• Home
  • Services
  • Pages
    • About 1
    • About 2
    • About 3
    • About 4
    • Our Team
    • Contact 1
    • Contact 2
    • Service 1
    • Service 2
    • Service 3
  • Portfolio
    • Column One
      • Portfolio Classic
      • Portfolio Grid
      • Portfolio Grid Overlay
      • Portfolio 3D Overlay
      • Portfolio Contain
    • Column Two
      • Portfolio Masonry
      • Portfolio Masonry Grid
      • Portfolio Coverflow
      • Portfolio Timeline Horizon
      • Portfolio Timeline Vertical
    • Column Four
      • Single Portfolio 1
      • Single Portfolio 2
      • Single Portfolio 3
      • Single Portfolio 4
      • Single Portfolio 5
    • Column Three
      • Video Grid
      • Gallery Grid
      • Gallery Masonry
      • Gallery Justified
      • Gallery Fullscreen
  • Blog
    • Blog Grid No Space
    • Blog Grid
    • Blog Masonry
    • Blog Metro No Space
    • Blog Metro
    • Blog Classic
    • Blog List
    • Blog List Circle
  • Slider
    • Column One
      • Vertical Parallax Slider
      • Animated Frame Slider
      • 3D Room Slider
      • Velo Slider
      • Popout Slider
      • Mouse Driven Carousel
    • Column Two
      • Clip Path Slider
      • Split Slick Slider
      • Fullscreen Transition Slider
      • Flip Slider
      • Horizon Slider
      • Synchronized Carousel
    • Column Three
      • Multi Layouts Slider
      • Split Carousel Slider
      • Property Clip Slider
      • Slice Slider
      • Parallax Slider
      • Zoom Slider
    • Column Four
      • Animated Slider
      • Motion Reveal Slider
      • Fade up Slider
      • Image Carousel Slider
      • Glitch Slideshow
      • Slider with other contents
  • Shop

Journalist Network 2025

2025  ·  Journalist Network 2025
Perang Dagang AS-Cina Momentum Penguatan Hubungan RI-Korsel
Perang dagang antara China dan Amerika Serikat dinilai bisa menjadi momentum Indonesia dan Korea Selatan mempererat hubungan diplomatiknya. Ilustrasi. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono).

Jakarta, CNN Indonesia — Perang dagang antara China dan Amerika Serikat dinilai bisa  menjadi momentum Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) mempererat hubungan diplomatiknya.
Peneliti Overseas Economic Research Institute di Export-Import Bank of Korea Jihyouk Lee mengatakan meningkatnya rivalitas antara AS dengan Cina ikut berdampak pada tarif impor dan rantai pasok yang berpotensi mengalami perubahan.

“Bagi Korea dan Indonesia, ini adalah momen untuk beralih dari kesepakatan sekali waktu ke strategi jangka panjang,” kata Lee dalam diskusi Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bertajuk Apec at the Crossroads: Building Bridges for Regional Growth, Senin (13/10).

Diskusi ini merupakan bagian dari program Indonesia Next Generation Journalist Network on Korea oleh FPCI dan Korea Foundation.

Lee menyampaikan kondisi global saat ini sangat dinamis dan penuh dengan ketidakpastian.

Dalam kondisi ini pemerintah dan pelaku usaha pun dituntut untuk adaptif agar tetap bisa kompetitif. Tak terkecuali bagi Indonesia dan Korea Selatan.

“Alih-alih bersekutu dengan satu blok tertentu, kita perlu menjaga kebebasan untuk bekerjasama dengan banyak mitra. Slogan diplomasi Indonesia adalah bebas dan aktif. Selain itu, Indonesia merupakan salah satu negara terkemuka yang menjalankan gerakan non-blok,” ucap dia.

Lee pun melihat sejumlah peluang yang cukup menjanjikan yang bisa menjadi potensi kerjasama antara Indonesia dengan Korea ke depan.



Ia mencontohkan seperti industri kendaraan bertenaga listrik (EV), mineral penting, industri pertahanan, hingga Carbon Capture and Storage (CCS).

Ia pun berpendapat dari segi ini, Korea dan Indonesia akan saling melengkapi, Korea memiliki teknologi yang cukup mumpuni di satu sisi, dan Indonesia memiliki potensi sumber daya yang sangat potensial di sisi lain.

“Dengan menggabungkan teknologi dan modal Korea dengan sumber daya dan potensi industri di Indonesia, kita dapat beralih dari proyek-proyek terisolasi ke peta jalan strategi bersama untuk pertumbuhan regional,” ujarnya.

Lee juga menyampaikan saat ini Indonesia merupakan salah satu mitra terdekat Korea Selatan pada program Economic Development Cooperation Fund (EDCF).

EDCF didirikan pertama kali pada 1987 sebagai lembaga khusus yang didanai Pemerintah Korea Selatan dengan tujuan memberikan kontribusi terhadap stabilitas ekonomi dan pembangunan industri negara yang sedang berkembang serta untuk meningkatkan kerjasama.


“Pada 2021, kami meningkatkan batas pinjaman menjadi US$1,5 miliar untuk 2022-2026, dengan fokus pada energi hijau, transformasi digital, dan layanan kesehatan, yang merupakan sektor-sektor kunci dalam tujuan pembangunan Indonesia,” ucapnya.

Pada saat yang sama, Deputi Bidang Kerja Sama Penanaman Modal di Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Tirta Nugraha Mursita menyampaikan Korea Selatan merupakan salah mitra strategis RI dalam sektor investasi.

