CGV Indonesia (BLTZ) Sebut Film Indonesia juga Bisa Sukses di Korsel

CGV Indonesia optimis film Indonesia bisa sukses di Korea Selatan melalui kolaborasi, adaptasi budaya, dan teknologi CGI, dengan fokus pada genre horor.

Pengunjung beraktivitas di salah satu bioskop CGV di Jakarta, Selasa (15/10/2024). Bisnis/Himawan L. Nugraha


Bisnis.com, JAKARTA — PT Graha Layar Prima Tbk. (BLTZ) atau CJ CGV Cinemas melihat kolaborasi bisnis perfilman antara Indonesia dan Korea Selatan dapat diperkuat dari berbagai sisi. Menyusul kesuksesan sejumlah film garapan Negeri Ginseng diterima penonton Tanah Air, Indonesia pun dapat melakukan hal serupa. Chief Marketing Officer CGV Indonesia Kim Sun-cheol memaparkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang disasar industri perfilman karena memiliki bonus demografi, khususnya “generasi MZ” yang lahir pada periode awal 1980 dan awal 2000. “Demografi Indonesia sekitar 52% adalah generasi MZ dan Indonesia juga memiliki kelas menengah yang lebih besar dari kombinasi populasi kelas menengah di Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam,” kata Kim dalam workshop bertajuk Frames of Influence: Understanding the Korean Wave in Indonesia’s Film Landscape, Selasa (2/12/2025).

Adapun, workshop bersama jurnalis ini merupakan bagian dari “Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea” yang merupakan kerja sama Korea Foundation dan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI). 

Lebih lanjut, untuk film asal Korea Selatan, Kim menunjukkan sudah banyak kolaborasi yang dilakukan oleh kedua negara. Misalnya, produksi ulang film Sunny (2011) menjadi versi Indonesianya berjudul Bebas (2019). Selanjutnya film Miracle Cell No.7 (2013) dengan judul yang sama di Indonesia juga Miracle Cell No.7 (2025).  Terbaru, yaitu film Hyung (2016) yang diadaptasi ke versi Indonesia dengan judul My Annoying Brother (2024) hingga film Pawn (2020) yang diadaptasi menjadi Panggil Aku Ayah (2025). “Jumlah penontonnya juga saling berkejaran, seperti film Panggil Aku Ayah ini di Indonesia menarik 880.000 penonton, lebih dari separo admission film originalnya 1.710.000 penonton,” imbuh Kim.

Kim juga menunjukkan, selain film yang diadaptasi, penonton Indonesia juga tampaknya menikmati kesamaan budaya dengan Korea Selatan yang ditampilkan dalam film bergenre horor Exhuma (2024), terkait perdukunan, pemakaman, dan tabu. “Kesamaan fondasi budaya yang sama terkait praktik pemakaman di Indonesia sepertinya yang berkontribusi besar untuk penerimaan Exhuma di Indonesia,” ujar Kim. Potensi Film Indonesia Menembus Pasar Korea Selatan Tak hanya mengenai popularitas film besutan Korea Selatan yang ramai masuk ke Indonesia, Kim juga memaparkan sejumlah upaya yang dapat dilakukan oleh praktisi perfilman Tanah Air untuk menembus pasar Negeri Ginseng. Pertama, lewat kolaborasi produksi. Misalnya dengan menggarap film bersama dengan memanfaatkan transfer teknologi Computer-Generated Imagery (CGI) yang saat ini ramai digunakan di film aksi. Kedua, memaksimalkan tampilan graphic dari film itu sendiri sehingga akan lebih menarik minat penonton di Korea Selatan. Ketiga, dengan menerjemahkan Bahasa Indonesia ke Bahasa Korea tanpa mengurangi makna emosionalnya. “Bahasa Indonesia tidak terlalu dikenal di Korea Selatan, tidak seperti Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang. Jadi, penggunaan terjemahan (subtitle) yang baik sangat diperlukan,” ujar Kim. Dalam kesempatan yang sama, Chun Hye-Jin, Program Director for International Film Busan Cinema Center, menambahkan bahwa Indonesia dapat memilih satu genre film yang bisa dijadikan andalan. Misalnya, film-film Indonesia bergenre horor yang sudah banyak digandrungi hingga ke luar negeri bisa menjadi fokus. “Setiap negara sebaiknya punya tema film yang bisa menjadi top of mind orang, mungkin Indonesia bisa mengambil genre horor sehingga lebih mudah diingat penonton,” ujar Chun.

Source: https://market.bisnis.com/read/20251203/192/1933868/cgv-indonesia-bltz-sebut-film-indonesia-juga-bisa-sukses-di-korsel#goog_rewarded