• Home
  • Services
  • Pages
    • About 1
    • About 2
    • About 3
    • About 4
    • Our Team
    • Contact 1
    • Contact 2
    • Service 1
    • Service 2
    • Service 3
  • Portfolio
    • Column One
      • Portfolio Classic
      • Portfolio Grid
      • Portfolio Grid Overlay
      • Portfolio 3D Overlay
      • Portfolio Contain
    • Column Two
      • Portfolio Masonry
      • Portfolio Masonry Grid
      • Portfolio Coverflow
      • Portfolio Timeline Horizon
      • Portfolio Timeline Vertical
    • Column Four
      • Single Portfolio 1
      • Single Portfolio 2
      • Single Portfolio 3
      • Single Portfolio 4
      • Single Portfolio 5
    • Column Three
      • Video Grid
      • Gallery Grid
      • Gallery Masonry
      • Gallery Justified
      • Gallery Fullscreen
  • Blog
    • Blog Grid No Space
    • Blog Grid
    • Blog Masonry
    • Blog Metro No Space
    • Blog Metro
    • Blog Classic
    • Blog List
    • Blog List Circle
  • Slider
    • Column One
      • Vertical Parallax Slider
      • Animated Frame Slider
      • 3D Room Slider
      • Velo Slider
      • Popout Slider
      • Mouse Driven Carousel
    • Column Two
      • Clip Path Slider
      • Split Slick Slider
      • Fullscreen Transition Slider
      • Flip Slider
      • Horizon Slider
      • Synchronized Carousel
    • Column Three
      • Multi Layouts Slider
      • Split Carousel Slider
      • Property Clip Slider
      • Slice Slider
      • Parallax Slider
      • Zoom Slider
    • Column Four
      • Animated Slider
      • Motion Reveal Slider
      • Fade up Slider
      • Image Carousel Slider
      • Glitch Slideshow
      • Slider with other contents
  • Shop

Blog Archives

2024  ·  Journalist Network 2024
Hallyu dan Kebebasan Berekspresi

Korean Wave atau Hallyu tak terelakkan. Bagaimana dengan Indonesian Wave?

Gelombang Korean Pop atau K-Pop tak tertahankan. Semua negara mendapati masuknya beragam produk hiburan asal Korea Selatan. Indonesia, apalagi. Hampir semua jenama populer menggunakan artis Korea sebagai model. BTS Army, sebutan untuk fans grup musik BTS, yang terbanyak pun berasal dari Indonesia.

Kandidat PhD Harvard University, Gangsim Eom, menceritakan keterpanaannya dengan pengenalan orang Indonesia pada K-Pop. Jangankan anak-anak sekolah atau mahasiswa, sopir taksi pun mengenal artis korea, drama korea, atau beberapa kata sederhana dalam bahasa korea.

Kalau Korean Wave (K-Wave) atau disebut juga Hallyu dimulai di Indonesia sekitar 2009 dengan konser musisi Rain, kata Gangsim Eom yang lebih akrab dipanggil Simi, sekarang semua artis K-Pop hampir pasti konser di Indonesia.

2024  ·  Journalist Network 2024
Indonesian Culture Shines in South Korea: Strengthening Ties Through Cultural Diplomacy

Festival Indonesia 2024 in Seoul (KBRI Seoul)

SEAToday.com, Jakarta – The Korean Wave, or K-Wave, has captivated global pop culture, making its mark worldwide. Yet, Indonesia’s rich cultural heritage is also gaining recognition abroad, especially in South Korea.

Gangsim Eom, a PhD candidate at Harvard University and a visiting researcher at Universitas Indonesia, highlights this growing cultural exchange. “It’s no longer one-sided. Indonesian culture is now influencing South Korea,” she said during a workshop in Jakarta hosted by the Korea Foundation and the Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI).

Since 2019, South Korea has celebrated Indonesian culture through festivals, cooking classes, and art performances. These efforts, Eom noted, signal Indonesia’s rising cultural influence in South Korea. Korean media and social platforms are increasingly featuring Indonesian elements, providing opportunities to strengthen bilateral ties through cultural diplomacy.

Social media plays a pivotal role in bridging these cultures. With Indonesians spending significant time online, Eom sees this as both a chance and a challenge to promote positive cultural content.

“The trust between our nations isn’t given; it’s earned,” she added. The mutual appreciation has also been shaped by the phenomenal global reach of K-Wave. Indonesia ranks third globally for K-pop streaming on Spotify, with four Indonesian cities among the top 17 in monthly listeners.

Eom traced K-Wave’s roots in Indonesia back to Rain’s 2009 Jakarta concert and SM Town’s 2012 tour, which solidified its popularity. The enthusiasm has since blended into daily life, even influencing local politics. Campaigns, such as Jakarta’s 2012 gubernatorial race, leveraged Korean pop culture to engage young voters.

South Korean public figures like Choi Si-won from Super Junior have also contributed to public diplomacy, strengthening ties beyond pop culture. Bilateral people-to-people connections, dating back to the 1980s through cultural exchange programs, continue to nurture this partnership.

Deputy for Digital Economy and Creative Products at Indonesia’s Ministry of Tourism and Creative Economy, Muhammad Neil El Himam, emphasized Indonesia’s rich cultural resources. “We have over 200 local languages and countless traditional arts. These are valuable assets for building a creative economy,” he said. However, challenges like intellectual property protection and market access remain hurdles.

Neil proposed a “hexahelix” collaboration model—uniting government, media, academia, communities, and businesses—to create a sustainable creative ecosystem. Currently, nearly 25 million Indonesians rely on the creative economy for their livelihoods, nearly double the figure a decade ago.

As South Korea’s Hallyu wave inspires, Neil believes Indonesia can replicate its success by showcasing its culture globally. “Korea’s achievements with K-pop, film, and cuisine can inspire us. There’s so much potential to unlock in our cultural wealth,” he concluded.

