• Home
  • Services
  • Pages
    • About 1
    • About 2
    • About 3
    • About 4
    • Our Team
    • Contact 1
    • Contact 2
    • Service 1
    • Service 2
    • Service 3
  • Portfolio
    • Column One
      • Portfolio Classic
      • Portfolio Grid
      • Portfolio Grid Overlay
      • Portfolio 3D Overlay
      • Portfolio Contain
    • Column Two
      • Portfolio Masonry
      • Portfolio Masonry Grid
      • Portfolio Coverflow
      • Portfolio Timeline Horizon
      • Portfolio Timeline Vertical
    • Column Four
      • Single Portfolio 1
      • Single Portfolio 2
      • Single Portfolio 3
      • Single Portfolio 4
      • Single Portfolio 5
    • Column Three
      • Video Grid
      • Gallery Grid
      • Gallery Masonry
      • Gallery Justified
      • Gallery Fullscreen
  • Blog
    • Blog Grid No Space
    • Blog Grid
    • Blog Masonry
    • Blog Metro No Space
    • Blog Metro
    • Blog Classic
    • Blog List
    • Blog List Circle
  • Slider
    • Column One
      • Vertical Parallax Slider
      • Animated Frame Slider
      • 3D Room Slider
      • Velo Slider
      • Popout Slider
      • Mouse Driven Carousel
    • Column Two
      • Clip Path Slider
      • Split Slick Slider
      • Fullscreen Transition Slider
      • Flip Slider
      • Horizon Slider
      • Synchronized Carousel
    • Column Three
      • Multi Layouts Slider
      • Split Carousel Slider
      • Property Clip Slider
      • Slice Slider
      • Parallax Slider
      • Zoom Slider
    • Column Four
      • Animated Slider
      • Motion Reveal Slider
      • Fade up Slider
      • Image Carousel Slider
      • Glitch Slideshow
      • Slider with other contents
  • Shop

Journalist Network 2025

2025  ·  Journalist Network 2025
Dunia Kacau Balau, Geng Negara-Negara ‘Middle Power’ Rapatkan Barisan
Foto: Logo MIKTA. (Dok.mikta.org)

Jakarta, CNBC Indonesia – Negara-negara yang mengkategorikan diri sebagai kekuatan tengah (middle power) dan tergabung ke dalam MIKTA (akronim dari Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia) kini semakin berupaya mempromosikan penguatan prinsip multilateralisme atau kerja sama erat antar negara, baik dari sisi ekonomi, sosial, hingga politik.
Langkah ini kian mencuat setelah unilateralisme mendominasi tatanan global saat ini, seusai negara-negara superpower seperti Amerika Serikat cenderung meninggalkan organisasi kerja sama dunia, mulai dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hingga menarik diri dari Perjanjian Paris (Paris Agreement).

Di sisi lain, fragmentasi antar negara juga tengah memburuk setelah perang tarif dagang kembali terjadi pada saat masa kepemimpinan periode kedua Presiden AS Donald Trump, di tengah belum berakhirnya konflik bersenjata di berbagai belahan dunia, seperti di Timur Tengah, hingga perang Rusia dan Ukraina.

Berbagai permasalahan itu yang membuat Korea Selatan, sebagai pemegang Keketuaan MIKTA periode Februari 2025-Februari 2026 akan memprioritaskan tiga agenda utama, yakni membangun perdamaian dunia, mendorong keterlibatan pemuda, dan mempercepat capaian tujuan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG’s).

“Prioritas ini tidak saja mencerminkan fokus kebijakan Korea, tetapi juga aspirasi kolektif kita dan middle power kita,” kata Wakil Kedutaan Besar Korea Selatan di Indonesia Park Soo-deok dalam acara diskusi yang diselenggaran Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bersama Korea Foundation, Jakarta, Kamis (26/6/2025).

Di tengah kondisi dunia yang makin terpecah, Korea Selatan menganggap kelompok kekuatan tengah menjadi sangat signifikan dan penting untuk menonjolkan perannya di kancah global, untuk mempromosikan kembali prinsip-prinsip multilateralisme dan perdamaian dunia.

“Dengan bekerja sama, negara-negara MIKTA dapat memperkuat suara kolektif kita, dan berfungsi sebagai kekuatan penstabil dalam urusan global. Peran kekuatan tengah saat ini tidak pernah lebih penting dari sebelumnya,” ucap Park.

Keinginan Park tak mengherankan karena dalam catatan di paper terbitan 2015 berjudul “MIKTA: A Functioning Product of “New” Middle Power-ism?”, kelima negara anggota MIKTA mencakup seperempat ekonomi terbesar dunia di G20, dengan jumlah populasi mewakili 500 juta orang, PDB senilai US$ 5,6 miliar dan volume perdagangan total US$ 1,5 triliun.

