Remake Film Jadi Alat Diplomasi Budaya RI-Korea Selatan

Diplomasi budaya Korea Selatan di Indonesia berkembang lewat kolaborasi IP atau kekayaan intelektual dalam adaptasi film layar lebar.

Chief Marketing Officer CGV Indonesia, Ssun Kim dalam diskusi bertajuk Frames of Influence: Understanding the Korean Wave in Indonesia’s Film Landscape di Jakarta, 2 Desember 2025. Tempo/Jasmine

KOREA Selatan mendorong diplomasi budaya melalui adaptasi film ke versi Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, strategi itu berkembang melalui kolaborasi kekayaan intelektual atau intellectual property (IP). Pola ini terlihat dari adaptasi sejumlah film Korea ke versi Indonesia, seperti Sunny, Miracle in Cell No. 7, hingga Pawn.

Remake film, dalam praktiknya juga berbeda dari distribusi internasional biasa. Cerita tidak dikemas secara utuh, melainkan diadaptasi melalui penyesuaian emosi, humor, dan nilai kultural agar sesuai dengan pengalaman penonton lokal.

Kebijakan Perfilman Korea

Program Director for International Film di Busan Cinema Center, Chun Hye-Jin, mengatakan keberhasilan sinema Korea saat ini berakar dari kebijakan negara yang berpihak pada film lokal. “Karya-karya mereka menjadi inti dari keunggulan sinema Korea yang unik,” kata Chun, melalui konferensi video.

Pernyataan itu disampaikan dalam diskusi Frames of Influence: Understanding the Korean Wave in Indonesia’s Film Landscape di Jakarta, Selasa, 2 Desember 2025. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea yang digelar Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bersama Korea Foundation.

Keberpihakan negara terlihat sejak revisi Undang-Undang Promosi Film pada 1996 yang mewajibkan pemutaran film Korea selama 146 hari per tahun.

Meskipun kuota itu dipangkas menjadi 73 hari pada 2006, kebijakan tersebut membuka jalan bagi film lokal untuk menguasai pasar domestik.

Dampaknya, menurut Chun, perusahaan besar seperti CJ, Lotte, dan Showbox mulai berinvestasi besar, mendorong lahirnya film-film beranggaran tinggi seperti Shiri, Taegukgi, The Host, dan The Thieves.

Sistem Produksi Film Korea

Chun merinci, sejak 2000-an, sistem produksi film Korea juga berpusat pada sutradara.

Bong Joon-ho dikenal dengan satire sosial, Park Chan-wook dengan film balas dendam, dan Lee Chang-dong dengan realisme sastra.

Kehadiran layanan over the top (OTT) seperti Netflix kemudian memperluas jangkauan global film Korea, meski peran negara tetap berjalan, terutama setelah pandemi.

Pascapandemi, film Korea mencapai capaian baru di Indonesia melalui Exhuma (2024) yang meraih 2,6 juta penonton.

“Film Exhuma menjadi film yang sangat sukses di Indonesia. Bahkan, para wartawan dikirim ke sini untuk mengetahui mengapa bisa sampai sukses,” kata Chief Marketing Officer CGV Indonesia, Ssun Kim, dalam kesempatan yang sama.

Menurut Kim, keberhasilan itu dipengaruhi oleh kedekatan budaya. Exhuma menampilkan horor, mitologi, serta praktik penguburan yang beresonansi dengan budaya Indonesia.

Kim menambahkan, kolaborasi berbasis IP melalui remake menjadi bentuk diplomasi budaya yang lebih dalam. “Setiap negara memiliki kode humor dan sentuhan emosi sendiri-sendiri. Jadi, aspek-aspek itu menjadi pertimbangan dalam memperkenalkan film ke pasar lokal,” ujarnya.

Source: https://www.tempo.co/internasional/remake-film-jadi-alat-diplomasi-budaya-ri-korea-selatan-2103044