Sumber: https://lifestyle.seatoday.com/alvin-qobulsyah/11418/indonesian-culture-shines-in-south-korea-strengthening-ties-through-cultural-diplomacy

2024  ·  Journalist Network 2024
Peneliti: Orang Indonesia Lebih Mengenal Budaya Korea Selatan Dibanding Budaya Sendiri

53,5 persen orang Indonesia erasa Budaya Korea sudah tidak asing sama sekali bagi orang mereka.

Kandidat PhD dari Harvard University Gangsim Eom (memegang Mic) dan Deputi Ad Interim Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif, Muhammad Neil El Himam dalam workshop Indonesian Next Generation Journalist Network yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan Korea Foundation pada 9 Desember 2024/FPCI

TEMPO.CO, Jakarta – Kandidat PhD dari Harvard University Gangsim Eom mengatakan dalam penelitiannya ia menemukan bahwa ternyata orang Indonesia lebih mengenal budaya Korea Selatan dibanding dengan budaya Indonesia sendiri. “Saya cukup kaget juga dengan hasil survei ini. 53,5 persen orang Indonesia merasa Budaya Korea sudah tidak asing sama sekali bagi mereka,” katanya dalam workshop Indonesian Next Generation Journalist Network yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan Korea Foundation pada awal Desember 2024.

Sebaliknya, ketika ditanya, seberapa asing responden terhadap kebudayaan daerah yang lokasinya jauh dari daerah Anda di Indonesia dibanding dengan budaya Korea, hanya 15,8 persen responden yang menjawab tidak asing. Bahkan 27,2 persen responden menjawab cukup asing dengan Budaya Indonesia. “Ini sangat mengejutkan buat saya,” kata Gangsim Eom. 

Gangsim Eom mengakui saat di Indonesia, ia sudah merasa seperti berada di rumah sendiri. Budaya Korea Selatan semakin mudah diaksesnya. Ketika ke minimarket terdekat dari rumahnya, ia sudah banyak mendapatkan pilihan makanan Korea. Beberapa di antaranya adalah adalah tentang mi instan dari Korea. 

Lalu ada pula kios kios yang menawarkan berbagai makanan Korea. Dari mulai kios yang ditargetkan untuk masyarakat menengah ke bawah, hingga kios untuk masyarakat menengah ke atas. Ada yang menawarkan makanan Korea ala tenda, mudah pula mendapatkan makanan Korea di restoran di Indonesia.

Data pun mendukung kepopuleran Budaya Korea Selatan di Indonesia. Gangsim Eom menyebutkan terdapat 80,8 ribu penggemar BTS-grup band paling terkenal asal Korea Selatan-yang berasal dari Indonesia. Jumlah fans BTS mencapai 20 persen dari total penggemar BTS di seluruh dunia. Bahkan Indonesia menempati urutan pertama dengan jumlah fans BTS dari 100 negara di dunia.  

Bahkan brand Spotify pada akhir 2023 menyebutkan 4 dari 10 kota teratas pendengar terbanyak grup Band Korea Selatan Seventeen berasal dari Indonesia. Para pendengar grup band dari Korea Selatan itu berasal dari Jakarta sebanyak 500 ribu di urutan pertama, Bandung dengan 189 pendengar menempati urutan ke-5. Lalu ada 178 ribu pendengar band itu yang berasal dari Surabaya di urutan ke-6, serta 122 ribu penggemar dari Semarang yang berada di urutan ke-8. 

K-Pop memang semakin ‘mendarah daging’ di Indonesia. Terlihat semakin banyak tawaran konser-konser K-Pop di tanah air. Gangsin Eom mengatakan pertumbuhan konser Korea berawal dari konser penyanyi Rain pada 2009 di Jakarta. Sejak itu, semakin banyak artis Korea yang menggelar panggung mereka di Indonesia. Sebut saja, Blackpink, SM Town hingga TWICE. Panggung kreativitas itu belum ditambah dengan tawaran panggung fan meeting dari sejumlah aktor dan aktris Korea. 

Lalu K-wave pun semakin menguat hingga masuk ke dunia politik. Hal ini terlihat dari bagaimana para Calon Presiden Indonesia yang mengikuti Pemilihan Umum Presiden Februari lalu mengunggah berbagai konten media sosial tentang K-Pop. Salah satunya, bagaimana Ganjar Pranowo, calon presiden nomor urut 3, mengunggah salah seorang pendukungnya yang mengangkat poster yang ditulis dengan Hangul, alfabet Korea.

Bahkan di dunia ekonomi pun konten Korea Selatan semakin terasa. Misalnya terlihat dari semakin banyaknya brand Indonesia, yang menggunakan brand ambassador dari Korea Selatan. Sebut saja aktor Park Seo Jun yang mewakili laman belanja Blibli, ada pula penyanyi Baekhyun EXO yang menjadi wajah dari Allo Bank. Kemudian ada pula Girl Group Twice yang menjadi brand ambassador krim kecantikan Scarlett Whitening.

Deputi Ad Interim Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif, Muhammad Neil El Himam mengatakan Indonesia memiliki banyak sekali budaya yang bisa dipamerkan kepada dunia. “Kita punya 200 bahasa lokal dan tradisi budaya bernilai seni yang tidak terhingga. Semua itu, aset yang berharga untuk industri ekonomi kreatif,” katanya. 

Neil mengajak semua masyarakat ikut andil dalam mengembangkan industri ekonomi kreatif Indonesia. Menurutnya, mengembangkan industri kreatif membutuhkan tangan tidak hanya dari tim pemerintah, namun juga dari media, akademisi, komunitas, dan juga para pengusaha. Harapannya ada ekosistem yang pas untuk meningkatkan bidang ini. Menurut Neil, saat ini sekitar 25 juta masyarakat Indonesia yang bergantung pada industri kreatif. “Jumlah ini sudah dua kali lipat dibanding 10 tahun lalu,” lanjut Neil. 