Saat di bawah keketuaan Meksiko pada 2024 silam, MIKTA juga difokuskan untuk memperkuat promosi terhadap perdamaian, inklusivitas, dan keberlanjutan tatanan global. Hal ini seiring dengan pandangan Meksiko bahwa MIKTA mampu memperkuat hubungan bilateral antar negaranya, mempromosikan kerja sama internasional, dan sebagai ruang konsultasi mengenai isu-isu global yang menjadi kepentingan bersama untuk mendukung tata kelola global yang inklusif dan efektif.

“Meksiko memandang MIKTA sebagai jembatan antara negara maju dan negara berkembang, yang dipandu oleh nilai-nilai bersama seperti demokrasi, penghormatan terhadap hukum internasional, multilateralisme, dan kerja sama internasional,” ucap Wakil Kedutaan Besar Meksiko di Indonesia, Alonso Martin Gomez-Favila di Kantor FPCI.

Bagi Indonesia, MIKTA juga menjadi kelompok informal strategis yang dapat dijadikan kendaraan untuk menyuarakan pentingnya multilateralisme untuk membangun kerja sama yang inklusif antar negara-negara dunia. Peran MIKTA bagi Indonesia makin penting saat ini di tengah makin rentannya prinsip multilateralisme di tatanan global.

“Bagi Indonesia, kami percaya bahwa MIKTA merupakan forum strategis untuk membahas isu-isu strategis serta menjadi mitra-mitra strategis, dan kita memiliki hubungan yang sangat baik dengan semua anggota MIKTA. Kita tidak hanya berbicara dimensi politik, tapi juga ekonomi, sosial, dan isu lainnya,” tegas Direktur Pembangunan, Ekonomi dan Lingkungan Hidup Kementerian Luar Negeri Indonesia, Tri Purnajaya.

Meski begitu, Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal mengingatkan, MIKTA harus terus memperkuat visi maupun tujuan bersamanya sebagai sebuah forum internasional, bila ingin memiliki suara yang kuat untuk menjaga kondusifitas tatanan global sebagaimana forum G7 ataupun OECD.

“Karena begitu Anda memiliki tujuan bersama, Anda bergerak cepat dengan cara yang memberi arti, karena Anda memiliki alasan nyata untuk bertahan sebagai sebuah grup dan maju berdasarkan tujuan bersama itu. Jadi, MIKTA penting karena merupakan pengelompokan kekuatan tengah,” ungkap Dino.

Tanpa common purpose, Dino memastikan, MIKTA akan serupa dengan forum, kelompok, atau organisasi internasional lainnya yang hanya bisa mengadakan pertemuan, diskusi, tanpa ada implementasi kebijakan yang kuat dan mempengaruhi dinamika global.

“Jadi, hal terpenting dalam berkelompok, apa pun itu, adalah tujuan bersama. ASEAN kuat, mengapa? Karena memiliki tujuan bersama. EU kuat, mengapa? memiliki tujuan bersama, G7 kuat, mengapa? memiliki tujuan bersama. Sekarang, pertanyaannya adalah, apakah MIKTA memiliki tujuan bersama yang kuat?” tutur Dino.

Source: https://www.cnbcindonesia.com/news/20250630062742-4-644765/dunia-kacau-balau-geng-negara-negara-middle-power-rapatkan-barisan

2025  ·  Journalist Network 2025
Korea Selatan Pimpin MIKTA 2025: Tekankan Perdamaian, Pemuda, dan SDGs

MIKTA adalah kumpulan negara-neagar berekuatan menengah yang kini dipimpin Korea Selatan. Indonesia menjadi salah satu anggota.

Kuasa Usaha Kedutaan Besar Korea Selatan untuk Indonesia Park Soo-Deok. Antara/Kuntum Riswan

TEMPO.CO, Jakarta – Korea Selatan menegaskan komitmennya dalam membangun perdamaian dunia melalui keketuaan pada forum MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia) periode 2025-2026. Kepemimpinan ini menjadi kali ketiga bagi Korea Selatan sejak forum ini pertama kali dibentuk pada 2013.

“Kami ingin membangun ini sebagai wadah penting untuk menjaga niat baik dan komitmen terhadap perdamaian dan demokrasi, serta pencarian nilai-nilai bersama di dunia,” ujar Park Soo-deok, Kuasa Usaha Kedutaan Besar Korea Selatan untuk Indonesia, dalam sesi diskusi di kantor Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Jakarta, Kamis, 26 Juni 2025.