Ia menyebut Korea menempati posisi ke-7 sebagai negara dengan total foreign direct investment (FDI) terbesar di Indonesia.

“Investasi Korea telah memainkan peran yang sangat signifikan dalam perekonomian Indonesia,” ucap Tirta.

Tirta menjelaskan realisasi investasi Korea di Indonesia pada 2020 hingga 2024 menyentuh US$11,3 miliar atau sekitar Rp185 triliun.

Ia menjabarkan angka itu memang sempat menurun pada 2021, namun kembali melonjak pada 2022 hingga 2024 kemarin.

“Meskipun Korea berada di peringkat ke-7. Tetapi mereka berinvestasi di bidang listrik, gas, air, otomotif, mesin, dan elektronik. Dan fokus pada industri di hilir. Artinya, mereka tidak hanya membawa uang, tetapi juga [Transfer] teknologi, kompetensi,” ucapnya.

Ia pun menyebut nilai investasi perusahaan Korea Selatan di Indonesia hampir berada di seluruh sektor.

Salah satunya, ia menyebut banyak perusahaan Korea yang terlibat dalam proyek ekosistem industri kendaraan bertenaga listrik alias EV di Indonesia.

Tirta pun mengakui masih cukup banyak pekerjaan rumah pemerintah jika ingin meningkatkan lagi angka investasi dari luar negeri ke Indonesia.

Ia menyebut pemerintah harus membangun infrastruktur yang memadai, khususnya di sejumlah wilayah di Indonesia.

“Kita perlu membangun kembali infrastruktur yang memadai di Sumatra, Kalimantan, Papua, Maluku, dan wilayah lain di negara kita,” ujar dia.



Source: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20251226122507-92-1310826/perang-dagang-as-cina-momentum-penguatan-hubungan-ri-korsel.


2025  ·  Journalist Network 2025
Banyak Perusahaan Korea Minati Investasi Proyek Waste to Energy RI
Korea Selatan menaruh minat untuk berinvestasi pada program pengelolaan sampah menjadi sumber listrik atau waste to energy yang tengah dikerjakan BPI Danantara. (CNN Indonesia/Muhammad Naufal).

Jakarta, CNN Indonesia — Korea Selatan menaruh minat untuk berinvestasi pada program pengelolaan sampah menjadi sumber listrik atau waste to energy yang tengah dikerjakan BPI Danantara.
Hal ini disampaikan Konsuler Bidang Ekonomi Kedutaan Besar Korea Selatan untuk Indonesia Kim Chanwoo di acara diskusi FPCI bertajuk APEC at the Crossroads: Building Bridges for Regional Growth, Jakarta, Senin (13/10) lalu.

“Jadi, tentunya kami, perusahaan-perusahaan Korea, memiliki ketertarikan dalam proyek itu,” kata Kim dalam diskusi yang merupakan bagian dari program Indonesia Next Generation Journalist Network on Korea oleh FPCI dan Korea Foundation.

Tak hanya itu, Kim menyebut perusahaan asal Korea juga tertarik dengan proyek carbon credit storage atau transfer di Indonesia.

Kim menyebut belakangan perusahaan Korea Selatan tengah menaruh minat pada proyek hijau dan energi terbarukan.

Oleh karenanya, ia menyebut perusahaan Korea akan tertarik pada proyek waste to energy garapan Danantara tersebut.

“Proyek pengolahan sampah menjadi energi merupakan salah satu area energi terbarukan, sehingga perusahaan Korea pasti akan tertarik,” ucap dia.

Pada saat yang sama, Deputi Bidang Kerja Sama Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Tirta Nugraha Mursitama juga menyebut banyak perusahaan yang telah berkomitmen untuk turut serta menggarap proyek waste to energy tersebut.

BPI Danantara tengah menggarap proyek waste to energy. CEO Danantara Rosan Roeslani pada (6/11) lalu menyampaikan program itu masuk pada proses penjaringan investor.

Ia menyebut ada sekitar 240 calon investor yang berminat berinvestasi pada program tersebut.

“Kita minggu depan itu kita akan buka untuk proses bidding-nya. Bidding-nya, maksudnya masukkan penawarannya ya. Itu mulai proses kita memberikan data dan penawaran itu kita mulai minggu depan. Karena dari tujuh itu memang kesediaan lahannya kan sudah ada,” kata Rosan di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (6/11).

Rosan juga menyampaikan sejauh ini ada tujuh daerah yang berpotensi menjadi tempat groundbreaking program.

Ia mengatakan tujuh daerah itu telah mendapatkan persetujuan dari Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dan Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq.

Rosan menyebut proyek ini nantinya akan disertai teknologi yang mumpuni. Di mana sampah dalam proses pengolahan tak perlu lagi dipisah-pisahkan.

Ia mengatakan pengolahan sampah tanpa perlu diklasifikasikan itu berbeda dengan proses hari ini.

Source: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20251225125557-92-1310600/banyak-perusahaan-korea-minati-investasi-proyek-waste-to-energy-ri

2025  ·  Journalist Network 2025
Korsel jadikan KTT APEC 2025 sebagai ajang pertemuan Trump-Xi
Menteri-Penasihat Bidang Ekonomi, Kedutaan Besar Korea Selatan di Indonesia, Kim Chanwoon dalam lokakarya wartawan di Jakarta, Senin (13/10/2025). (ANTARA/Kuntum Riswan.)