Neil yakin, kesuksesan Gelombang Korea di Indonesia bisa dicontoh untuk mengembangkan industri kreativitas tanah air untuk dunia. “Prestasi Korea dengan K-Pop, film, dan juga kuliner berhasil menjadi inspirasi bagi kita semua. Kita pun punya banyak potensi untuk mengembangkan kebudayaan kita sendiri,” katanya. 

Sumber: https://www.tempo.co/gaya-hidup/peneliti-orang-indonesia-lebih-mengenal-budaya-korea-selatan-dibanding-budaya-sendiri-1187447

2024  ·  Journalist Network 2024
Belajar dari Korea Selatan yang Berhasil Memaksimalkan Diplomasi Budaya untuk Kepentingan Nasional

Sejumlah penggemar grup K-Pop Neo Culture Technology 127 berswafoto sebelum konser berlangsung di kawasan Indonesia Arena, Jakarta,( ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/nym.)

MASYARAKAT Indonesia kini familiar dengan keberadaan musik K-pop, kuliner khas Korea Selatan seperti kimchi, ramyeon, tteok-bokki, film, drama, hingga pakaian adat Korea Selatan. Bintang Korea Selatan juga mulai mewarnai layer kaca Indonesia sebagai duta dari berbagai macam produk. Korea Selatan dikenal luas melalui femonema Hallyu atau Korean-Wave yang digunakan negara tersebut dalam hubungan bilateral dengan negara lain termasuk Indonesia. 

“Yang mengarah pada meningkatnya kepercayaan pada Korea dari masyarakat Indonesia menunjukkan respons positif,” ujar Kandidat PhD dari Univeritas Harvard yang juga visiting scholar di Universitas Indonesia Gangsim Eom saat seminar bertajuk “Building Stronger Ties: Indonesia -Korea Collaboration Through People to People Connection” yang oleh Korea Foundation dan Indonesia Next Generation Journalists Network, di Jakarta, kemarin.

Melalui pertukaran budaya sebagai bagian dari pendekatan soft diplomacy, negeri Ginseng membangun citra positif untuk melancarkan kerja sama dan tujuan nasionalnya. Mengutip sejumlah data,  pada 2022, musik industri Korea Selatan berkontribusi pada pemasukan negara lebih dari KWR11 miliar atau Rp112 triliun. Peningkatan pendapatan negara dampak dari K-wave juga dirasakan pada sektor ekspor dengan nilai kontribusi sebesar US14,2 juta atau Rp227 miliar.

Dengan Indonesia, Korea Selatan menjalin hubungan kemitraan strategis sejak 2006. Korea Selatan dan Indonesia saling melengkapi di mana keduanya berpotensi untuk saling mengisi satu sama lain. Indonesia memerlukan modal/investasi dan teknologi Sementara Korea Selatan sebagai negara industri, memerlukan berbagai sumber daya, termasuk sumber daya alam dan tenaga kerja. Data dari Kementerian Perdagangan RI menyebutkan nilai perdagangan Indonesia-Korea Selatan pada Januari-Juli 2022 sebesar USD 14,03 miliar. Pada periode tersebut, ekspor Indonesia ke Korea Selatan sebesar USD 7,27 miliar dan impornya USD 6,77 miliar. Sementara pada 2021, total nilai perdagangan kedua negara sebesar USD 18,41 miliar. Pada tahun tersebur, nilai ekspor Indonesia ke Korea Selatan mencapai USD 8,9 miliar dan impornya USD 9,4 miliar.

Eom menyampaikan untuk membuat pengaruh K-wave seperti sekarang bukan perjalanan singkat. Dimulai pada tahun 1990-an, Presiden Korea Selatan saat itu Kim Dae Jun melihat bahwa negaranya terjebak antar dua kekuatan besar yang mendominsasi yakni Cina dan Rusia. 

“Kami tidak punya banyak sumber daya alam seperti Indonesia, jadi kami memaksimalkan modal sumber daya manusia yang dimiliki, kita butuh kultur hegemoni yang mana bisa menjadi nilai penting bagi pemerintah mempromosikan negara dan mengambil hati masyarakat global itu perhatian utama Korea,” papar Eom. 

Untuk mewujudkannya, presiden membuat institusi pemerintah antara lain  Korea Creative Content Agency (KOCCA) untuk memaksimalkan industri kreatif. Dukungan lainnya tentu, ujar Eom, anggaran yang juga krusial.

“Butuh bertahun-tahun untuk melihat hasilnya. Kami juga pernah mengalami kemunduran seperti anti-Korean Wave yang terjadi di Cina dan Jepang. Kami harus meningkatkan sensitivitas budaya untuk berkomunikasi pada masyarakat global,” ungkapnya.

Selain komitmen dari pemerintah, ketelibatan interaksi people to people exchange semakin memperluas budaya antara Korea Selatan dan Indonesia. Kebudayaan Korea Selatan diperkenalkan oleh disapora Korea Selatan di Indonesia yang melibatkan sukarelawan, akademisi yang belajar di Indonesia, dan pekerja muda. Perkembangan media sosial danperan pemengaruh media sosial yang menciptakan digital publik diplomasi misalnya lewat konten-konten yang mereka buat.

“Tidak hanya hubungan people to people tetapi ada kerja sama seperti bantuan kemanusiaan. Ini semua membuka komunikasi antar dua negara,” ucap Eom.

Pentingnya hak kekayaan intelektual

Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kementerian Ekonomi Kreatif Muhammad Neil El Himam menyampaikan Korea Selatan dapat memaksimalkan intellectual property (IP) atau hak kekayaan intelektual untuk menyumbang pendapatan bagi negara. Sayangnya, ujar Neil, di Indonesia hal itu belum sepenuhnya dijalankan. 

Mengutip survei terkait ekonomi kreatif berdasarkan IP pada 2020, Neil menyebut pelaku ekonomi kreatif yang punya IP tercatat kurang dari 10%. Sedangkan pelaku ekonomi kreatif yang paham pentingnya IP kurang dari 30%.  