Park menjelaskan, keketuaan Korea Selatan akan mengusung tiga prioritas utama: pembangunan perdamaian, pemberdayaan pemuda, dan percepatan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

MIKTA dibentuk pada 2013 di sela Sidang Majelis Umum PBB ke-68 di New York. Forum ini bertujuan memperkuat kerja sama internasional yang bersifat inklusif, memajukan prinsip multilateralisme, dan menjembatani kepentingan negara maju serta berkembang.

Perdamaian di Tengah Ketegangan Geopolitik

Park menekankan bahwa pembangunan perdamaian menjadi isu yang sangat relevan di tengah meningkatnya tensi geopolitik dunia pada pertengahan tahun ini. Ia menyinggung persaingan negara-negara besar yang kian memanas serta konflik di berbagai belahan dunia, termasuk Timur Tengah.

Ia menegaskan bahwa negara-negara MIKTA, yang mewakili kekuatan menengah (middle powers), harus bersatu dan menyuarakan sikap bersama. “MIKTA harus satu suara dan bertindak bijaksana di tengah-tengah ketidakpastian ini,” kata Park. Konflik antara Iran dan Israel yang mencapai puncaknya pada pertengahan Juni 2025 juga menjadi salah satu latar belakang urgensi isu perdamaian ini.

Dukungan Korea untuk Misi Perdamaian PBB

Sejalan dengan prioritas pembangunan perdamaian, Peneliti Utama Emeritus Sejong Institute, Chung Eun-sook, dalam kesempatan yang sama menyatakan bahwa Korea Selatan adalah pendukung aktif upaya perdamaian yang diprakarsai oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Korea Selatan saat ini juga menjabat sebagai anggota Komisi Pembangunan Perdamaian PBB untuk periode 2023–2025, serta memperkuat kontribusi pada Dana Pembangunan Perdamaian.

Ia menyebut pengalaman Korea dalam transisi pascakonflik, serta upaya pemberdayaan pemuda di wilayah terdampak konflik, menjadi kekuatan dalam mengangkat isu perdamaian di MIKTA. “Sebagai kelompok kekuatan menengah yang proaktif, anggota MIKTA membawa pengalaman berharga dalam pencegahan konflik, pemulihan pascakonflik, dan proses perdamaian yang inklusif,” kata dia.

Peran Pemuda dalam Diplomasi Global

Isu pemberdayaan pemuda menjadi prioritas kedua MIKTA di bawah kepemimpinan Korea Selatan. Chung menekankan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam menghadapi tantangan global dan membangun masyarakat yang inklusif. “Korea telah memprioritaskan keterlibatan pemuda melalui MIKTA Young Leaders Program tahunan. Saya bangga, ini langkah yang baik untuk melibatkan pemuda dalam diplomasi kekuatan menengah kami,” ujarnya.

Chung menambahkan bahwa tahun ini merupakan peringatan satu dekade Resolusi Dewan Keamanan PBB 2250 tentang Pemuda, Perdamaian, dan Keamanan. Resolusi tersebut semakin menggarisbawahi pentingnya perspektif generasi muda dalam membangun perdamaian dan mendorong pembangunan berkelanjutan.

Percepat SDGs Jelang 2030

Korea Selatan juga memprioritaskan percepatan implementasi SDGs yang dinilai belum menunjukkan progres signifikan. Menurut Chung, hanya tersisa lima tahun hingga tenggat global pada 2030, namun perubahan iklim yang tidak terkendali dan kesenjangan sosial yang melebar menjadi hambatan besar. “Tahun ini SDGs menjadi prioritas utama, dan MIKTA bisa memainkan peran penting dalam mempercepat pelaksanaannya,” ujar Chung.

Ia juga menyebut momentum MIKTA semakin kuat sejak pandemi Covid-19. Chung menyerukan agar kolaborasi antaranggota diperkuat. “Hari ini menjadi momentum untuk merespons isu-isu terkini. Kita harus memanfaatkan momentum agar MIKTA dapat memberikan dampak nyata dan relevan bagi negara-negara berkekuatan menengah,” ucapnya.

Source: https://www.tempo.co/internasional/korea-selatan-pimpin-mikta-2025-tekankan-perdamaian-pemuda-dan-sdgs-1884560

2025  ·  Journalist Network 2025
3 MIKTA Agendas Amidst Global Chaos, Indonesia Involved

TEMPO.CO, Jakarta – Amid the increasing turbulence in global geopolitics,
the voices of superpower nations are dominating the direction of global
policies. For example, the United States, under the leadership of
Donald Trump, has been withdrawing from various multilateral cooperation
efforts. This includes the World Health Organization (WHO), the Paris
Agreement, the UN Human Rights Council (UNHRC), and the UN Relief and
Works Agency for Palestinian Refugees (UNRWA).