Jakarta (ANTARA) – Korea Selatan akan menjadikan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC 2025 sebagai ajang untuk mempertemukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping guna membahas kemajuan kawasan.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menteri-Penasihat Bidang Ekonomi, Kedutaan Besar Korea Selatan di Indonesia, Kim Chan-Woo saat menjadi pembicara dalam The Indonesian Next Generation Journalist Network yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan Korea Foundation di Jakarta, Senin.

KTT APEC akan berlangsung 31 Oktober-1 November 2025 di Gyeongju, Korea Selatan. Forum tahunan tersebut merupakan forum ekonomi regional yang dibentuk untuk meningkatkan kerja sama, perdagangan, dan investasi di kawasan Asia-Pasifik yang terdiri dari 21 anggota, termasuk Indonesia, Amerika Serikat, China, Jepang, Korea Selatan, dan lainnya.

“Sebagai ketua, kami mengambil setiap kesempatan untuk membawa kedua pemimpin tersebut datang ke pertemuan APEC agar mereka dapat bertemu dengan anggota lain di kawasan ini, membahas bagaimana kawasan ini harus melangkah ke depan,” kata Kim.

Kim menyampaikan bahwa Korea Selatan akan memberikan peluang bagi kedua pemimpin negara ekonomi terbesar dunia itu untuk mengadakan pertemuan tatap muka, yang akan menjadi pertemuan langsung pertamanya sejak Trump menjabat sebagai presiden Amerika Serikat untuk periode kedua.

https://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?client=ca-pub-7452133798636650&output=html&h=280&slotname=2135828508&adk=772114038&adf=2533926414&pi=t.ma~as.2135828508&w=730&fwrn=4&fwrnh=100&lmt=1767878058&rafmt=1&format=730×280&url=https%3A%2F%2Fwww.antaranews.com%2Fberita%2F5171281%2Fkorsel-jadikan-ktt-apec-2025-sebagai-ajang-pertemuan-trump-xi&fwr=0&fwrattr=true&rpe=1&resp_fmts=3&aieuf=1&aicrs=1&uach=WyJtYWNPUyIsIjI2LjIuMCIsImFybSIsIiIsIjE0My4wLjc0OTkuMTkyIixudWxsLDAsbnVsbCwiNjQiLFtbIkdvb2dsZSBDaHJvbWUiLCIxNDMuMC43NDk5LjE5MiJdLFsiQ2hyb21pdW0iLCIxNDMuMC43NDk5LjE5MiJdLFsiTm90IEEoQnJhbmQiLCIyNC4wLjAuMCJdXSwwXQ..&abgtt=6&dt=1767878058542&bpp=3&bdt=112&idt=34&shv=r20260105&mjsv=m202512100101&ptt=9&saldr=aa&abxe=1&cookie=ID%3De4ea2677add40d43%3AT%3D1765625332%3ART%3D1767877940%3AS%3DALNI_MbxJPW8__Jfgayck43kxm4XzuNJBw&gpic=UID%3D000011c9a0bf5f06%3AT%3D1765625332%3ART%3D1767877940%3AS%3DALNI_MbD-D_piMv26V8awE8cd_Xi4nJOJA&eo_id_str=ID%3Db6200034ef3895e2%3AT%3D1765625332%3ART%3D1767877940%3AS%3DAA-AfjZfXGMPhWgfx5lBt3D116yQ&prev_fmts=0x0&nras=1&correlator=5998229975375&frm=20&pv=1&u_tz=420&u_his=1&u_h=900&u_w=1440&u_ah=805&u_aw=1440&u_cd=30&u_sd=2&dmc=8&adx=165&ady=1584&biw=1440&bih=717&scr_x=0&scr_y=0&eid=31096103%2C95376583%2C95379483%2C95344789%2C95372614&oid=2&pvsid=2653470101295393&tmod=1743520608&uas=0&nvt=1&fc=1920&brdim=0%2C30%2C0%2C30%2C1440%2C30%2C1440%2C804%2C1440%2C717&vis=1&rsz=%7C%7CpeEbr%7C&abl=CS&pfx=0&fu=128&bc=31&bz=1&ifi=2&uci=a!2&btvi=1&fsb=1&dtd=37

“Ini akan menjadi pertama kalinya, saya kira, kedua pemimpin tersebut bertemu secara tatap muka. Saya berharap hal ini terjadi dan mereka mendapatkan hasil yang baik dari pertemuan tersebut,” ucapnya.

APEC 2025 juga akan mempertemukan Presiden Indonesia Prabowo Subianto dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung secara tatap muka untuk pertama kalinya, yang dinilai Kim, akan memiliki makna yang sangat besar bagi hubungan bilateral antara kedua negara.

Sejak Lee dilantik pada Juni lalu setelah dilakukannya proses pemakzulan terhadap presiden sebelumnya buntut penerapan darurat militer yang berlangsung singkat, Presiden Lee dan Presiden Prabowo baru telah melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon.

Kim turut menegaskan bahwa Korea Selatan berkomitmen untuk bekerja sama erat dengan Indonesia, sembari menyampaikan agar kedua kepala negara membahas cara-cara untuk memaksimalkan perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif antara Korea dan Indonesia.

“Kami juga berharap kedua pemimpin akan membahas dan menetapkan area kerja sama baru, seperti perubahan iklim, energi terbarukan, ketahanan pangan, dan teknologi informasi dan komunikasi,” tegasnya.