“Padahal kita tahu perusahaan besar seperti Google, Meta, Facebook dan lain-lain based-nya IP,” ucap Neil.

Indonesia, menurutnya punya peluang maksimalkan IP sebagai aset dan mengomersialisasikannya, tentunya dengan memanfaatkan perkembangan dunia digital dan teknologi. Neil menyebut karya fotografi misalnya, dengan memanfaatkan teknologi blockchain, fotografer kini dapat menjual foto-foto mereka sebagai Non-Fungible Token ( NFT).

Di industri musik, dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia, ada aturan terkait masalah pemungutan royalti, Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) sebagai institusi yang berbentuk badan hukum nirlaba diberi kuasa oleh pencipta, pemegang Hak Cipta, dan/atau pemilik Hak Terkait guna mengelola hak ekonominya dalam bentuk menghimpun dan mendistribusikan royalti. Namun, itu belum maksimal dilakukan. Neil menuturkan Indonesia dapat mencontoh Korea Selatan yang mempunyai beberapa manajemen kolektif untuk mengelola hak ekonomi dan pemasukan dari royalti karya musik yang sangat besar.

“Mereka bisa melakukan itu karena ekonomi kreatifnya sudah mulai jalan. Jadi pencipta lagu bisa mendapat keuntungan dari produk mereka melalui royalti,” ucap Neil.  (H-3)

Sumber: https://mediaindonesia.com/humaniora/726400/belajar-dari-korea-selatan-yang-berhasil-memaksimalkan-diplomasi-budaya-untuk-kepentingan-nasional

2024  ·  Journalist Network 2024
Promosi Budaya Buka Peluang Indonesia Tingkatkan Ekonomi Kreatif

Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Muhammad Neil El Himam.(https://kemenparekraf.go.id/)

INDUSTRI ekonomi kreatif menjadi inovasi baru bagi suatu negara untuk menjual kebudayaannya. Indonesia memiliki potensi untuk meningkatkan ekonomi kreatif melalui pertukaran dan diplomasi budaya. Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Muhammad Neil El Himam mengatakan banyak budaya dan produk kekayaan intelektual yang bisa dimanfaatkan untuk nilai tambah seperti film, bahasa lokal, hingga makanan khas Indonesia.

“Bagaimana mengkomersialisasikan semua itu. Kita kaya akan budaya, misalnya dari bahasa kita punya lebih dari 200 lebih bahasa daerah dan itu aset. Semua negara punya potensi untuk menciptakan ekonomi kreatif dari budaya mereka misalnya bahasa Jawa, Campur Sari yang cukup besar pasarnya,” ujar dalam seminar bertajuk “ Building Stronger Ties : Indonesia -Korea Collaboration Through People to People Connection” yang oleh Korea Foundation dan Indonesian Next Generation Journalists Network, di Jakarta, kemarin.

Namun, diakui Neil, bahwa sektor ekonomi kreatif masih tergolong baru di Indonesia. Ia mengatakan sejumlah tantangan yang dihadapi seperti perlindungan kekayaan intelektual, akses pendanaan dan modal, kemampuan teknologi dan akses pasar serta jaringan ekosistem yang mendukung. Menurutnya untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan perlu adanya kerja sama hetahelix, kolaborasi antara pemerintah, media, akademik dan riset, komunitas, juga pihak bisnis.

“Dari sektor ini (ekonomi kreatif) ada Rp24,5 juta orang menggantungkan hidup mereka. Jumlahnya dua kali lipat jika dibandingkan 10 tahun lalu hanya 10 juta orang,” imbuh dia.
Masuknya Korean Wave atau Hallyu ke Indonesia dinilai dapat menciptakan peluang  melalui kolaborasi. Korean Wave tidak hanya memberikan keuntungan bagi Korea Selatan namun juga memberikan keuntungan bagi Indonesia. Menurut Neil, Korea Selatan sukses memperkenalkan budaya mulai dari K-pop, music, film, hingga makanan mereka. Indonesia bisa mencontoh hal itu.

“Segala sesuatu berasal dari lidah. Kalau dari makanan, Korea punya makanan gara-gara Hallyu bisa masuk ke Indonesia. Sekarang hamper semua ada restoran Korea,. Kita harus mulai dari sana. Banyak diaspora Indonesia di sana (Korea Selatan),” ucapnya. 

Pada kesempatan yang sama Visiting Scholar Universitas Indonesia Gangsim Eom yang juga kandidat PhD dari Harvard University menyebut interaksi people to people membuka komunikasi dan pertukaran budaya yang erat antara Indonesia dan Korea Selatan. 

“Peningkatan Indonesia Wave di Korea, dengan diadakannya sejumlah festival Indonesia. Awalnya di masa lalu hanya terkait politik seperti festival negara-negara ASEAN sekarang mereka tahu Indonesia,” ucap Eom.

Ia juga mengatakan peran penting dari media sosial yang menciptakan digital publik diplomasi. Di Indonesia ada Korea Creative Content Agency (KOCCA), Korean Culture Center, Kedutaan Besar Korea yang mendukung para pembuat konten atau content creators untuk terlibat dan ambil bagian dalam mempromosikan budaya masing-masing.Menurutnya Indonesia sebagai negara multikultur punya modal itu membuat budaya lokal menjadi terkenal di pasar global.

“Indonesia sebagai negara multikultur, Bhineka Tunggal Ika jadi moto nasional. Itu modal yang penting membuat budaya lokal menarik bagi masyarakat global.. Lingua Franca adalah Inggris, jadi penting adanya strategi bagaimana mentransfer informasi pada publik lebih luas,” tuturnya.

Oem menekankan pentingnya dukungan pemerintah seperti pentingnya kebebasan berekspresi sehingga industri kreatif bisa maju. 