Trump
has also implemented a series of measures to protect the domestic
market through high tariffs on imported goods, sparking a trade war with
China and disrupting global supply chains. Armed conflicts continue
without resolution, such as Russia’s invasion of Ukraine entering its
third year and the escalating tensions between Israel and Palestine in
Gaza and the West Bank.

The
situation has become even more complex as Iran and Israel have been
involved in a series of attacks since mid-June 2025, raising concerns of
open war in the Middle East. In Asia, anxiety is on the rise as
American and Chinese warships stalk each other in the contested waters
of the South China Sea.

MIKTA Countries Banding Together

Amidst
such global chaos, a group of middle-power countries is seeking to
unite. Mexico, Indonesia, South Korea, Turkey, and Australia – part of
the informal forum called MIKTA
– are working to come together and define their position. They are
reiterating the importance of multilateralism and building a more
inclusive global order.

“MIKTA
can strengthen the collective voice and become a stabilizing force in
global affairs. The role of middle-power countries has now become more
crucial than ever before,” said Park Soo-deok, Charge d’Affaires of the
South Korean Embassy in Indonesia, during a discussion at the Foreign
Policy Community of Indonesia (FPCI) office in Jakarta on Thursday, June
26, 2025.

Three Agendas under South Korea’s Leadership

MIKTA
was formed in 2013 during the 68th UN General Assembly in New York.
This forum aims to strengthen inclusive international cooperation,
advance the principles of multilateralism, and bridge the interests of
both developed and developing countries.

South
Korea currently holds the chairmanship of MIKTA. During its leadership,
South Korea has set three main agendas: building global peace,
promoting youth engagement, and accelerating the achievement of the
Sustainable Development Goals (SDGs).

“This
not only reflects South Korea’s policy direction but also represents
our collective aspirations and our position as a middle-power country,”
added Park. To South Korea, MIKTA countries are considered capable of
bridging the interests of developed and developing countries in building
a more inclusive global system.

The
year before, Mexico held the leadership of MIKTA. They advocated for
democratic values, international law, and inclusive development. Alonso
Martin, Charge d’Affaires of the Mexican Embassy in Indonesia, referred
to MIKTA as a bridge between developed and developing countries.

“MIKTA
must continue to uphold multilateralism, provide creative solutions to
global challenges, climate change, finance, economy, and act as a bridge
between developing and developed countries,” he said. Alonso also
mentioned MIKTA as a complement to other global forums such as BRICS.
Mexico also initiated the strengthening of development cooperation
through the 4th MIKTA Development Cooperation Network Joint Statement.
This commitment will continue under South Korea’s leadership.

MIKTA’s Void as an Opportunity

For
Indonesia, MIKTA is a strategic forum to strengthen multilateral
diplomacy amidst the increasing vulnerability of global cooperation
principles. “We believe that MIKTA is a strategic forum to discuss
strategic issues. MIKTA should not only cover political dimensions but
also economic, social, and other issues,” said Tri Purnajaya, Director
of Development, Economy, and Environment at the Indonesian Ministry of
Foreign Affairs.

Despite
MIKTA’s grand vision, the realization of its cooperation is still
considered limited. For more than a decade since its formation, MIKTA
has yet to establish a business forum, and there have been no
initiatives for local currency transactions among member countries in
economic cooperation.

“That’s
why I think there needs to be something more concrete,” said Tri.
However, he sees this void as an opportunity. “I hope MIKTA will have a
greater desire, including in economic cooperation, trade, and
investment,” he added.

FPCI
Chairman, Dino Patti Djalal, also highlighted the importance of shared
goals in every international forum, so that they do not merely become
discussion platforms without influence. “With shared goals, movements
become faster and more meaningful, because there is a strong foundation
to remain united and move forward,” said Dino. The former Indonesian
Deputy Foreign Minister compared this with ASEAN, the European Union,
and the G7, which are strong because they have clear shared goals.

Dino added that following the withdrawal of the United States
from various international forums during Donald Trump’s leadership,
there has emerged a void that can be filled by middle-power countries.
“Middle-power countries have the capacity to play a role in
advancement,” he added.

Source: https://en.tempo.co/read/2023969/3-mikta-agendas-amidst-global-chaos-indonesia-involved

123456
Page 6 of 6

Youtube
Twitter
Facebook
Instagram
Copyright 2021 - www.indonesia-koreajournalist.net