Source: https://www.antaranews.com/berita/5171281/korsel-jadikan-ktt-apec-2025-sebagai-ajang-pertemuan-trump-xi

2025  ·  Journalist Network 2025
BKPM: Pertumbuhan berkelanjutan penting capai ekonomi 8 persen
Deputi Menteri Kerja Sama Penanaman Modal, BKPM, Tirta Nugraha Mursitama dalam lokakarya wartawan di Jakarta, Senin (13/10/2025). (ANTARA/Kuntum Riswan.)

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan diperlukan untuk meningkatkan ekonomi negara dan mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Deputi Menteri Kerja Sama Penanaman Modal, BKPM, Tirta Nugraha Mursitama saat menjadi pembicara dalam The Indonesian Next Generation Journalist Network yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan Korea Foundation di Jakarta, Senin.

“Untuk mencapai status negara berpenghasilan tinggi, Indonesia tidak hanya perlu mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen, tetapi juga harus memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan,” kata Tirta.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia, katanya, harus berfokus pada peningkatan produktivitas melalui hilirisasi dan harus bersifat inklusif.

Tirta pun mencontohkan Korea Selatan sebagai mitra strategis dan sangat penting bagi Indonesia, baik dari segi kerja sama bilateral maupun peranan global.

Korea Selatan berada pada posisi nomor tujuh sebagai kontributor terbesar Penanaman Modal Asing (PMA) ke Indonesia selama periode 2020-2024. Total investasi Korea Selatan di Indonesia mencapai 11,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp185 triliun selama periode 2020-2024.

BKPM mencatat salah satu proyek utama investor Korea Selatan di Indonesia, berfokus pada hilirisasi yakni proyek ekosistem baterai kendaraan listrik. Selain itu, terdapat investasi di sektor kelistrikan, gas dan air; mesin, elektronik, dan peralatan listrik: hingga industri logam dasar.

Kendati demikian, Tirta menegaskan bahwa dalam upaya mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen yang ditetapkan oleh Presiden Prabowo, yang terpenting bukan jumlah investasi, namun sektor yang menjadi tujuan investasi asing.

“Korea berinvestasi di sektor listrik, gas, air, otomotif, mesin, dan elektronik. Mereka fokus pada sektor yang tidak tidur, artinya mereka tidak hanya membawa modal, tetapi juga teknologi, kompetensi, serta sumber daya manusia untuk Indonesia dan mentransformasikannya ke mitra lokal, BUMN, serta masyarakat lokal,” jelasnya.

https://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?client=ca-pub-7452133798636650&output=html&h=280&slotname=2135828508&adk=772114038&adf=1159631081&pi=t.ma~as.2135828508&w=730&fwrn=4&fwrnh=100&lmt=1767877992&rafmt=1&format=730×280&url=https%3A%2F%2Fwww.antaranews.com%2Fberita%2F5171205%2Fbkpm-pertumbuhan-berkelanjutan-penting-capai-ekonomi-8-persen%3Fpage%3D2&fwr=0&fwrattr=true&rpe=1&resp_fmts=3&aieuf=1&aicrs=1&uach=WyJtYWNPUyIsIjI2LjIuMCIsImFybSIsIiIsIjE0My4wLjc0OTkuMTkyIixudWxsLDAsbnVsbCwiNjQiLFtbIkdvb2dsZSBDaHJvbWUiLCIxNDMuMC43NDk5LjE5MiJdLFsiQ2hyb21pdW0iLCIxNDMuMC43NDk5LjE5MiJdLFsiTm90IEEoQnJhbmQiLCIyNC4wLjAuMCJdXSwwXQ..&abgtt=6&dt=1767877992307&bpp=1&bdt=140&idt=62&shv=r20260105&mjsv=m202512100101&ptt=9&saldr=aa&abxe=1&cookie=ID%3De4ea2677add40d43%3AT%3D1765625332%3ART%3D1767877940%3AS%3DALNI_MbxJPW8__Jfgayck43kxm4XzuNJBw&gpic=UID%3D000011c9a0bf5f06%3AT%3D1765625332%3ART%3D1767877940%3AS%3DALNI_MbD-D_piMv26V8awE8cd_Xi4nJOJA&eo_id_str=ID%3Db6200034ef3895e2%3AT%3D1765625332%3ART%3D1767877940%3AS%3DAA-AfjZfXGMPhWgfx5lBt3D116yQ&prev_fmts=0x0&nras=1&correlator=2239911238218&frm=20&pv=1&u_tz=420&u_his=2&u_h=900&u_w=1440&u_ah=805&u_aw=1440&u_cd=30&u_sd=2&dmc=8&adx=165&ady=1068&biw=1440&bih=717&scr_x=0&scr_y=0&eid=31096103%2C95376583%2C95380024%2C42533294%2C95344791%2C95379031&oid=2&pvsid=5790164057968599&tmod=1743520608&uas=1&nvt=1&ref=https%3A%2F%2Fwww.antaranews.com%2Fberita%2F5171205%2Fbkpm-pertumbuhan-berkelanjutan-penting-capai-ekonomi-8-persen&fc=1920&brdim=0%2C30%2C0%2C30%2C1440%2C30%2C1440%2C804%2C1440%2C717&vis=1&rsz=o%7C%7CpeEbr%7C&abl=CS&pfx=0&fu=128&bc=31&bz=1&ifi=2&uci=a!2&btvi=1&fsb=1&dtd=65

“Saya pikir ini adalah kunci yang mungkin tidak banyak diketahui atau kurang dihargai oleh masyarakat umum. Mereka sering hanya membahas angka, tapi mari kita bicarakan kualitas investasi dan lapangan kerja yang tercipta dari investasi tersebut,” tambahnya.