“Censorship bisa jadi sangat menjadi berbahaya bagi industri kreatif,” tukasnya. (S-1)

Sumber: https://mediaindonesia.com/humaniora/725071/promosi-budaya-buka-peluang-indonesia-tingkatkan-ekonomi-kreatif

2024  ·  Journalist Network 2024
K-Wave Mendunia, Ini Rahasia Kesuksesan Korea Selatan yang Bisa Dipelajari Indonesia

Grup K-pop Korea Selatan, STAYC, tampil dalam konser K-pop sebagai bagian dari Seoul Festa 2023, di stadion Jamsil di Seoul, pada 30 April 2023. (ANTHONY WALLACE/AFP)

Liputan6.com, Jakarta – Korea Selatan (Korsel) telah lama dikenal sebagai salah satu negara yang berhasil memanfaatkan soft power untuk memperkuat posisinya di dunia internasional.

Dalam sebuah sesi workshop bersama para jurnalis peserta Indonesia Korea Journalist Network (IKJN) yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan Korea Foundation, Gangsim Eom, Kandidat PhD dari Universitas Harvard dan Visiting Scholar di Universitas Indonesia, membagikan wawasan berharga tentang bagaimana Korea Selatan merancang strategi soft power–nya sejak dekade 1990-an.

Menurut Eom, fondasi soft power Korea Selatan diletakkan pada masa kepemimpinan Presiden Kim Dae-jung. Saat itu, Korea berada di tengah tekanan geopolitik antara negara-negara besar seperti China, Jepang, dan Amerika Serikat.

Sadar bahwa Korsel memiliki keterbatasan sumber daya alam dibandingkan negara-negara seperti Indonesia, Kim Dae-jung menekankan pentingnya pengembangan kapital manusia dan soft power.

“Presiden Kim Dae-jung percaya bahwa masa depan bukan lagi tentang paksaan dan perang, tetapi tentang dominasi budaya yang menciptakan konsensus otomatis,” ujar Eom kepada jurnalis peserta workshop di Hotel Le Meridien, Jakarta, Senin (9/12/2024). 

Konsep ini merujuk pada cultural hegemony— kemampuan suatu negara untuk mendapatkan dukungan global melalui nilai-nilai positif yang diusung pemerintahnya.

Untuk mencapai tujuan ini, pemerintah Korea Selatan membentuk berbagai institusi, mengalokasikan anggaran besar, dan terus mendukung kebebasan berekspresi.

Menurut Eom, kebebasan berekspresi adalah elemen penting untuk mendorong kreativitas dalam industri budaya. Tanpa itu, pencapaian K-wave yang mendunia tidak mungkin terwujud.

Potensi Besar Indonesia
Eom juga melihat potensi besar yang dimiliki Indonesia.

Sebagai negara yang dibangun di atas keberagaman, Indonesia memiliki peluang untuk membuat budayanya relevan di tingkat global. Namun, tantangan utamanya adalah menjadikan budaya lokal dapat diterjemahkan secara efektif untuk audiens internasional.

“Mungkin alih-alih hanya menargetkan negara-negara Asia lainnya, Indonesia bisa langsung menyasar pasar global, seperti Amerika Serikat,” saran Eom.

Dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai lingua franca, budaya Indonesia bisa lebih mudah menjangkau audiens yang lebih luas.

Hal ini juga diperkuat dengan kebutuhan untuk memanfaatkan teknologi digital seperti kecerdasan buatan, metaverse, dan alat digital lainnya.

Program pelatihan digital untuk generasi muda di Asia Tenggara, seperti yang diusulkan Eom, dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan literasi digital sekaligus mempersiapkan mereka memasarkan budaya mereka sendiri ke dunia.

Tantangan K-Wave
Meski sukses dengan K-wave, Korsel Selatan tidak luput dari tantangan internal. Eom mengungkapkan bahwa sejarah panjang penjajahan dan perang telah membuat Korsel cenderung terisolasi, dengan sedikit interaksi people-to-people lintas perbatasan.

Selain itu, krisis demografi—dengan tingkat kelahiran terendah di dunia dan tingkat bunuh diri tertinggi—juga menjadi perhatian utama masyarakat Korsel.

Namun, tantangan ini memberikan pelajaran penting tentang bagaimana membangun soft power meski dalam keterbatasan. Korsel berhasil menggunakan teknologi digital dan transparansi pemerintah untuk mendukung konten budaya yang kini tersebar luas di platform seperti Instagram dan TikTok.

Salah satu ide utama yang diusulkan Eom adalah menciptakan program pelatihan diplomasi digital untuk pemuda Asia Tenggara. Melalui program ini, pemuda dari negara-negara seperti Indonesia dapat belajar dari pengalaman Korsel, memanfaatkan data budaya, dan mengembangkan konten lokal yang menarik bagi audiens global.

Eom percaya bahwa interaksi langsung antara pemuda Asia Tenggara dan masyarakat Korsel Selatan dapat menciptakan efek domino positif.

Sumber: https://www.liputan6.com/global/read/5830589/k-wave-mendunia-ini-rahasia-kesuksesan-korea-selatan-yang-bisa-dipelajari-indonesia

2024  ·  Journalist Network 2024
Jejak Indonesia di Tengah Gelombang K-Wave yang Mendunia

Indonesia merupakan salah satu negara dengan penggemar budaya K-pop paling masif di dunia.

Konser girl group asal Korea Selatan, Blackpink, sukses menggelar konser “Born Pink World Tour” di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, selama dua hari yaitu 11-12 Maret 2023. (FOTO: YG Entertainment )

Liputan6.com, Jakarta – K-wave, atau gelombang budaya Korea, telah menjadi fenomena global yang tak terelakkan.

Dari musik hingga drama, budaya pop Korea terus mendominasi panggung dunia. Namun, siapa sangka bahwa di balik popularitas global ini, Indonesia memainkan peran signifikan?

Menurut Gangsim Eom, kandidat PhD di Harvard University sekaligus peneliti tamu di Universitas Indonesia, Indonesia adalah salah satu negara dengan kontribusi terbesar dalam mendukung popularitas K-wave.

