Pendekatan Korea Selatan Menjaga Industri Film di Tengah Krisis

Bong Joon Ho dan para pemain film “Parasite” berpose pada Academy Awards ke-92 di Hollywood, Los Angeles, California, Amerika Serikat, Minggu (9/2/2020).

Sebelum film-film Korea Selatan menjalar ke sejumlah negara, pada era 1990-an industri ini justru disesaki oleh impor film Hollywood. Dalam catatan The K-Movie Phenomenon: A Global Rise Amidst Domestic Crisis dari diskusi yang digelar Korea Foundation dan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) pada awal Desember 2025, pangsa film lokal Korea bahkan hanya 15,9% pada 1993. Jumlah penonton tahunan berada di bawah 50 juta orang.

Pemerintah Korea dan pihak swasta menyiasatinya dengan berbagai pendekatan, dari penerapan sistem kuota layar, masuknya modal swasta dalam jumlah besar, hingga terbentuknya ekosistem kreatif yang berpusat pada sutradara.

Selaras itu, Undang-Undang Promosi Film direvisi pada 1996, dengan mewajibkan pemutaran film Korea selama 146 hari per tahun. Namun kemudian dikurangi menjadi 73 hari pada 2006 setelah negosiasi free trade agreement (FTA) Korea-Amerika Serikat. “Kuota ini secara signifikan menurunkan hambatan masuk pasar dan memberikan kesempatan pemutaran yang stabil bagi kreator domestik,” demikian bunyi catatan tersebut.

Walhasil, penurunan risiko ini mendorong konglomerat besar seperti CJ, Lotte, dan Showbox untuk berinvestasi secara agresif, yang menjadi dasar transisi menuju produksi film komersial beranggaran besar. Korea membuka celah pengembangan industri ini dengan meluncurkan Busan International Film Festival (BIFF) pada 1996. Ini menandai titik balik perfilman Negara Gingseng tersebut. Dalam pembukaan perdana saja, BIFF sudah mampu “menyihir” 180.000 orang untuk hadir di perhelatan bergengsi ini.

“BIFF kemudian menjadikan Busan sebagai kota sinema, menginspirasi generasi baru pembuat film dan berkontribusi besar pada pengembangan talenta,” ungkap catatan tersebut. Evolusi OTT Penyebaran sinema Korea di kancah internasional sangat berkaitan dengan evolusi platform konten. Ekspansi cepat layanan over the top (OTT), platform konten media seperti Netflix, Viu, Hooq, Disney+, menjadi mesin utama perluasan ke pasar luar negeri. Dengan platform ini, karya sineas Korea berhasil masuk rumah tangga di banyak negara. Sebagai respons terhadap era OTT, muncul sistem studio yang berfokus pada konten. Perusahaan seperti Studio Dragon, Studio S, dan SLL mengelola perencanaan, produksi, dan distribusi, sehingga memungkinkan penciptaan konten Korea yang dioptimalkan untuk platform global. Langkah kreator dinilai jadi lebih tersistematis. Sebagai gambaran, ada perbedaan output produk yang dipasarkan. Film berfokus pada narasi padat berdurasi 2–3 jam, dengan penekanan pada spektakel visual untuk layar besar. Sedangkan drama (K-Drama) berfokus pada format panjang, umumnya serial 16 episode, dirancang untuk kenyamanan menonton di rumah dan sering mengangkat tema universal yang mudah diterima.

Source: https://katadata.co.id/berita/internasional/695551172ac4a/pendekatan-korea-selatan-menjaga-industri-film-di-tengah-krisis