Lebih lanjut, Tirta menyampaikan dukungan Indonesia terhadap Keketuaan Korea Selatan pada Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) 2025 yang mendorong “diplomasi jembatan” yang menempatkan Korea sebagai penghubung antara kekuatan besar dan menengah.

Strategi pertumbuhan Indonesia yang dipimpin investasi, sambungnya, juga selaras dengan agenda ekonomi berkelanjutan, inklusif, dan digital APEC.

“Kedua ekonomi ini adalah kekuatan menegah dengan kepentingan bersama dalam menjaga tatanan ekonomi global yang stabil dan berbasis aturan,” kata Tirta.

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC 2025 akan berlangsung pada 31 Oktober-1 November 2025 di Gyeongju, Korea Selatan. Forum ini akan menjadi pertemuan tahunan Forum Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik yang akan mempertemukan pemimpin dari 21 anggota.

https://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?client=ca-pub-7452133798636650&output=html&h=280&slotname=2135828508&adk=772114038&adf=906596420&pi=t.ma~as.2135828508&w=730&fwrn=4&fwrnh=100&lmt=1767877992&rafmt=1&format=730×280&url=https%3A%2F%2Fwww.antaranews.com%2Fberita%2F5171205%2Fbkpm-pertumbuhan-berkelanjutan-penting-capai-ekonomi-8-persen%3Fpage%3D2&fwr=0&fwrattr=true&rpe=1&resp_fmts=3&aieuf=1&aicrs=1&uach=WyJtYWNPUyIsIjI2LjIuMCIsImFybSIsIiIsIjE0My4wLjc0OTkuMTkyIixudWxsLDAsbnVsbCwiNjQiLFtbIkdvb2dsZSBDaHJvbWUiLCIxNDMuMC43NDk5LjE5MiJdLFsiQ2hyb21pdW0iLCIxNDMuMC43NDk5LjE5MiJdLFsiTm90IEEoQnJhbmQiLCIyNC4wLjAuMCJdXSwwXQ..&abgtt=6&dt=1767877992307&bpp=1&bdt=140&idt=76&shv=r20260105&mjsv=m202512100101&ptt=9&saldr=aa&abxe=1&cookie=ID%3De4ea2677add40d43%3AT%3D1765625332%3ART%3D1767877940%3AS%3DALNI_MbxJPW8__Jfgayck43kxm4XzuNJBw&gpic=UID%3D000011c9a0bf5f06%3AT%3D1765625332%3ART%3D1767877940%3AS%3DALNI_MbD-D_piMv26V8awE8cd_Xi4nJOJA&eo_id_str=ID%3Db6200034ef3895e2%3AT%3D1765625332%3ART%3D1767877940%3AS%3DAA-AfjZfXGMPhWgfx5lBt3D116yQ&prev_fmts=0x0%2C730x280&nras=1&correlator=2239911238218&frm=20&pv=1&u_tz=420&u_his=2&u_h=900&u_w=1440&u_ah=805&u_aw=1440&u_cd=30&u_sd=2&dmc=8&adx=165&ady=1964&biw=1440&bih=717&scr_x=0&scr_y=0&eid=31096103%2C95376583%2C95380024%2C42533294%2C95344791%2C95379031&oid=2&pvsid=5790164057968599&tmod=1743520608&uas=1&nvt=1&ref=https%3A%2F%2Fwww.antaranews.com%2Fberita%2F5171205%2Fbkpm-pertumbuhan-berkelanjutan-penting-capai-ekonomi-8-persen&fc=1920&brdim=0%2C30%2C0%2C30%2C1440%2C30%2C1440%2C804%2C1440%2C717&vis=1&rsz=o%7C%7CpeEbr%7C&abl=CS&pfx=0&fu=128&bc=31&bz=1&ifi=3&uci=a!3&btvi=2&fsb=1&dtd=79

Adapun untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada 2028-2029, BKPM mencatat diperlukannya investasi sebesar 13.032,8 triliun pada 2025–2029 dengan rata-rata pertumbuhan investasi sebesar 15,67 persen per tahun.

Source: https://www.antaranews.com/berita/5171205/bkpm-pertumbuhan-berkelanjutan-penting-capai-ekonomi-8-persen

2025  ·  Journalist Network 2025
Korsel Siap Gelar KTT APEC 2025, Nantikan Pertemuan Trump-Xi Jinping
Konselor Bidang Ekonomi Kedutaan Besar Korsel untuk Indonesia, Kim Chanwoo, (Foto: Dok FPCI)

Jakarta – Korea Selatan siap menggelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC 2025. Korsel menantikan pertemuan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dalam forum diplomatik ekonomi itu.
Hal itu disampaikan oleh Konselor Bidang Ekonomi Kedutaan Besar Korsel untuk Indonesia, Kim Chanwoo, dalam diskusi program
Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea yang digelar Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) bekerja sama dengan The Korea Foundation di Jakarta pada 13 Oktober 2025 lalu. KTT APEC bakal digelar di Gyeongju pada 27 Oktober hingga 1 November 2025.

Kim menjelaskan Gyeongju merupakan ibu kota kuno dari Kerajaan Silla dan merupakan tempat luar biasa dari situs-situs warisan dunia UNESCO. Pertemuan para pemimpin APEC di Gyeongju menjadi ajang Korsel untuk memperlihatkan kedalaman budaya dan sejarah mereka kepada dunia.