Data Spotify 2023 menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat ketiga untuk jumlah streaming artis K-pop di dunia, hanya di bawah Jepang dan Amerika Serikat. Bahkan, empat kota di Indonesia termasuk dalam 17 besar kota dengan pendengar Spotify bulanan terbanyak.

“Indonesia adalah salah satu kekuatan utama di balik kesuksesan global K-wave,” ujar Eom dalam sesi workshop bersama jurnalis peserta Indonesia Korea Journalist Network (IKJN) yang diselenggarakan oleh FPCI dan Korea Foundation di Hotel Le Meridien, Jakarta, Senin (9/12/2024). 

Jejak K-wave di Indonesia dimulai pada 2009 melalui konser tur Asia Rain di Jakarta. Popularitas ini semakin meningkat setelah konser SM Town World Tour pada 2012. Eom, yang pernah bekerja sebagai penerjemah dalam konser tersebut, menyaksikan langsung dedikasi para artis Korea yang terus menginspirasi penggemar Indonesia.

“Seorang sopir Grab bahkan pernah bercerita bagaimana konser Blackpink menyebabkan kemacetan total di Jakarta,” kata Eom. Hal ini menunjukkan bahwa K-wave telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, tidak hanya terbatas pada kalangan penggemar.

Alat Diplomasi Budaya dan Politik

Siwon juga berfoto dengan Sandiaga Uno selaku Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Siwon terlihat mengenakan bros dan saput tangan baby bluenya. [@sandiuno]

-wave juga digunakan sebagai alat dalam diplomasi budaya dan politik di Indonesia.

Eom menjelaskan bahwa fenomena “politik fandom” mulai terlihat sejak kampanye Gubernur Jakarta pada 2012, ketika lagu Gangnam Style dipopulerkan.

Dalam beberapa tahun terakhir, figur politik Indonesia mulai menggunakan elemen budaya Korea untuk mendekati pemilih muda, seperti Ganjar Pranowo yang mengutip ungkapan bahasa Korea dalam kampanyenya.

Selain itu, figur K-wave seperti Choi Si-won dari Super Junior turut aktif dalam diplomasi publik, memperkuat hubungan antara kedua negara.

Hubungan Antar Masyarakat
Lebih dari sekadar budaya pop, hubungan Indonesia dan Korea Selatan juga ditopang oleh diplomasi antarwarga yang sudah berlangsung lama.

Sejak 1980-an, berbagai program pertukaran budaya, mulai dari kerja sama pendidikan hingga perayaan hari kemerdekaan bersama, telah mempererat hubungan kedua negara.

“Keberhasilan hubungan ini tak lepas dari kerja keras para sukarelawan, baik anak muda maupun ibu rumah tangga, yang menyatukan kedua budaya,” ungkap Eom. Salah satu contohnya adalah berdirinya Program Studi Korea di Universitas Indonesia yang didukung oleh komunitas Korea di Indonesia.

Tidak hanya budaya Korea yang memengaruhi Indonesia, fenomena sebaliknya juga mulai berkembang. Sejak 2019, Korea Selatan secara khusus merayakan budaya Indonesia melalui festival budaya, kelas memasak, dan pertunjukan seni. Acara-acara seperti ini menunjukkan bahwa budaya Indonesia kini memiliki pengaruh yang signifikan di Korea Selatan.

Bahkan, media Korea mulai menampilkan elemen budaya Indonesia, seperti tayangan Myunsikdang yang mengeksplorasi kuliner Indonesia. Menurut Eom, ini adalah peluang besar untuk mempererat hubungan bilateral melalui diplomasi budaya.

Pengaruh Media Sosial
Media sosial juga menjadi jembatan penting dalam hubungan Indonesia-Korea.

Dengan waktu penggunaan media sosial harian yang tinggi, Indonesia menjadi pasar strategis untuk kampanye K-wave. Namun, potensi ini juga menghadirkan tantangan, seperti bagaimana memastikan konten budaya yang positif dan membangun mendominasi lanskap digital.

K-wave telah membawa perubahan besar dalam interaksi budaya antara Indonesia dan Korea Selatan. Hubungan ini, yang didukung oleh diplomasi antarwarga, media sosial, dan pengaruh budaya, memiliki potensi untuk berkembang lebih jauh.

“Kepercayaan itu tidak diberikan, melainkan diperoleh,” ujar Eom, menekankan pentingnya kerja keras dalam membangun hubungan yang lebih erat di masa depan.

Sumber: https://www.liputan6.com/global/read/5828203/jejak-indonesia-di-tengah-gelombang-k-wave-yang-mendunia

2024  ·  Journalist Network 2024
Peneliti Korsel Beber Indonesia Wave Bisa Guncang Dunia bak Hallyu

Ilustrasi The Korean Wave atau Hallyu. (REUTERS/TOM NICHOLSON)

Jakarta, CNN Indonesia — Peneliti fan K-pop dari Korea Selatan Gangsim Eom mengatakan Indonesian Wave atau gelombang Indonesia berpotensi mendunia bak Korean Wave (hallyu).
Simmi sapaanGangsim meneliti gelombang Korea di Indonesia hingga pandangan mereka soal Negeri Ginseng secara umum.

“Saya juga melihat Indonesia memiliki potensi yang sangat besar, potensial. Ini adalah negara yang dibangun atas keberagaman, Bhinneka Tunggal Ika, semboyan nasional,” kata Simmi dalam sebuah diskusi di Hotel Meridien, Jakarta Pusat, Senin (9/12).

Pernyataan Simmi muncul dalam acara diskusi yang digelar Foreign Policy of Community Indonesia (FPCI) dan Korea Foundation (KF). Diskusi ini merupakan bagian dari program Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea 2024.

Simmi menilai hal yang penting untuk pasar budaya populer adalah menjadikan budaya lokal Indonesia diterjemahkan ke khalayak global, bukan cuma ke negara-negara Asia lain.

