaya melalui adaptasi film ke versi Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, strategi itu berkembang melalui kolaborasi kekayaan intelektual atau intellectual property (IP). Pola ini terlihat dari adaptasi sejumlah film Korea ke versi Indonesia, seperti Sunny, Miracle in Cell No. 7, hingga Pawn.

Remake film, dalam praktiknya juga berbeda dari distribusi internasional biasa. Cerita tidak dikemas secara utuh, melainkan diadaptasi melalui penyesuaian emosi, humor, dan nilai kultural agar sesuai dengan pengalaman penonton lokal.

Kebijakan Perfilman Korea

Program Director for International Film di Busan Cinema Center, Chun Hye-Jin, mengatakan keberhasilan sinema Korea saat ini berakar dari kebijakan negara yang berpihak pada film lokal. “Karya-karya mereka menjadi inti dari keunggulan sinema Korea yang unik,” kata Chun, melalui konferensi video.

Pernyataan itu disampaikan dalam diskusi Frames of Influence: Understanding the Korean Wave in Indonesia’s Film Landscape di Jakarta, Selasa, 2 Desember 2025. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea yang digelar Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bersama Korea Foundation.

Keberpihakan negara terlihat sejak revisi Undang-Undang Promosi Film pada 1996 yang mewajibkan pemutaran film Korea selama 146 hari per tahun.

Meskipun kuota itu dipangkas menjadi 73 hari pada 2006, kebijakan tersebut membuka jalan bagi film lokal untuk menguasai pasar domestik.

Dampaknya, menurut Chun, perusahaan besar seperti CJ, Lotte, dan Showbox mulai berinvestasi besar, mendorong lahirnya film-film beranggaran tinggi seperti Shiri, Taegukgi, The Host, dan The Thieves.

Sistem Produksi Film Korea

Chun merinci, sejak 2000-an, sistem produksi film Korea juga berpusat pada sutradara.

Bong Joon-ho dikenal dengan satire sosial, Park Chan-wook dengan film balas dendam, dan Lee Chang-dong dengan realisme sastra.

Kehadiran layanan over the top (OTT) seperti Netflix kemudian memperluas jangkauan global film Korea, meski peran negara tetap berjalan, terutama setelah pandemi.

Pascapandemi, film Korea mencapai capaian baru di Indonesia melalui Exhuma (2024) yang meraih 2,6 juta penonton.

“Film Exhuma menjadi film yang sangat sukses di Indonesia. Bahkan, para wartawan dikirim ke sini untuk mengetahui mengapa bisa sampai sukses,” kata Chief Marketing Officer CGV Indonesia, Ssun Kim, dalam kesempatan yang sama.

Menurut Kim, keberhasilan itu dipengaruhi oleh kedekatan budaya. Exhuma menampilkan horor, mitologi, serta praktik penguburan yang beresonansi dengan budaya Indonesia.

Kim menambahkan, kolaborasi berbasis IP melalui remake menjadi bentuk diplomasi budaya yang lebih dalam. “Setiap negara memiliki kode humor dan sentuhan emosi sendiri-sendiri. Jadi, aspek-aspek itu menjadi pertimbangan dalam memperkenalkan film ke pasar lokal,” ujarnya.

Source: https://www.tempo.co/internasional/remake-film-jadi-alat-diplomasi-budaya-ri-korea-selatan-2103044

2025  ·  Journalist Network 2025
RI-Korsel Perkuat Kerja Sama Lewat APEC Hadapi Perang Dagang
Puncak KTT APEC 2025 yang diadakan di GyeongJu, Korea Selatan. (Dokumentasi Yonhap News)

Jakarta, IDN Times – Di tengah-tengah gejolak perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China membuka peluang bagi negara berkekuatan menengah seperti Indonesia. Korea Selatan pun memanfaatkan celah itu dengan memperkuat kerja sama di wilayah regional lewat forum APEC 2025. Indonesia jadi salah satu mitra yang digandeng untuk itu.

Konsuler Bidang Ekonomi Kedutaan Besar Korea Selatan di Indonesia, Kim Chan Woo mengatakan tahun ini dipenuhi dengan ketidakpastian ekonomi global. Negeri Ginseng pun mengambil kesempatan untuk memperkuat kerjasama di berbagai sektor di kawasan Asia Pasifik, misalnya dengan menyelenggarakan konferensi para CEO lewat dialog antara APEC Business Advisory Council (ABAC) dan APEC.

“Kepemimpinan Korea Selatan di APEC mengusung diplomasi pragmatis, menegaskan kembali nilai-nilai inti, menangani isu-isu tradisional dan menetapkan isu-isu baru, serta kepemimpinan yang berorientasi pada substansi dan inovasi,” ujar Kim ketika berbicara di lokakarya yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan Korea Foundation di Jakarta beberapa waktu lalu.

Pada APEC 2025, Korea Selatan didapuk menjadi ketua. Dengan posisi sebagai ketua, Negeri Ginseng menempatkan diri sebagai penghubung antara kekuatan utama dan kekuatan menengah di dunia.

Sementara, dalam pandangan Peneliti Overseas Economic Research Institute Exim Bank of Korea, Lee Jihyouk, Indonesia dan Korsel selalu dapat melihat celah kerjasama yang saling menguntungkan.

“Korea Selatan harus memperluas industri masa depan. Kita dan Indonesia bisa mengembangkan sisi manufakturnya. Kita bisa bergerak dari kerjasama tunggal menjadi rencana jangka panjang,” ujar Lee.

Ia melihat Indonesia dan Korea Selatan merupakan mitra dengan kecocokan yang sangat baik. Kedua negara ini sama-sama tidak mendukung blok manapun secara global, sehingga bisa dapat bebas bekerjasama di berbagai sektor.