Korsel mengusung tema ‘Building a Sustainable Tomorrow: Connect, Innovate, and Prosper dalam kepemimpinan APEC 2025. Connect berarti memperkuat konektivitas dengan memfasilitasi perdagangan dan investasi.

Sedangkan Innovate berarti mendorong inovasi digital dengan menjembatani kesenjangan digital dan meningkatkan kerja sama dalam bidang AI. Adapun Prosper berarti mewujudkan pertumbuhan dan kemakmuran yang berkelanjutan serta inklusif dengan menghadapi berbagai tantangan global.

“Ketiga pilar ini dirancang untuk merumuskan visi kemakmuran bersama kawasan di tengah ketidakpastian global,” kata Kim.

Kim menjelaskan KTT APEC 2025 mempunyai peran signifikan dalam situasi dunia yang penuh ketidakpastian saat ini. Dia menyinggung tensi geopolitik di berbagai kawasan, meningkatnya proteksionisme yang melemahkan sistem perdagangan multilateral hingga fragmentasi rantai pasok yang meningkatkan biaya bagi perekonomian dunia.

“Sebagai salah satu negara pendiri sekaligus pendukung perdagangan bebas, integrasi ekonomi dan multilateralisme, Pemerintah Korea telah melakukan upaya maksimal dalam memastikan KTT APEC 2025 sukses,” kata Kim.

“Sebagai negara dengan ketangguhan dan kematangan demokrasi yang dibuktikan dalam akhir-akhir ini, kami percaya terhadap kemampuan kami dalam menavigasi perjalanan yang sulit ini,” sambung dia.

Rencana Pertemuan Trump dan Xi Jinping
Lebih lanjut, Kim mengatakan KTT APEC 2025 menjadi persimpangan diplomasi yang krusial. Mata dunia tertuju pada forum tersebut, apakah APEC bisa menjadi platform dialog dan deeskalasi di antara pemimpin dunia, termasuk Amerika dan China.

Per 13 Oktober lalu, Kim menyampaikan pihaknya terus melihat perkembangan soal potensi pertemuan Trump dan Xi Jinping di KTT APEC 2025. Kabar rencana kedua pemimpin tersebut hadir di KTT APEC terus dinamis.

“Kami berupaya memanfaatkan setiap kesempatan untuk menghadirkan kedua pemimpin itu ke pertemuan APEC, agar dapat bertemu dengan para pemimpin lain di kawasan dan membicarakan mengenai bagaimana arah masa depan kawasan,” ujar Kim.

Menurut Kim, hal itu akan menjadi perjumpaan yang pertama sejak Trump kembali menjabat sebagai presiden. KTT APEC 2025 bakal menjadi pertemuan momen penuh makna.

“Saya berharap hal itu dapat terwujud dan menghasilkan hasil yang baik dari pertemuan mereka,” ujar Kim.

Trump Bertolak ke Asia
Presiden Trump sebelumnya telah bertolak ke Asia pada Jumat (24/10) malam waktu AS, untuk melakukan kunjungan ke tiga negara, yakni Malaysia, Jepang, dan Korea Selatan (Korsel). Ini menjadi kunjungan pertama Trump ke kawasan Asia pada masa jabatan keduanya.

Dalam kunjungan ini, seperti dilansir AFP dan Associated Press, Sabtu (25/10/2025), Trump diperkirakan akan membahas kesepakatan investasi dan upaya perdamaian sebelum melakukan pertemuan tatap muka dengan Presiden China Xi Jinping saat keduanya sama-sama menghadiri KTT APEC di Korsel.

Pertemuan antara Trump dan Xi itu digelar dalam upaya meredakan perang dagang antara kedua negara.

“Kita memiliki banyak hal untuk dibicarakan dengan Presiden Xi, dan dia juga punya banyak hal untuk dibicarakan dengan kita. Saya rasa pertemuan kita akan berjalan dengan baik,” kata Trump kepada wartawan saat meninggalkan Gedung Putih sebelum melakukan penerbangan ke Asia.

Trump akan berkunjung ke Korsel, di mana dia akan mendarat di kota pelabuhan Busan pada Rabu (29/10) mendatang. Trump akan bertemu Presiden Lee Jae Myung dan menghadiri KTT APEC yang digelar di Gyeongju.

Dia juga akan berpidato dalam jamuan makan siang APEC bersama para pemimpin bisnis, dan makan malam dengan petinggi perusahaan teknologi AS di sela-sela KTT tersebut.

Pada Kamis (30/10) mendatang, Trump akan melakukan pertemuan yang sangat dinantikan dengan Xi di sela-sela KTT APEC. Pertemuan ini menyusul perang dagang sengit selama berbulan-bulan antara kedua negara yang mengguncang ekonomi global.

Source: https://news.detik.com/berita/d-8179045/korsel-siap-gelar-ktt-apec-2025-nantikan-pertemuan-trump-xi-jinping.

2025  ·  Journalist Network 2025
Pemerintah Bicara Tantangan Geopolitik, Dorong ‘Bridge Diplomacy’ APEC 2025
Tirta Nugraha (Foto: Dok FPCI)

Jakarta – Deputi Bidang Kerja Sama Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirasi/BKPM, Tirta Nugraha Mursitama, berbicara mengenai fragmentasi geopolitik dan dampaknya terhadap perekonomian dunia. Dia mendukung kepemimpinan Korsel dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC 2025 untuk menjembatani kekuatan besar dan menengah dalam mengatasi tantangan dunia saat ini.
Hal itu disampaikan Tirta dalam diskusi program Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea yang digelar Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) bekerja sama dengan The Korea Foundation di Jakarta pada 13 Oktober 2025 lalu yang mengangkat tema ‘APEC at The Crossroads: Building Bridges for Regional Growth’. KTT APEC bakal digelar di Gyeongju pada 27 Oktober hingga 1 November 2025.