Di kesempatan itu, peneliti yang sedang menempuh pendidikan doktor di Universitas Oxford, juga membeberkan perjalanan Korean Wave yang tak terjadi dalam satu malam.

Simmi bercerita Korean Wave merupakan “proyek raksasa” Korsel yang dimulai sejak 1990-an.

Saat itu, Korsel di bawah pemerintahan Kim Dae Jung, berusaha melawan hegemoni negara tetangganya seperti China dan Jepang serta dominasi Amerika Serikat.

“Dia menekankan sumber daya manusia dan soft power [melalui industri budaya]. Kita perlu memiliki hegemoni budaya,” ungkap Simmi.

Perfilman Korsel, lanjut dia, bisa membuat konten bagus karena nilai-nilai yang dipromosikan sesuai dengan pemerintah.

Pemerintah juga harus bisa menunjukkan nilai-nilai tersebut di kancah global.

“Dengan demikian, Anda mendapat hati orang-orang, Anda tak memaksa mereka,” ujar Simmi.

Untuk mewujudkan itu, kata dia, memang perlu dukungan, konsistensi, serta anggaran dari pemerintah.

Hallyu memperoleh popularitas di sejumlah negara Asia pada pertengahan 1990-an.

Pada 1997, drama TV berjudul What Is Love tayang di China. Serial ini menduduki peringkat kedua dalam video impor China sepanjang masa. Dari sini, istilah Hallyu muncul.

Gelombang Korea kemudian mendarat di Jepang pada 2003 saat drama berjudul Winter Sonata tayang melalui NHK.

Lalu pada pertengahan 2000-an hingga awal 2010-an, penyebaran Gelombang Korea didominasi boy group dan girl group Korea seperti Big Bang, Girls’ Generation, dan Kara.

Selama periode ini, Gelombang Korea memperluas basis penggemar ke panggung global, termasuk Amerika Serikat, Amerika Latin, hingga dan Timur Tengah.

Seiring berjalannya waktu, gelombang Korea terus meluas dan mempengaruhi sektor lain seperti budaya, makanan, sastra, dan bahasa tradisional Korea, yang turut disukai penggemar.

Di Indonesia dampak Korean Wave juga terlihat dengan kemunculan banyak restoran Korea dan penggemar K-Pop.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20241213205536-106-1177227/peneliti-korsel-beber-indonesia-wave-bisa-guncang-dunia-bak-hallyu

2024  ·  Journalist Network 2024
Kejar 8 Persen Pertumbuhan Ekonomi, RI Bidik Sektor Riset sebagai Magnet Investasi

Diskusi seputar hubungan Indonesia-Korea yang digelar Korea Foundation dan FPCI berlangsung di Jakarta, 9 Desember 2024. (Akhmad Fauzy / Metro TV)

Jakarta: Sektor riset dan sains ASEAN tengah mengalami momentum emas sebagai tujuan investasi global. Laporan terbaru ASEAN Investment Report 2024 mengungkap, dari lima sektor investasi unggulan hanya sektor riset dan sains yang menunjukkan lonjakan signifikan, dengan pertumbuhan mencapai 6.515 persen dalam periode 2022-2023.

Angka ini menunjukkan daya tarik besar kawasan ASEAN bagi investor yang ingin mendanai inovasi dan pengembangan teknologi.

Meski investasi asing di bidang riset masih terkonsentrasi di Singapura, Indonesia memiliki peluang besar untuk ikut bersaing, terutama dengan memanfaatkan keunggulan demografi dan potensi ekonominya.

Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi & Hilirisasi/BKPM, Nurul Ichwan mengatakan, pemerintah memberi kemudahan bagi ilmuan di tiap universitas dan lembaga penelitian eksisting untuk mematenkan hasil risetnya. Hal ini bertujuan agar riset di bidang STEM (Sains, Teknologi, Engineering dan Matematika) dapat diadopsi oleh industri.

“Pemerintah memberikan peluang untuk mempercepat proses paten bagi mereka. Setelah itu, kami akan membantu memperkenalkan hasil inovasi ini ke industri, tidak selalu ke korporasi besar, tetapi juga ke UMKM. Teknologi ini diharapkan bisa membantu UMKM meningkatkan skala, produktivitas, dan kualitas mereka sehingga dapat bersaing di pasar,” tutur Nurul Ichwan

‘Insentif Royal’ ke Sektor Riset

Potensi ini pun mendorong Indonesia mengeksplorasi investasi sektor sains dan riset sebagai katalis pertumbuhan ekonomi. Namun untuk mengoptimalkan peluang ini, Indonesia masih dihadapkan dengan tantangan sumber daya manusia terampil di bidang STEM.

Profesor Riset Young-Kyung Ko dari Yonsei University berpendapat, Pemerintah Indonesia harus memberi insentif besar untuk pengembangan riset oleh kampus, BUMN hingga perusahaan swasta.

“Saya percaya bahwa pemerintah Indonesia memiliki rencana jangka panjang untuk meningkatkan sektor R&D. Ini hanya masalah kemauan dan waktu,” ujar Ko dalam sesi diskusi Indonesia 8?onomic Growth Target: How to Attract More Korean FDI? yang digelar Korea Foundation dan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Jakarta, 9 Desember 2024.

“Untuk mendorong hal ini, pemerintah dapat mengatur insentif pajak atau manfaat lain bagi sektor swasta dan universitas, serta mengalokasikan anggaran negara untuk beasiswa agar mahasiswa Indonesia dapat belajar di luar negeri dan kembali dengan kontribusi positif atau bahkan menciptakan lapangan kerja baru di industri sains dan teknologi,” sambungnya.

Ko juga menyoroti bagaimana Korea Selatan, dengan sumber daya alam yang terbatas, berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi melalui investasi besar di sektor sains dan riset.