Sementara, Deputi Bidang Kerja Sama Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Tirta Mursitama mengatakan Korsel merupakan salah satu investor terbesar di Indonesia. Di sisi lain investasi adalah penyumbang terbesar kedua terhadap produk domestik bruto (PDB) negara.

”Korea Selatan menduduki peringkat ketujuh negara penyumbang PMA terbesar ke Indonesia selama periode 2020-2024. Investasi Korea telah memainkan peran yang sangat signifikan dalam perekonomian Indonesia, terutama selama pandemi Covid-19,” kata Tirta.

Ia menambahkan ada keunggulan tersendiri terkait investasi dari Korsel dibandingkan dengan negara-negara lain. Investor Negeri Ginseng tidak hanya membawa dana, tetapi juga teknologi dan sumber daya manusia untuk ditransfer ke mitra lokal.


”Selama ini, kita hanya berbicara soal angka. Padahal, kita juga harus melihat dari kualitas investasi serta jumlah lapangan kerja yang muncul dari investasi tersebut,” tutur dia.


Source: https://www.idntimes.com/business/economy/ri-korsel-perkuat-kerja-sama-lewat-apec-hadapi-perang-dagang-00-bbwlv-l5m9k6

2025  ·  Journalist Network 2025
Strategi Indonesia Optimalkan Hasil KTT APEC Korea Selatan
Presiden Prabowo Subianto (kiri) ketika menyapa Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung di KTT APEC 2025. (Dokumentasi Sekretariat Presiden)

Jakarta, IDN Times -Momen puncak Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC 2025 memang sudah digelar di Gyeongju, Korea Selatan, pada awal November 2025. Acara itu dihadiri langsung Presiden Prabowo Subianto. Ini menjadi KTT APEC yang dihadiri Prabowo usai dilantik sebagai presiden.

Prabowo mengawali kegiatan KTT APEC dengan menghadiri jamuan makan malam di Hotel Lahan Select, Gyeongju pada 31 Oktober 2025. Ia disambut dengan hangat Presiden Lee Jae Myung dan istrinya yang mengenakan hanbok. Lee dan Prabowo berjabat tangan erat ketika diabadikan dalam sebuah foto.

Di forum APEC Economic Leader’s Meeting, Prabowo menyatakan Indonesia tengah memerangi pebisnis yang rakus, demi menciptakan pertumbuhan ekonomi yang adil. Dengan perjuangan itu, Indonesia siap berperan sebagai bridge builder antara ekonomi maju dan berkembang dalam menghadapi tantangan global.

“Kami memerangi korupsi, penipuan, dan pebisnis rakus yang menghambat pertumbuhan riil. Pengalaman-pengalaman ini mungkin menempatkan Indonesia sebagai penghubung ekonomi maju dan berkembang dalam menghadapi tantangan ke depan,” kata Prabowo ketika itu.

Soal strategi Indonesia yang ingin menjadi jembatan bagi negara dengan kekuatan besar dan menengah, sudah pernah disampaikan Deputi Bidang Kerja Sama Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Tirta Nugraha Mursitama. Ia mengatakan sejak awal Indonesia sudah mendukung Korea Selatan yang menjadi Ketua APEC 2025.

Ia mengatakan tugas BKPM salah satunya terkait proses hilirasasi dan pengembangan industri berbasis sumber daya alam, untuk meningkatkan nilai tambah dalam negeri.

“Kami memahami bahwa Presiden Prabowo selalu menegaskan bahwa hilirisasi merupakan salah satu instrumen penting dalam mendorong industrialisasi,” ujar Tirta, ketika berbicara dalam sesi lokakarya yang diadakan Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) bekerja sama dengan The Korea Foundation di Jakarta beberapa waktu lalu.

Korsel mengangkat “Building a Sustainable Tomorrow: Connect, Innovate, Prosper” pada APEC 2025. Korsel menekankan pembahasan dua agenda, yakni kerja sama di bidang akal imitasi (artificial intelligence/AI) serta penanganan perubahan struktur demografi.

Korsel hendak memanfaatkan AI untuk pertumbuhan ekonomi, termasuk dengan membahas regulasi, pembangunan infrastruktur, dan pemerataan kompetensi digital. Seoul juga ingin mengatasi masalah depopulasi di Asia Pasifik lewat penguatan mobilitas manusia, inovasi layanan kesehatan, serta partisipasi ekonomi perempuan.

Konsuler Urusan Ekonomi Kedutaan Besar Korsel untuk Indonesia, Kim Chan Woo, mengatakan APEC 2025 berlangsung di tengah ketidakpastian.

“Asia Pasifik menghadapi persaingan geopolitik, proteksionisme, dan fragmentasi rantai pasokan,” katanya.

Kim berharap pertemuan bilateral antara Korsel dan Indonesia di forum APEC akan memberi hasil baik, mengingat kedua negara menjalin Kemitraan Strategis Khusus. Kedua negara dapat fokus pada peningkatan investasi perdagangan dan penjajakan bidang kerja sama lain, seperti perubahan iklim, energi terbarukan, dan ketahanan pangan.
“APEC bukan hanya soal pertemuan. Ini kesempatan bagi kita untuk bersama-sama berkomitmen membangun masa depan yang berkelanjutan di area-area yang menjadi menjadi peluang baru,” tutur dia.


Source: https://www.idntimes.com/business/economy/strategi-indonesia-optimalkan-hasil-ktt-apec-korea-selatan-00-bbwlv-3xtrd3

123456
Page 2 of 6

Youtube
Twitter
Facebook
Instagram
Copyright 2021 - www.indonesia-koreajournalist.net