Tirta mengawali penjelasannya dengan berbicara mengenai tantangan dunia saat ini yang penuh dengan ketidakpastian. Ekonomi dunia melambat akibat tensi geopolitik yang meningkat.

Setelah itu, Tirta menjelaskan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang melandasi kebijakan BKPM, khususnya terkait proses hilirasasi dan pengembangan industri berbasis sumber daya alam untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

“Kami memahami bahwa Presiden Prabowo selalu menegaskan bahwa hilirisasi merupakan salah satu instrumen penting dalam mendorong industrialisasi,” ujar Tirta.

Tirta juga menyampaikan target pemerintah mengenai pertumbuhan ekonomi 8 persen. Dia menekankan bahwa investasi menjadi faktor penting dalam mewujudkan target tersebut.

Barulah kemudian Tirta memaparkan kontribusi investasi Korsel di Indonesia. Dia mengatakan perusahaan Korsel telah berinvestasi di berbagai sektor, mulai dari makanan, bioskop, pusat perbelanjaan hingga transportasi.

“Yang ingin saya katakan adalah investasi Korea Selatan mempunyai peran penting dalam ekonomi Indonesia,” ujar Tirta.

Setelah itu, dia menyampaikan realisasi investasi Korsel di Indonesia pada periode 2020-2024. Nilai investasi Korsel terus meningkat sejak 2021 dengan angka USD11,3 miliar pada 2024.

Tirta mengatakan Korsel saat ini menempati peringkat 7 dalam penanaman modal asing terbesar di Indonesia. Sektor utama investasi Korsel mencakup utilitas (listrik, gas, dan air), otomotif, mesin dan elektronika.

“Meskipun Korsel nomor 7 tetapi mereka berinvestasi dalam electricity, gas, water, automotive, machinery and electronics, and focus on the downstreaming. Berarti mereka tidak hanya membawa uang tetapi juga membawa juga teknologi, membawa kompetensi, sumber daya manusia, dan transfer ke mitra lokal di Indonesia,” imbuh dia.

Tirta lalu berbicara kepemimpinan Korsel di KTT APEC 2025. Dia mendukung keketuaan Korsel di APEC yang mengusung konsep ‘bridge diplomacy’ yakni menempatkan Korsel sebagai penghubung antara kekuatan besar dan kekuatan menengah.

Menurut dia, ada beberapa bidang potensial untuk peningkatan kerja sama dalam KTT APEC mulai dari peningkatan ketahanan rantai pasok, transformasi digital dan energi terbarukan, mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, serta mendorong inovasi dan investasi bersama.

“Indonesia harus memainkan peran yang lebih besar dalam kepemimpinan Korea di APEC tahun ini,” imbuh dia.

Source: https://news.detik.com/berita/d-8179167/pemerintah-bicara-tantangan-geopolitik-dorong-bridge-diplomacy-apec-2025.

2025  ·  Journalist Network 2025
Korea Selatan Termasuk Investor Terbesar RI, Ini Tren dan Proyeksinya

Menurut data BKPM, Korea Selatan menjadi salah satu investor penanaman modal asing (PMA) terbesar di Indonesia. Ini tren investasi Negara Gingseng itu selama 2020-2024.

Source: https://databoks.katadata.co.id/ekonomi-makro/statistik/68fd0b4d6e717/korea-selatan-termasuk-investor-terbesar-ri-ini-tren-dan-proyeksinya

2025  ·  Journalist Network 2025
APEC 2025: Arah Tuan Rumah Korea Selatan dan Jembatan Dialog AS-Cina
Konselor Bidang Ekonomi Kedutaan Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Kim Chanwoo, memaparkan latar, visi, dan tujuan APEC yang bakal digelar di Gyeongju, Korea Selatan pada 31 Oktober-1 November 2025. Lokakarya bersama jurnalis ini digelar di kantor FPCI, Jakarta, Senin (13/10/2025).

Kota bersejarah di Korea Selatan (Korsel), Gyeongju, akan menjadi panggung perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) 2025. Pada 31 Oktober hingga 1 November mendatang, forum ini akan mempertemukan para pemimpin dari 21 negara untuk membahas masa depan kerja sama di kawasan Asia-Pasifik. Sebagai tuan rumah, Korsel mendorong tiga visi dan tujuan APEC. Konselor Bidang Ekonomi Kedutaan Besar Korsel untuk Indonesia, Kim Chanwoo, membeberkan, tujuan pertama adalah mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan kesejahteraan bersama. Kedua, membahas komitmen APEC dalam Bogor Goals 1994, yakni menciptakan perdagangan dan investasi yang bebas dan terbuka pada 2010 bagi negara-negara industri dan pada tahun 2020 bagi negara-negara berkembang. Ketiga, Visi Putrajaya 2020, fokus pada perdagangan-investasi; inovasi-digitalisasi; serta pertumbuhan yang kuat, seimbang, aman, berkelanjutan, dan inklusif. “Tema APEC 2025 di Korsel juga fokus pada tiga prioritas, di antaranya keterhubungan, inovasi, dan kesejahteraan,” kata Kim dalam diskusi APEC at the Crossroads: Building Bridges for Regional Growth yang diselenggarakan FPCI bersama Korea Foundation di Jakarta, Senin (13/10/2025).