“Anggaran nasional untuk R&D selalu meningkat bahkan ketika Korea menghadapi krisis ekonomi. Setiap grup bisnis besar di Korea memiliki pusat penelitian mereka sendiri. Hal ini terjadi karena mereka menyadari manfaat dari insentif pajak dan dukungan pemerintah, serta keuntungan inovasi yang dihasilkan untuk bisnis mereka sendiri,” jelas Ko.

Hingga tahun 2023 terdapat dua perusahaan asing yang menggelontorkan dana investasi bidang riset dan sains di Indonesia. Mereka adalah Kerry Group (Irlandia) yang fokus dalam pengembangan riset pangan, dan LG Electronics (Korea) dalam pemutakhiran inovasi perangkat elektronik, seperti teknologi hemat energi dan perangkat pintar.

Sumber: https://www.metrotvnews.com/read/kewCaJ0D-kejar-8-persen-pertumbuhan-ekonomi-ri-bidik-sektor-riset-sebagai-magnet-investasi

2024  ·  Journalist Network 2024
Vietnam dan Ketidakpastian Regulasi Jadi Tantangan Investasi RI

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi RI. (SHUTTERSTOCK)

JAKARTA, KOMPAS.com – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 8 persen dalam lima tahun masa pemerintahannya. Kendati demikian, target ini akan menghadapi berbagai tantangan, salah satunya Vietnam yang kini menjadi daya tarik bagi investor. “Mencapai pertumbuhan ambisius 8 persen ini akan menghadapi tantangan secara langsung, mungkin dengan Vietnam untuk investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI), kata Dr. Ko Young-Kyung, Researcher Professor of ASEAN Center, Asiatic Research Institute, Korea University.


Dalam workshop Indonesian Next Generation Journalist Network yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bekerja sama dengan Korea Foundation di Jakarta, awal Desember lalu, Ko Young-Kyung menjelaskan Vietnam diproyeksi menjadi negara dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan tertinggi di Asia Tenggara dalam satu dekade ke depan. Menurut laporan Angsana Council, Bain & Company, dan DBS Bank berjudul ‘Navigating High Winds: Southeast Asia Outlook 2024 – 34’, PDB Vietnam diproyeksi akan tumbuh 6,6 persen dalam 10 tahun mendatang.

Sementara Indonesia, ada di peringkat ketiga dengan estimasi pertumbuhan 5,7 persen untuk periode yang sama, tepat berada di bawah Filipina dengan prediksi pertumbuhan 6,1 persen.

Proyeksi pertumbuhan PDB negara-negara di Asia Tenggara tahun 2024-2034 berdasarkan laporan dari Angsana Council, Bain & Company, dan DBS Bank. (Angsana Council, Bain & Company, dan DBS Bank. )

Ekonomi Vietnam yang berorientasi pada ekspor, dinilai memiliki posisi strategis bagi perusahaan yang menangkap peluang “China+1”, yakni perusahaan yang ingin mengurangi ketergantungan pada China. Baca juga: Beda dari RI, Vietnam Malah Turunkan PPN dari 10 Persen ke 8 Persen Mereka mengalihkan atau melakukan diversifikasi operasional dengan membuka sebagian produksi atau investasi ke negara lain di luar China. Ekosistem domestik juga mendorong pesaingan antar-provinsi yang sehat dan menumbuhkan tenaga kerja yang kuat. Menurut laporan Bain & Company, kombinasi tersebut membuat Vietnam menjadi daya tarik baru bagi investor asing yang kemudian mampu menggenjot ekonomi negara tersebut. Meskipun Indonesia berada di bawah Vietnam, namun dinilai masih memiliki potensi kuat. Sebab, Indonesia masih memiliki sumber daya, populasi, dan tenaga kerja yang terus bertambah, serta ekosistem kewirausahaan dan inovasi yang berkembang pesat.

Hanya saja, laporan ini menyebut Indonesia perlu meningkatkan Market Value Added (MVA), agar tidak sekadar mengandalkan komoditas, namun juga berupaya menjaga ekonomi tetap terbuka dan kompetitif.

Ketidakpastian kebijakan jadi ganjalan
Ko Young-Kyung menjelaskan ada beberapa tantangan yang perlu dicari jalan keluarnya agar investasi langsung asing ke Indonesia terus mengalir, terutama dari investor Korea Selatan. Tantangan pertama adalah regulasi dan ketidakpastian kebijakan dari pemerintah Indonesia. “(Contoh ketidakpastian) Hyundai Motors harus menghadapi perubahan regulasi soal penetapan TKDN yang semula 40 persen, kini naik jadi 60 persen,” kata Ko Young-Kyung.

Ia melanjutkan, pabrikan mobil listrik ini juga harus menghadapi kebijakan yang terus berubah. Salah satunya soal insentif yang dinilai menguntungkan investor China.   Ko YoungKyung tidak merinci insentif apa yang dimaksud. Akan tetapi, tahun ini, pemerintah memang memberikan insentif untuk mobil listrik CBU (Completely Build Up/mobil yang diimpor dalam kondisi sudah siap pakai) dan CKD (completely Knock Down/mobil yang diimpor dalam bentuk komponen dan dirakit di Indonesia). Sebelumnya, insentif hanya bisa didapatkan oleh pabrikan mobil listrik yang memproduksi unitnya di dalam negeri dengan TKDN minimal 40 persen, seperti yang sudah dilakukan Hyundai, pabrikan kendaraan listrik asal Korea Selatan. Nah, perubahan aturan ini dinilai membuka keran pabrikan lain, terutama asal China untuk mengimpor unit mereka di Indonesia tanpa harus membangun fasilitas terlebih dahulu untuk memenuhi TKDN, seperti yang dilakukan Hyundai.

Sumber: https://money.kompas.com/read/2024/12/13/130925226/vietnam-dan-ketidakpastian-regulasi-jadi-tantangan-investasi-ri?page=all#google_vignette

« First‹ Previous34567891011Next ›Last »
Page 7 of 25

Youtube
Twitter
Facebook
Instagram
Copyright 2021 - www.indonesia-koreajournalist.net