Kim juga menjelaskan, ada dua inisiatif utama yang diprakarsai Korsel sebagai tuan rumah, yakni kerja sama di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan pergeseran demografi. Di bidang AI, Kim menyebut kerja sama ini berfokus pada pembangunan kapasitas dan ekosistem investasi berkelanjutan. Lalu bidang demografi, untuk mendorong kebijakan dan sistem yang responsif bagi masyarakat lanjut usia.

“Selain itu, memperkuat mobilitas sumber daya manusia dan mempromosikan inovasi di bidang kesehatan dan teknologi, guna mengubah tantangan demografi menjadi peluang untuk pertumbuhan dan inovasi masa depan,” kata Kim. Jembatan Dialog AS-Cina Pertemuan APEC digelar di tengah gejolak geopolitik dan ketidakpastian ekonomi dunia. Salah satunya karena perang dagang akibat “tarif resiprokal” yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Ini membuat tensi perdagangan internasional, khususnya AS dengan Cina, memanas. Merespons itu, Kim menyebut Korsel menjadikan forum ini sebagai wadah pertemuan Donald Trump dan Presiden Cina, Xi Jinping. Kim berharap pertemuan tatap muka keduanya berhasil dan bisa melahirkan langkah yang berdampak. “Sebagai ketua, kami mengambil setiap kesempatan untuk membawa kedua pemimpin tersebut datang ke pertemuan APEC agar mereka dapat bertemu dengan anggota lain di kawasan ini, membahas bagaimana kawasan ini harus melangkah ke depan,” kata Kim, dilansir dari Antaranews. Forum APEC juga bakal mempertemukan Presiden Indonesia, Prabowo Subianto dan Presiden Korsel, Lee Jae Myung. Ini bakal jadi pertemuan perdana dua pemimpin itu setelah hanya berkontak melalui sambungan telepon.

Lee pun baru dilantik pada Juni 2025 menyusul adanya pemakzulan terhadap presiden sebelumnya, Yoon Suk Yeol, buntut memberlakukan darurat militer.

Source: https://katadata.co.id/berita/internasional/68fcea3313a19/apec-2025-arah-tuan-rumah-korea-selatan-dan-jembatan-dialog-as-cina

2025  ·  Journalist Network 2025
Di APEC 2025, RI-Korsel Bidik Peluang Kolaborasi

Indonesia dan Korea Selatan memiliki peluang kerja sama lebih lanjut di sektor teknologi digital dan energi terbarukan.

Perhelatan konferensi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik atau APEC 2025 tidak hanya memberi harapan kepada kawasan. Di sela-sela acara tersebut, para anggota memiliki kesempatan untuk memperkuat kerja sama bilateral. Indonesia dan Korsel bisa berburu peluang baru.

Konferensi Tingkat Tinggi APEC 2025 berlangsung selama 27 Oktober-1 November 2025 di Gyeongju, Korea Selatan. Sebagai tuan rumah, Korsel mengusung tema ”Building a Sustainable Tomorrow: Connect, Innovate, Prosper”. Dua agenda menjadi fokus, yakni kerja sama di bidang akal imitasi (AI) serta penanganan perubahan struktur demografi.

Menjelang pertemuan puncak para pemimpin, APEC merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan, yakni naik tipis dari 3 persen menjadi 3,1 persen pada 2025. Peningkatan itu berkat aktivitas perdagangan yang tangguh serta permintaan yang kuat untuk produk berteknologi tinggi. Namun, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan melambat menjadi 2,9 persen pada 2026.

Source: https://www.kompas.id/artikel/di-apec-2025-ri-korsel-berburu-peluang-kolaborasi

2025  ·  Journalist Network 2025
Optimisme RI-Korsel di Persimpangan APEC 2025

Selama APEC 2025, ada dua pertemuan penting berlangsung. Presiden Trump bertemu Presiden Xi, sementara Presiden Prabowo bertemu Presiden Lee.

Ketika ekonomi global berjuang tumbuh, harapan bersemi menjelang Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik atau APEC 2025. Amerika Serikat dan China yang berseteru akan bertemu. Negara-negara kekuatan tengah sibuk bersiasat mencari peluang kerja sama baru, termasuk Indonesia dan Korea Selatan.

Tahun 2025 menjadi tahun yang sibuk Korea Selatan. Di samping menjadi ketua MIKTA, Seoul menjadi tuan rumah perhelatan KTT APEC 2025 selama 27 Oktober-1 November 2025 di Gyeongju. Para pemimpin sekaligus pebisnis dari 21 ekonomi anggota bakal berjumpa, termasuk dari AS, China, Korsel, ASEAN, dan Rusia.

”APEC 2025 berlangsung di ketidakpastian. Asia Pasifik menghadapi persaingan geopolitik, proteksionisme, dan fragmentasi rantai pasokan,” tutur Kim Chan Woo, Konsuler Urusan Ekonomi Kedutaan Besar Korsel untuk Indonesia, dalam lokakarya jurnalis ”APEC at the Crossroads: Building Bridges for Regional Growth”, Jakarta, Senin (13/10/2025).

Sumber: https://www.kompas.id/artikel/optimisme-ri-korsel-di-persimpangan-apec-2025

123456
Page 3 of 6

Youtube
Twitter
Facebook
Instagram
Copyright 2021 - www.indonesia-koreajournalist.net